Netflix Resmi Membeli Aset Warner Bros. Discovery dalam Kesepakatan Raksasa
Netflix, salah satu platform streaming terbesar di dunia, resmi memenangkan persaingan besar dalam akuisisi aset dari Warner Bros. Discovery (WBD). Dalam kesepakatan senilai 82,7 miliar dolar AS, termasuk utang, Netflix mengalahkan pesaing seperti Paramount Skydance dan Comcast. Langkah ini menandai perubahan signifikan dalam strategi bisnis Netflix yang sebelumnya lebih memilih membangun konten sendiri daripada melakukan akuisisi besar.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Perubahan Strategi Bisnis Netflix
Warner Bros. Discovery telah melelang aset studio dan layanan streaming mereka, termasuk Warner Bros., HBO, dan HBO Max, setelah beberapa kali mencoba untuk diakuisisi oleh Paramount. Netflix menjadi salah satu pihak yang tertarik, meskipun perusahaan sempat menghindari membahasnya secara terbuka dalam laporan pendapatan.
Kini, Netflix menjadi perusahaan hiburan terbesar di dunia berdasarkan kapitalisasi pasar yang melampaui 400 miliar dolar AS. Dalam laporan media, perusahaan itu disebut pernah diremehkan oleh mantan pimpinan Warner Bros. sebagai “the Albanian army”, namun posisi Netflix kini semakin kuat.
Perusahaan akan membayar 82,7 miliar dolar AS (termasuk utang), dengan valuasi ekuitas sebesar 72 miliar dolar AS atau setara Rp1,2 kuadriliun. Dalam siaran pers, co-CEO Greg Peters menyatakan bahwa “Akuisisi ini akan meningkatkan layanan kami dan mempercepat bisnis kami selama beberapa dekade ke depan.”

Reaksi Pasar dan Tantangan Regulasi
Investor merespons negatif pengumuman tersebut. Pada Sabtu (6/12) pukul 16.00 WIB, saham Netflix turun hampir 3 persen di tengah volatilitas, mencerminkan skeptisisme pasar atau kekhawatiran bahwa Netflix membayar terlalu mahal.
Kesepakatan itu menilai WBD pada harga 27,25 dolar AS per saham—lebih tinggi dari harga penutupan 24,54 dolar AS sehari sebelumnya. Namun aset yang diakuisisi tidak termasuk divisi Global Networks WBD, yang menaungi CNN dan berbagai saluran kabel lain. Divisi tersebut akan dipisahkan menjadi perusahaan publik tersendiri sebelum kesepakatan dengan Netflix diselesaikan.
Selain itu, merger masih harus melalui proses regulasi yang ketat, dan Netflix memperkirakan akuisisi baru akan rampung pada 2027. Di industri media, merger besar semacam ini sering kali menghadapi risiko tinggi. Pengalaman sebelumnya menunjukkan beberapa akuisisi serupa berakhir buruk, seperti pembelian Time Warner oleh AT&T atau merger AOL–Time Warner. Bahkan akuisisi Disney terhadap aset hiburan Fox juga dinilai sejumlah analis sebagai keputusan yang tidak menguntungkan.

Netflix Jarang Melakukan Akuisisi Besar
Netflix selama bertahun-tahun menghindari strategi M&A (Merger dan Akuisisi). Perusahaan hanya sesekali membeli aset kecil seperti MillarWorld atau studio gim seluler. Mantan CEO Reed Hastings pernah mengatakan, “Itulah yang membuat kami sukses selama 14 tahun terakhir karena kami tidak melakukan M&A.”
Karena itu, langkah membeli Warner Bros. dianggap sebagian pengamat sebagai strategi defensif untuk mencegah aset penting jatuh ke tangan pesaing. Namun aset Warner Bros.—yang meliputi perpustakaan konten dari The Wizard of Oz, Harry Potter, hingga Superman dan Batman—sangat jarang tersedia di pasar, sehingga peluang ini dinilai unik.

Dampak bagi Investor Netflix
Hingga kini, kesepakatan tersebut menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Belum jelas apakah Netflix akan menggabungkan HBO Max ke dalam layanannya atau membiarkannya tetap berdiri sendiri. Netflix juga menyatakan akan mempertahankan perilisan film Warner Bros. di bioskop, meski selama ini perusahaan hanya merilis film secara terbatas untuk memenuhi syarat penghargaan.
Masih ada tingkat ketidakpastian tinggi bagi pemegang saham. Secara kinerja, Netflix sebenarnya tengah berada dalam momentum kuat dan tidak dalam kondisi yang memaksa perusahaan membeli aset sebesar ini. Meski demikian, perpustakaan konten dan kepemilikan merek yang luas pada Warner Bros. menjadi alasan utama terjadinya perang penawaran.
Dengan jangkauan global dan pertumbuhan bisnis yang solid, Netflix dinilai memiliki kapasitas untuk memanfaatkan potensi Warner Bros. Namun keberhasilan eksekusi tidak dijamin, dan hasil akhir bergantung pada proses persetujuan regulator yang dapat memakan waktu beberapa tahun.
Komentar
Kirim Komentar