
Tantangan Dunia Perfilman Nasional
Ketua Lembaga Sensor Film (LSF) Republik Indonesia, Naswardi, menyampaikan beberapa tantangan yang dihadapi industri perfilman nasional. Salah satu isu utama adalah keterbatasan jumlah layar bioskop serta rendahnya kesadaran masyarakat terhadap klasifikasi usia tontonan.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Dalam presentasinya, Naswardi menjelaskan bahwa film yang masuk ke LSF sudah dalam bentuk akhir dan siap ditayangkan. LSF memberikan Surat Tanda Lulus Sensor (STLS) sebagai salah satu syarat wajib agar film bisa mendapatkan jadwal tayang di bioskop.
“Tahun lalu kami menerbitkan STLS untuk 285 judul film nasional. Namun, hanya 107 judul yang benar-benar tayang di layar lebar,” ujarnya.
Kondisi ini disebabkan oleh keterbatasan jumlah layar bioskop di Indonesia yang baru mencapai sekitar 2.600 layar, jauh di bawah kebutuhan ideal sebesar 10.000 layar. Hal ini menjadi kendala bagi para produser film yang telah memproduksi namun tidak mendapatkan jadwal tayang.
Naswardi menegaskan bahwa LSF terus mendorong penerapan budaya sensor mandiri sejak tahap perencanaan film. Produser diharapkan menentukan sasaran usia penonton sejak awal, apakah untuk semua umur (SU), 13 tahun, 17 tahun, atau 21 tahun.
“Ini kami dorong melalui literasi hukum perfilman dan penyensoran. Sampai saat ini sudah ada 140 rumah produksi yang rutin mengikuti sosialisasi dan mendaftarkan filmnya ke LSF,” jelasnya.
Meski demikian, kesadaran masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah besar. Berdasarkan survei nasional LSF tahun 2023, hanya 46 persen masyarakat Indonesia yang memperhatikan atau mematuhi klasifikasi usia dalam menonton film.
“Ini yang sedang kami kejar. Kami menggandeng akademisi, komunitas, dan anak-anak muda untuk menjadi sahabat sensor mandiri, mengajak masyarakat menonton sesuai usia,” tambahnya.
Naswardi menekankan bahwa budaya sensor mandiri merupakan bagian inti dari kerja LSF selain kegiatan penyensoran rutin. Menurutnya, LSF ingin agar masyarakat tidak hanya menonton film, tapi juga memahami nilai, konteks, dan batas usia yang sesuai. Itulah inti dari sensor mandiri.
Anugerah LSF 2025
Tahun ini, ajang apresiasi bagi insan perfilman dan pertelevisian nasional dalam Anugerah Lembaga Sensor Film (LSF) 2025 mengusung tema “Memajukan Budaya, Menonton Sesuai Usia”.
Direktur Programming SCM, Harsiwi Achmad, menjelaskan tantangan utama dalam penyelenggaraan acara ini adalah mengemas idealisme LSF agar tetap menarik bagi penonton luas.
“Kalau orang lihat malam Anugerah LSF, aduh serius banget nih. Sementara tujuannya adalah memajukan budaya menonton sesuai usia. Artinya bagaimana message yang disampaikan itu harus sampai ke pemirsa seluas-luasnya, bukan hanya untuk kalangan decision maker tapi juga masyarakat luas,” ujarnya.
Menurutnya, tim produksi berupaya keras menyeimbangkan antara muatan edukatif dan hiburan.
“Tantangan kami adalah bagaimana mengemas program ini, memadukan antara idealisme tadi dengan hal-hal yang market. Itu bukan pekerjaan gampang. Kami terus menggodok konsep kreatif agar tetap seru ditonton tapi pesan utamanya juga sampai,” jelasnya.
Malam puncak Anugerah LSF 2025 akan dimeriahkan oleh deretan artis ternama tanah air. Sejumlah musisi seperti Band Ungu, Lesti Kejora, Rizky Billar, Abang L, Dewi Perssik, Putri Ariani, Dinda Ghania, Quinn Salman, Prince Poetiray, 16 Academia D’Academy 7, serta Girlband Lemon siap tampil menghibur.
Selain itu, para bintang sinetron dan film populer seperti Aqeela Calista, Raden Rakha, Haura Lathifa, Harris Vriza, Randy Pangalila, Ersya Aurelia, Nayla Purnama, Masayu Anastasia, dan Oka Antara juga akan hadir memeriahkan acara, bersama Gilang Dirga dan Firsta Yufi Amarta (Putri Indonesia 2025).
Komentar
Kirim Komentar