
Kolaborasi Mahasiswa dan Masyarakat dalam Pengelolaan Bank Sampah
Pengelolaan sampah menjadi isu yang sering kali dianggap sebagai masalah klasik di berbagai wilayah di Indonesia. Di Majalengka, khususnya di Desa Kumbung, masalah ini tidak hanya menjadi perhatian pemerintah setempat, tetapi juga mendapat dukungan dari kalangan akademis. Melalui pendekatan kolaboratif antara perguruan tinggi dan masyarakat, mahasiswa Politeknik Sekolah Citra Indonesia (SCI) menunjukkan peran strategis mereka dalam memperkuat pengelolaan Bank Sampah Desa Kumbung.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Kegiatan ini dilaksanakan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) atau Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang berbasis pemberdayaan warga dan lingkungan. Tujuan utamanya adalah untuk memberikan kontribusi nyata dari dunia akademik dalam mendukung pembangunan desa yang bersih, sehat, dan bernilai ekonomi. Program ini dirancang untuk menjawab tantangan pengelolaan sampah rumah tangga yang selama ini masih berdampak pada kebersihan lingkungan, kenyamanan, hingga kesehatan masyarakat.
Inisiatif Awal dari Pemerintah Desa
Sebelum adanya bantuan dari mahasiswa, Pemerintah Desa Kumbung bersama warga telah lebih dulu menginisiasi Bank Sampah sebagai solusi jangka panjang. Kehadiran tim PKM Politeknik SCI memperkuat gagasan tersebut, terutama dalam aspek edukasi, pendampingan, dan pengembangan inovasi pengelolaan sampah berbasis partisipasi masyarakat.
Tim mahasiswa terdiri atas dosen pembimbing serta mahasiswa Politeknik SCI dengan Syahrul sebagai ketua tim, bersama anggota Arya, Dimas, Rizki, Fahmi, Ferdi, Elsa, Fazah, Rohmah, Fina, Ima, Rima, dan Aina. Program ini bekerja sama langsung dengan Pemerintah Desa Kumbung dan pengelola Bank Sampah Desa Kumbung.
Aktivitas Tim PKM
Rangkaian kegiatan para mahasiswa mencakup kunjungan lapangan, observasi, dan pendampingan sistem pengelolaan bank sampah yang telah berjalan. Mereka juga terjun langsung mengamati proses pengumpulan, pemilahan, hingga pemanfaatan sampah yang dilakukan oleh petugas desa bersama masyarakat.
Pengelolaan bank sampah di Desa Kumbung dinilai cukup tertata. Setiap kepala keluarga dikenakan iuran bulanan yang terjangkau, sementara petugas kebersihan desa bertugas mengambil sampah dari rumah warga. Sampah yang terkumpul kemudian dikelola ke dalam tiga kategori utama: sampah bernilai ekonomis untuk dijual kembali, sampah yang dimusnahkan melalui pembakaran menggunakan tungku bersuhu tinggi, dan sampah residu yang dikumpulkan di satu lokasi yang ke depan direncanakan menjadi area pengembangan koperasi desa.
Inovasi dalam Pengelolaan Sampah
Inovasi menarik juga dilakukan melalui pemanfaatan sampah organik untuk budidaya maggot. Selain efektif mengurangi bau menyengat, maggot memiliki nilai jual ekonomi dengan harga berkisar Rp10.000–Rp15.000 per kg. Sementara itu, abu hasil pembakaran sampah dimanfaatkan kembali sebagai campuran media tanam, sehingga limbah benar-benar diminimalkan.
Peran dosen dalam program ini memberikan pendampingan konseptual dan arahan terkait pengelolaan sampah berkelanjutan. Mahasiswa, di sisi lain, berperan aktif dalam observasi lapangan, diskusi dengan pengelola bank sampah, serta dokumentasi kegiatan sebagai bahan evaluasi dan pembelajaran akademik.
Harapan dan Dukungan Masa Depan
Ketua tim PKM, Syahrul menegaskan bahwa pengelolaan sampah sejatinya memiliki potensi besar bagi kesejahteraan masyarakat. Pengelolaan sampah yang baik tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, tapi juga mampu memberikan nilai tambah secara ekonomi bagi warga.
"Kami berharap pendampingan ini dapat memperkuat sistem yang sudah berjalan di Desa Kumbung," ujarnya.
Ke depan, tim PKM Politeknik berharap kerja sama ini dapat berlanjut secara berkesinambungan. Pendampingan lanjutan dinilai penting untuk memperkuat kelembagaan bank sampah serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan Desa Kumbung.
Apresiasi juga datang dari Kepala Desa Kumbung Kecamatan Rajagaluh Opung Komarudin. Menurut dia, keterlibatan dosen dan mahasiswa Politeknik SCI memberikan motivasi baru bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan sekaligus mengembangkan bank sampah secara lebih optimal.
Dampak program PKM ini mulai dirasakan, terutama meningkatnya kesadaran warga akan pentingnya pengelolaan sampah. Bank sampah kini tidak lagi dipandang sekadar tempat pembuangan, melainkan sebagai sarana pemberdayaan dan peluang ekonomi desa.
Komentar
Kirim Komentar