Mantan Kepala Mata-mata Korea Selatan Ditangkap Akibat Darurat Militer

Mantan Kepala Mata-mata Korea Selatan Ditangkap Akibat Darurat Militer

Kabar pemerintahan kembali mencuat. Mengenai Mantan Kepala Mata-mata Korea Selatan Ditangkap Akibat Darurat Militer, publik menunggu dampak dan realisasinya. Simak laporannya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Mantan Kepala Mata-Mata Korea Selatan Ditangkap

Mantan kepala badan intelijen Korea Selatan, Cho Tae-yong, ditangkap pada 12 November 2025 karena dugaan kelalaian dalam menjalankan tugasnya. Penangkapan ini dilakukan setelah pengadilan Seoul mengabulkan permintaan jaksa khusus untuk surat perintah penangkapan terhadapnya. Cho sebelumnya menjabat sebagai kepala Badan Intelijen Nasional dan dianggap bertanggung jawab atas berbagai tuduhan, termasuk mengabaikan tugasnya sebagai pemimpin badan intelijen dan menimbulkan risiko penghancuran barang bukti.

Pengadilan Distrik Pusat Seoul meninjau keabsahan surat perintah tersebut pada Selasa dan akhirnya memutuskan untuk menerbitkannya. Dalam pernyataannya, pengadilan menyebutkan bahwa keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan risiko penghancuran barang bukti. "Tuduhan utamanya adalah kelalaian tugas," kata pengadilan.

Jaksa penuntut mengatakan bahwa Cho—seorang diplomat karier yang memimpin badan intelijen saat mantan Presiden Yoon Suk Yeol mengumumkan darurat militer pada Desember—tidak melaporkan tindakan tersebut ke parlemen meskipun ia "memahami ilegalitasnya". Ia juga dituduh membuat pernyataan palsu.

"Kemungkinan keterlibatannya dalam pemberontakan telah meningkat," ujar jaksa Park Ji-young kepada wartawan pekan lalu. Penangkapan Cho terjadi setelah jaksa menambahkan dakwaan lain terhadap Yoon atas tuduhan membantu musuh, termasuk memerintahkan penerbangan drone di atas Korea Utara untuk memperkuat rencana darurat militernya.

Korea Utara tahun lalu menyatakan bahwa mereka "telah membuktikan" bahwa Korea Selatan menerbangkan drone untuk menyebarkan selebaran propaganda di atas Pyongyang. Tindakan ini belum dikonfirmasi oleh militer Seoul. Park mengatakan bahwa timnya telah "mengajukan tuduhan menguntungkan musuh secara umum dan penyalahgunaan kekuasaan" terhadap mantan presiden tersebut.

Yoon menjerumuskan Korea Selatan ke dalam krisis politik ketika ia mencoba menumbangkan pemerintahan sipil pada Desember. Ia mengirimkan tentara bersenjata ke parlemen dalam upaya untuk mencegah anggota parlemen menolak deklarasi darurat militer. Upaya ini gagal, dan Yoon ditahan dalam penggerebekan dini hari pada Januari, menjadikannya presiden Korea Selatan pertama yang sedang menjabat yang ditahan.

Yoon masih diadili atas tuduhan pemberontakan dan pelanggaran lain yang terkait dengan deklarasi darurat militer. Istrinya, Kim Keon Hee, juga ditahan dan diadili atas tuduhan korupsi, termasuk manipulasi saham. Ini menjadi pertama kalinya mantan pasangan presiden ditahan.

Peristiwa Penting Terkait Krisis Politik

Beberapa faktor penting terkait krisis politik yang dialami Korea Selatan antara lain:

  • Pembentukan Darurat Militer: Mantan Presiden Yoon Suk Yeol mengumumkan darurat militer pada Desember 2024, yang kemudian dianggap ilegal oleh sebagian pihak.
  • Pembubaran Parlemen: Yoon mengirimkan tentara bersenjata ke parlemen dalam upaya mencegah anggota parlemen menolak deklarasi darurat militer.
  • Penangkapan Yoon: Yoon ditahan dalam penggerebekan dini hari pada Januari 2025, menjadikannya presiden pertama yang sedang menjabat yang ditahan.
  • Penangkapan Istri Yoon: Istrinya, Kim Keon Hee, juga ditahan dan diadili atas tuduhan korupsi, termasuk manipulasi saham.

Penangkapan Cho Tae-yong

Cho Tae-yong, mantan kepala Badan Intelijen Nasional, ditangkap karena dugaan kelalaian dalam menjalankan tugasnya. Jaksa khusus menilai bahwa Cho tidak melaporkan tindakan yang dilakukannya ke parlemen meskipun ia memahami ilegalitasnya. Ia juga dituduh membuat pernyataan palsu.

Dalam pernyataannya, jaksa Park Ji-young menyebutkan bahwa kemungkinan keterlibatan Cho dalam pemberontakan telah meningkat. Penangkapan Cho terjadi setelah jaksa menambahkan dakwaan lain terhadap Yoon atas tuduhan membantu musuh, termasuk memerintahkan penerbangan drone di atas Korea Utara untuk memperkuat rencana darurat militernya.

Kesimpulan: Mari kita kawal terus perkembangan isu ini. Suarakan aspirasi Anda dengan bijak di kolom komentar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar