Kebiasaan merokok saat muda, segera berhenti sebelum terlambat

Kebiasaan merokok saat muda, segera berhenti sebelum terlambat

Informasi terkini hadir untuk Anda. Mengenai Kebiasaan merokok saat muda, segera berhenti sebelum terlambat, berikut adalah data yang berhasil kami himpun dari lapangan.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Pengalaman Awal dengan Rokok

Tulisan ini adalah cerita salah satu dari 9,34 persen remaja 15 tahun yang aktif merokok. Pertama kali bersentuhan dengan nikotin aku masih kelas 5 SD, terpukau dengan kecanggihan sebatang pulpen milik teman yang mempunyai semacam sumbu, jika dihisap akan keluar asap wangi. Rasanya manis-manis dingin seperti strawberry, enak, tapi kata Umi nggak boleh. Malam itu aku hanya menghisap sekali karena penasaran.

Selanjutnya, aku banyak melihat teman-teman yang sedikit lebih tua dari ku menghisap rokok di lingkungan rumah. Aku sama sekali tidak tertarik, jelek, aromanya tak sedap bikin dada sakit. Waktu itu aku masih dalam dogma bahwa rokok adalah hal yang buruk dan harus dijauhi.

Perubahan Pemikiran Saat Usia Bertambah

Bertambah usia, sekitar kelas 2 SMP, mungkin 13 tahun. Aku tinggal di asrama, dengan pergaulan yang sangat beragam. Ketika masuk kelas senior sebagai pengurus, mulai banyak teman-teman mencoba hal-hal baru. Kembali lagi aku bertemu dengan rokok. Pada saat itu juga, aku masih dalam pandangan merokok adalah perbuatan tak patut yang harus dijauhi.

Hingga satu malam di salah satu kamar, kami sedang ngobrol-ngobrol. Seorang teman dekatku iseng berkelakar "Ngerokok di kamar enak kali ya." --- Biasanya anak-anak asrama merokok di kamar mandi --- kemudian ia benar mengeluarkan sebatang dengan eskpresi senyum-senyum tak tahu diri. Sebatang itu disulutnya, dan diputar, sebatang rame-rame. Tiba-tiba saja hatiku gentar, rasa penasaran mendominasi. Tanpa pikir panjang aku mengulurkan tangan kepada teman yang sedang menghisap rokok.

"Mau?" Dijulurkan kepadaku sebatang esse pop tipis. Aku mengambilnya, memegang pangkal filter dengan jari telunjuk dan jempol seperti posisi memegang kelereng. Menghisapnya pelan, ketika asap berada di mulut, aku mencernanya pelan-pelan. Rasa berry dingin, coba ku telan lebih dalam masuk ke tenggorokan, sensasi dingin menthol terasa hingga ke dada. Setelahnya kujulurkan rokok tersebut ke teman sebelahku, bergeser berputar setiap dua kali hisap, menemani obrolan malam hari itu.

Peningkatan Konsumsi Rokok

Sejak itu toleransi terhadap rokok terus tergerus, awalnya aku hanya meminta satu atau dua hisap pada teman yang sedang merokok. Kian lama aku mulai nongkrong di kamar mandi dengan ember terbalik. Kemudian aku mulai beli sendiri batang perbatang. Enak ternyata.

Masuk ke SMA, aku adalah remaja 15 tahun dari keluarga sehat dan agamis yang merokok secara aktif. Aku masih sekolah berasrama, yang bukannya mengisolir diri dari hal-hal negatif, justru memudahkanku mengeksplor ragam penasaran remaja.

Merokok adalah barang paling umum pada tragedi pubertas bocah laki-laki, seakan-akan tiap tembakau yang terbakar adalah sebatang validasi. Ia perlambangan sebuah kemerdekaan kecil dari dunia yang senang melarang. Merokok bukan sekedar kenikmatan adiktif, ia menjual kepuasan batin dan lonjakan adrenalin. Lezat.

Efek Samping dan Lingkungan yang Memengaruhi

Efek samping yang mulai terasa adalah, aku selalu batuk kering, hidung tersumbat, dan gampang capek. Aman-aman saja, tak terlalu mengganggu keseharian. Yang terasa mengganggu adalah rasa resah setelah makan, mulut rasanya asem!

Lingkunganku yang tidak menerima rokok --- lingkungan sekolah dan keluarga --- adalah satu-satunya hal yang membatasi konsumsi rokok ku tidak berlebihan. Sekalinya tanpa pengawasan, merdeka sudah, paru-paru akan bermanja ria dengan tar dan nikotin. Setiap keluar dari asrama, yang ada dipikiran kami pertama adalah cari warung, merokok. Bahkan kami memang cari-cari izin alasan untuk keluar hanya karena asem, ahahaha.

Keputusan untuk Berhenti Merokok

Begitu terus, dikit-dikit rokok dikit-dikit rokok, aku jadi lebih suka jauh dari keluarga agar bisa bebas merokok. Jauh dari pengawasan siapapun yang senang menjustifikasi. Seperti ku bilang di awal tadi, sebatang rokok adalah perlambangan kemerdekaan kecil dari dunia yang senang melarang, sungguh! Merokok seakan membuatku merasa menguasai penuh diriku secara utuh.

Barangkali yang ku urai di atas adalah penyebab tingginya jumlah perokok di kalangan remaja. Ditambah ketidaktegasan pemerintah dalam meregulasi jual beli rokok, tentu memudahkan akses bagi remaja yang sedang coba-coba.

Langkah untuk Menjadi Lebih Baik

Pada hari ulang tahun yang ke-18 bulan April lalu, aku berniat menetapkan satu desisi, berhenti merokok. Mumpung belum terlalu jauh, mumpung badan masih sehat dan bisa lebih sehat lagi.

Bagaimanapun nikmatnya 1.0 mg nikotin berpadu dengan 14 mg tar dalam sebatang classmild, morilku menolak untuk membenarkan kebiasaan ini. Kebergantungan dengan rokok tidak ada untungnya bagiku selain kenikmatan sesaat. Sebenarnya sudah berulang kali aku mengafirmasi pada diri sendiri untuk berhenti, tapi selalu gagal, gagal, gagal lagi.

Faktor utama kegagalan untuk berhenti adalah lingkungan, rokok bagaikan kunci saat memasuki lingkaran pergaulan baru. Dengan pinjam korek, berbagi asbak, sebat bareng, itu semua bisa dengan mudah mempererat koneksi baru.

Dibalik kepulan asap, selalu ada cerita yang menjadi lebih intensif. Waktu berputar cepat hingga batang ke dua belas, memberikan rasa lega setelah diskusi dan solusi terurai bersama abu yang memenuhi asbak. Rokok adalah alat bantu dalam menjalin relasi, pikirku.

Kesuksesan Awal dalam Berhenti Merokok

Sekuat hati aku berusaha menghalau segala pembelaan batin untuk kembali merokok. Hari ini, genap sudah sebulan aku berhenti. Tidak merokok sesederhana tinggal tidak merokok, tidak membeli, tidak meminta, dan menolak saat ditawari.

Saat bertemu kawan baru dan menawari rokok, bukan berarti aku menyia-nyiakan tiket kelekatan koneksi, justru aku menukarnya dengan harga yang lebih mahal, ngobrol yang lebih berkualitas. Cukup dengan ngobrol kita bisa menjalin kedekatan dengan siapapun, tak perlu dihiasi kepulan asap.

Memang baru sebentar, tapi bagiku ini sebuah kemenangan yang patut ku rayakan. Melepas diri dari kebiasaan adiktif bukan hal yang mudah kawan, perlu tekat dan prinsip. Uraian ini ku tulis untuk mengafirmasi diri sendiri akan keberhasilan kecil yang baru ku lewati. Barangkali ada kawanku yang terinspirasi, tentu baik sekali. Semoga tuhan memudahkanku dalam menggapai konsistesi, Aamiin!

Kesimpulan: Demikian informasi mengenai Kebiasaan merokok saat muda, segera berhenti sebelum terlambat. Semoga menambah wawasan Anda hari ini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar