
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Perkembangan Terkini Valuasi ByteDance
ByteDance Ltd. mencatat lonjakan valuasi yang signifikan, yaitu hingga 500 miliar dolar AS atau sekitar Rp8.385 triliun dengan kurs Rp6.770 per dolar AS. Angka ini menandai titik balik penting dalam strategi global perusahaan teknologi asal Tiongkok tersebut untuk mempertahankan eksistensi TikTok di Amerika Serikat.
Valuasi ini tercatat di pasar privat dan menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah ByteDance. Hal ini mencerminkan optimisme investor terhadap arah bisnis perusahaan di tengah tekanan geopolitik yang semakin kompleks.
Dinamika Regulasi di Washington DC
Kenaikan valuasi tidak dapat dilepaskan dari dinamika regulasi di Washington DC. Selama beberapa tahun terakhir, TikTok menjadi sorotan tajam atas isu keamanan nasional dan kepemilikan asing. Pemerintah AS memberlakukan ketentuan yang mewajibkan ByteDance melepaskan kendali atas operasional TikTok di Amerika Serikat paling lambat Januari 2026, dengan ancaman pelarangan penuh layanan tersebut apabila kewajiban itu tidak dipenuhi.
Valuasi ByteDance naik dari sekitar USD 400 miliar pada awal tahun ini menjadi USD 500 miliar, melampaui level tertingginya pada 2021. Pada periode tersebut, perusahaan sempat mengkaji rencana penawaran saham perdana Douyin, aplikasi saudara TikTok di Tiongkok, sebelum akhirnya dibatalkan.
Langkah Korporasi yang Konkret
Setelah mengalami tekanan, valuasi ByteDance kembali menguat seiring kemajuan perundingan terkait TikTok di Amerika Serikat serta peningkatan investasi di bidang kecerdasan buatan.
CEO TikTok Shou Zi Chew menyampaikan kepada karyawan bahwa perusahaan telah menandatangani perjanjian mengikat untuk memisahkan operasi TikTok di AS ke dalam entitas baru bernama TikTok USDS Joint Venture LLC.
“Perjanjian ini memungkinkan ByteDance tetap memperoleh manfaat ekonomi dari TikTok di Amerika Serikat, sekaligus menjawab kekhawatiran pemerintah terkait keamanan nasional,” ujar Chew dalam memo internal.
Struktur Baru Kepemilikan Saham
Dalam struktur baru tersebut, 50 persen saham akan dikuasai konsorsium investor Amerika dan sekutu, termasuk Oracle, Silver Lake, dan MGX, masing-masing sebesar 15 persen. Sementara itu, afiliasi investor ByteDance memegang 30,1 persen, dan ByteDance mempertahankan 19,9 persen kepemilikan. Skema ini dirancang untuk memenuhi persyaratan regulasi AS tanpa sepenuhnya memutus hubungan ekonomi ByteDance dengan pasar Amerika.
Selain restrukturisasi kepemilikan, kesepakatan ini juga mengatur pengelolaan data dan sistem keamanan TikTok di AS. Oracle ditunjuk sebagai mitra teknologi utama yang bertanggung jawab atas penyimpanan dan pengamanan data pengguna Amerika, termasuk pengawasan terhadap algoritme, sebuah isu yang selama ini menjadi pusat kekhawatiran regulator AS.
Persaingan Teknologi Global
Meski mencetak rekor valuasi, posisi ByteDance masih berada di bawah sejumlah pemain teknologi global lain. OpenAI, misalnya, dilaporkan tengah menggalang pendanaan baru dengan valuasi potensial USD 830 miliar, sementara SpaceX milik Elon Musk diperkirakan bernilai USD 800 miliar menjelang rencana penawaran saham perdana. Perbandingan ini menegaskan ketatnya persaingan di antara raksasa teknologi global.
Analis industri menilai langkah ByteDance sebagai manuver adaptif yang jarang terjadi. Seorang pengamat teknologi menyatakan, “Ini bukan sekadar restrukturisasi bisnis, melainkan contoh bagaimana perusahaan teknologi global menavigasi tekanan geopolitik tanpa kehilangan pijakan ekonominya di pasar strategis.”
Kesimpulan
Dengan demikian, lonjakan valuasi ByteDance tidak hanya mencerminkan kekuatan finansial, tetapi juga keberhasilan membaca arah politik global. Di tengah persaingan teknologi antara Timur dan Barat, strategi TikTok di AS berpotensi menjadi preseden baru bagi perusahaan teknologi lintas negara dalam menghadapi era regulasi digital yang semakin ketat.
Komentar
Kirim Komentar