"Itu Bentuk Perundungan" – Pemain Kecam Perlakuan FC Twente terhadap Mees Hilgers

Dunia olahraga tengah memanas hari ini. Terkait "Itu Bentuk Perundungan" – Pemain Kecam Perlakuan FC Twente terhadap Mees Hilgers, para suporter tentu sudah menanti kepastian beritanya. Simak informasi terbarunya.
Featured Image

Situasi Mees Hilgers di FC Twente yang Menimbulkan Kekhawatiran

Pemain belakang Timnas Indonesia, Mees Hilgers, kini menghadapi situasi yang memicu perhatian dari asosiasi pesepakbola profesional Belanda (VVCS). Direktur VVCS, Louis Everard, mengecam sikap klub FC Twente terhadap Hilgers. Ia menyebut tindakan klub sebagai bentuk perundungan yang melibatkan penyalahgunaan wewenang.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Hilgers, yang kontraknya akan berakhir pada akhir musim ini, telah menyatakan keinginannya untuk meninggalkan klub. Namun, upaya tersebut tidak berhasil hingga sebagian besar bursa transfer Eropa ditutup. Akibatnya, kesempatan Hilgers untuk tampil bersama Twente pun hilang. Manajemen klub memberikan ultimatum: perbarui kontrak atau tidak akan bermain sama sekali.

Penjelasan Louis Everard

Everard menegaskan bahwa tindakan Twente terhadap Hilgers merupakan bentuk perundungan yang tidak dapat dimaafkan. Ia menyatakan bahwa klub telah secara terbuka mengakui bahwa Hilgers hanya akan bermain jika kontraknya diperbarui. Hal ini menurutnya merupakan bentuk penyalahgunaan wewenang.

“Ini pada dasarnya perundungan,” ujar Everard dalam pernyataannya. “Ini tidak sesuai dengan praktik ketenagakerjaan yang baik, dan saya pikir ada dasar hukum untuk berbisnis di sini.”

Analogi dengan Kasus Ajax

Everard kemudian membandingkan situasi yang terjadi di FC Twente dengan kasus yang pernah terjadi di Ajax Amsterdam pada musim panas lalu. Dalam kasus tersebut, beberapa pemain yang ingin meninggalkan klub dilarang masuk lapangan latihan dan harus melakukan latihan sendiri.

“Kami sangat kesal dengan hal ini dan menyampaikannya kepada Ajax, karena ini jelas bukan cara yang pantas untuk memperlakukan pekerja,” tambah Everard. “Ini sama saja dengan mengintimidasi pemain. Ironisnya, cara ini justru berhasil.”

Reaksi dari Asosiasi Pemain Profesional

VVCS juga menyatakan bahwa mereka akan terus memantau situasi yang terjadi terhadap pemain-pemain lain yang menghadapi perlakuan serupa. Mereka menekankan pentingnya menjaga hak-hak para pemain sepak bola sebagai pekerja, termasuk dalam hal kontrak dan kesempatan bermain.

Beberapa poin yang disampaikan oleh VVCS antara lain:

  • Perlakuan terhadap pemain harus sesuai dengan prinsip-prinsip ketenagakerjaan yang adil.
  • Klub-kabupaten tidak boleh menggunakan wewenangnya secara tidak proporsional.
  • Pemain memiliki hak untuk mendapatkan kesempatan bermain selama masa kontraknya berlaku.

Tindakan Lanjutan

VVCS akan terus berkomunikasi dengan klub-klub yang diduga melakukan pelanggaran terhadap hak-hak pemain. Mereka juga berencana untuk mengadakan pertemuan dengan federasi sepak bola Belanda untuk membahas langkah-langkah yang lebih konkret.

Selain itu, VVCS juga akan memastikan bahwa semua pemain yang menghadapi situasi serupa dapat menerima dukungan hukum dan psikologis. Mereka percaya bahwa setiap pemain memiliki hak untuk bekerja dalam lingkungan yang aman dan adil.

Dengan situasi seperti ini, VVCS menekankan pentingnya transparansi dan tanggung jawab dari klub-klub sepak bola dalam menjaga hubungan yang sehat dengan pemain mereka. Mereka berharap agar semua pihak bisa belajar dari kasus-kasus seperti ini untuk mencegah terulangnya tindakan yang tidak etis.

Kesimpulan: Jangan lewatkan aksi atlet/tim kebanggaan Anda. Simak terus update pertandingan selanjutnya hanya di portal kami.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar