Kembalinya Shin Tae-yong? Justin Buka Arahan Baru PSSI Pasca Era Kluivert

Kembalinya Shin Tae-yong? Justin Buka Arahan Baru PSSI Pasca Era Kluivert

Kabar lapangan tengah memanas hari ini. Terkait Kembalinya Shin Tae-yong? Justin Buka Arahan Baru PSSI Pasca Era Kluivert, para suporter tentu sudah menunggu kepastian beritanya. Simak informasi terbarunya.
Kembalinya Shin Tae-yong? Justin Buka Arahan Baru PSSI Pasca Era Kluivert

Kedekatan PSSI dengan Jepang

Sore Jakarta yang teduh, beberapa jam setelah kabar pemutusan kontrak Patrick Kluivert resmi diumumkan PSSI, lini masa media sosial seketika ramai. Nama Shin Tae-yong kembali menggema di antara jutaan komentar warganet Indonesia yang haus akan sosok pelatih ideal.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Apakah mungkin sang arsitek asal Korea Selatan itu kembali? Ataukah PSSI sudah benar-benar menutup buku lama dan menatap bab baru?

Dalam riuh spekulasi itu, muncul satu nama yang kerap jadi barometer logika sepak bola di ruang publik: Justinus Lhaksana, atau yang akrab dikenal dengan Coach Justin. Lewat pandangannya yang lugas, ia menilai bahwa arah kebijakan PSSI kali ini bisa saja berbelok ke Timur — lebih tepatnya ke Jepang.

Kedekatan PSSI dan Jepang

“Kalau dia (PSSI) udah buang semuanya (tim kepelatihan Belanda), feeling saya mereka mau pindah ke kultur Asia. Kayaknya Jepang,” ujar Coach Justin, dikutip dari wawancara dengan ANTARA, Kamis 16 Oktober 2025.

Ia menilai, kedekatan federasi dengan Jepang bukan hal baru. Sejak beberapa tahun terakhir, PSSI memang menjalin kolaborasi teknis dan program pembinaan dengan federasi sepak bola Jepang (JFA). Bukan hanya soal pertukaran pelatih, Jepang juga punya pengaruh kuat dalam pendekatan sport science dan manajemen tim nasional muda. Dalam konteks inilah, Justin membaca sinyal: arah sepak bola Indonesia bisa kembali ke model Asia Timur yang disiplin dan terstruktur.

Namun, di sisi lain, ia tetap realistis. “Pemain kita mayoritas Belanda, secocok apa nanti, ya gak tau juga. Ini yang jadi dilema,” ujarnya. Sebuah dilema yang menarik — karena Indonesia kini hidup di antara dua dunia: teknik Eropa dan semangat Asia.

Shin Tae-yong di Persimpangan Jalan

Lalu di mana posisi Shin Tae-yong dalam semua ini? Nama pelatih Korea Selatan itu memang belum hilang dari ingatan publik. Di bawah asuhannya, Indonesia sempat tampil berani di ajang Asia dan lolos ke babak ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 — sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.

STY menjadi simbol kerja keras dan kedisiplinan yang khas Asia. Ia membentuk mental bertanding baru bagi pemain muda, dari Marselino hingga Pratama Arhan. Tapi di balik keberhasilannya, hubungan antara STY dan PSSI sempat renggang karena perbedaan visi, terutama dalam soal tim senior versus tim muda.

Kini, dengan kosongnya kursi pelatih kepala, publik berspekulasi: mungkinkah PSSI “meniru Arab Saudi” — mengembalikan pelatih lama seperti mereka memanggil lagi Herve Renard?

“Bisa aja, gak ada masalah. Kan selalu bilang siapa pun yang ditunjuk PSSI kita dukung. Kalau aneh-aneh baru kita kritik,” kata Coach Justin menutup komentarnya dengan tawa khasnya.

Jesus Casas dan Bayangan Eropa

Di sisi lain, nama Jesus Casas, mantan pelatih Irak, juga santer disebut sebagai kandidat kuat. Pelatih asal Spanyol itu punya rekam jejak apik: membawa Irak juara Piala Teluk dan mencatat 20 kemenangan dari 33 laga.

Casas bahkan pernah menjadi bagian tim pelatih Spanyol di era Luis Enrique hingga De la Fuente — pengalaman yang membuatnya paham betul filosofi tiki-taka dan adaptasi modernnya di Asia.

Namun bagi Justin, asal negara bukan segalanya. “Gak penting pelatihnya dari mana. Yang penting bermain sesuai kapasitas kita,” ujarnya. Sebuah pesan sederhana tapi tajam: Indonesia butuh pelatih yang nyambung dengan karakter pemain, bukan sekadar nama besar di CV.

Antara Harapan dan Kenyataan

Kembali atau tidaknya STY, atau apakah PSSI akan memilih jalan Jepang atau Spanyol, satu hal pasti: publik Indonesia selalu menaruh cinta yang terlalu besar pada tim nasionalnya.

Dan seperti kisah klasik sepak bola kita — setiap pergantian pelatih bukan sekadar urusan taktik, tapi juga soal identitas dan harapan.

Coach Justin mungkin benar: sepak bola Indonesia kini berada di simpang jalan antara disiplin Asia dan gaya Eropa.

Namun siapa pun pelatih berikutnya, yang paling dibutuhkan Tim Garuda bukan hanya strategi, tapi kesinambungan visi — sesuatu yang selama ini terlalu sering patah di tengah jalan.

Kesimpulan: Jangan lewatkan aksi atlet/tim kebanggaan Anda. Nantikan terus update pertandingan selanjutnya hanya di portal kami.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar