Jadi pemicu demo besar, seberapa buruk kondisi ekonomi Iran?

Jadi pemicu demo besar, seberapa buruk kondisi ekonomi Iran?

Isu politik kembali hangat diperbincangkan. Mengenai Jadi pemicu demo besar, seberapa buruk kondisi ekonomi Iran?, publik menunggu dampak dan realisasinya. Simak laporannya.

TEHERAN, aiotrade - Demo besar terjadi di Iran selama sekitar dua pekan terakhir.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Kantor Berita Hak Asasi Manusia yang berbasis di AS mencatat, hingga kini ada 65 orang tewas dalam aksi demo di Iran.

Untuk meredam aksi demo, pemerintah Iran juga disebut memadamkan internet secara menyeluruh.

Diketahui, demo besar di Iran kali ini dipicu oleh kondisi ekonomi negara dan melemahnya mata uang mereka.

Lantas, seberapa buruk kondisi perekonomian Iran?

Rentetan sanksi ekonomi

Pada saat revolusi Iran tahun 1979, dollar AS setara dengan sekitar 70 rial Iran, dikutip dari Euronews.

Namun, pada awal 2026, nilainya melonjak melewati 1,4 juta rial. Ini berarti mata uang Iran telah kehilangan sekitar 20.000 kali nilainya selama empat dekade.

Di Iran, terdapat nilai tukar buatan, serta nilai tukar pasar bebas yang lebih tinggi. 

Setelah pemberlakuan kembali sanksi AS pada 2018, negara menetapkan nilai tukar buatan untuk impor barang-barang penting, tetapi sekarang nilai tukar tersebut terutama diakses oleh mereka yang dekat dengan pemerintah, bukan oleh masyarakat biasa.

Sanksi, inflasi, dan isolasi diplomatik sering disalahkan atas keruntuhan ini. 

PBB memberlakukan kembali sanksi terhadap Iran pada September 2025 setelah Dewan Keamanan gagal mengesahkan resolusi untuk mempertahankan keringanan sanksi. 

Keringanan tersebut terkait dengan kesepakatan non-proliferasi sebelumnya yang bertujuan untuk membatasi Iran dalam membuat senjata nuklir.

Langkah-langkah PBB yang dipulihkan mencakup embargo senjata konvensional, pembatasan terkait program rudal balistik Iran, pembekuan aset yang ditargetkan, dan larangan perjalanan.

Uni Eropa juga menerapkan sanksi serupa, serta sanksi yang terkait dengan catatan hak asasi manusia Iran dan perannya dalam memasok drone ke Rusia yang digunakan dalam invasi Ukraina.

Inflasi tahunan rata-rata 43 persen

Dalam beberapa tahun terakhir, runtuhnya nilai rial terhadap dollar AS dan munculnya hiperinflasi telah secara fundamental mengubah lanskap ekonomi.

Data resmi dari Bank Sentral Iran mengungkapkan, perekonomian negara tersebut telah menghadapi tingkat inflasi tahunan rata-rata sebesar 43 persen selama delapan tahun terakhir. 

Sebagai perbandingan, laju inflasi umum di Indonesia pada 2025 mencapai 2,92 persen, tertinggi sejak pandemi Covid-19.

Secara kumulatif, kondisi ini berarti membuat harga rata-rata barang dan jasa telah melonjak lebih dari 17 kali lipat, yang secara efektif mengikis daya beli 94 persen penduduk.

Sementara, harga emas global naik secara signifikan sebesar 230 persen dari tahun 2018 hingga 2026.

Di Iran, harga emas 18 karat yang memiliki kemurnian paling populer di Iran, meroket dari 1.387.000 rial menjadi 160.550.000 rial per gram.

Ini mewakili lonjakan sebesar 11.475 persen, yang melipatgandakan harga lebih dari 115 kali.

Seandainya harga emas global tetap stagnan, harga emas di Iran hanya akan mengikuti kenaikan nilai dollar AS. 

Namun, karena harga emas melonjak secara global, hal ini memperparah trauma finansial.

Kehilangan 20 persen pendapatan minyak

Menurut proyek Iran Open Data, sebuah proyek jurnalisme data nirlaba, negara kehilangan sekitar 20 persen dari potensi pendapatan ekspor minyaknya karena berupaya menghindari sanksi AS.

Meski demikian, pengiriman ke negara-negara seperti China dan Malaysia meningkat.

Pendapatan minyak Teheran terus mengalami kekurangan karena sanksi memaksa Iran untuk menjual minyak melalui jalur tidak langsung yang memang dirancang mahal.

Muatan minyak sering kali didiskon untuk menarik pembeli, kemudian dipindahkan melalui perantara dan perusahaan fiktif. 

Minyak tersebut dikirim menggunakan kapal tanker "armada bayangan" dan ditangani melalui taktik kasar, seperti transfer antar kapal di tengah samudra dan penyimpanan lepas pantai.

Kondisi ini mengurangi harga yang diterima Iran per barel.

Iran Open Data memperkirakan, hingga Maret 2025, negara itu memperoleh sekitar 23,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 390 triliun dari ekspor minyak.

Padahal, Iran seharusnya bisa memperoleh lebih dari 28 miliar dollar AS atau sekitar Rp 471 triliun, berdasarkan pelacakan kapal tanker dan harga patokan. 

Itu berarti, ada kekurangan sekitar 5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 84 triliun terkait dengan biaya penghindaran sanksi ini.

Laju pertumbuhan ekonomi yang hilang

Menurut Bank Dunia, Iran telah mengalami dekade pertumbuhan ekonomi yang hilang karena fokus yang terus-menerus pada minyak dan rezim sanksi. 

Rata-rata produk domestik bruto per kapita mengalami kontraksi dengan laju tahunan sebesar 0,6 persen antara tahun 2011 dan 2020.

"Dalam dekade terakhir, hampir 10 juta warga Iran jatuh ke dalam kemiskinan," demikian laporan Bank Dunia.

"Antara tahun 2011 dan 2020, persentase warga Iran yang hidup di bawah garis kemiskinan internasional meningkat dari 20 persen menjadi 28,1 persen," bunyi laporan itu.

Tidak hanya jumlah warga Iran miskin yang meningkat, tetapi juga meningkatnya kerentanan umum warga Iran yang berhasil keluar dari garis kemiskinan.

Sekitar 45 persen warga Iran rentan jatuh ke dalam kemiskinan, dengan risiko menjadi miskin dalam waktu dekat lebih besa.

Kesimpulan: Mari kita kawal terus perkembangan isu ini. Suarakan pendapat Anda dengan bijak di kolom komentar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar