MBG Bukan Hanya Program Sosial, Ini Kata Ahli Ekonomi

MBG Bukan Hanya Program Sosial, Ini Kata Ahli Ekonomi

Sektor ekonomi menghadapi dinamika baru hari ini. Kabar mengenai MBG Bukan Hanya Program Sosial, Ini Kata Ahli Ekonomi menjadi sinyal penting bagi para pelaku pasar. Berikut rinciannya.


aiotrade.CO.ID, JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan selama hampir satu tahun dinilai bukan sekadar program sosial, melainkan sebuah perubahan besar dalam arah ekonomi nasional. Hal ini ditegaskan oleh pakar ekonomi Prof Didin S. Damanhuri. Menurutnya, MBG merupakan pendekatan baru dalam ekonomi pembangunan.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Selama ini, negara berkembang termasuk Indonesia cenderung mengadopsi prinsip meningkatkan pertumbuhan setinggi-tingginya, bahkan jika harus sedikit mengorbankan pemerataan. Namun, MBG hadir dengan semangat human resource economics, sebuah pendekatan yang baru menjadi fokus para pakar ekonomi sejak 1992.

"Kalau MBG bisa konsisten dan dilakukan jangka panjang, ini akan menggeser pemikiran ekonomi di Indonesia yang lebih berorientasi pada pembangunan sumber daya manusia. Karena ini kan agak lain. Biasanya strateginya adalah pertumbuhan ekonomi setinggi-tingginya, maka yang akan dipilih adalah pembangunan infrastruktur besar-besaran. Tapi ini menyangkut seluruh penduduk terutama memperbaiki ketimpangan gizi dan pendidikan," ujar Prof. Didin saat memberikan tinjauan ekonomi terhadap perjalanan satu tahun MBG.

Intervensi negara melalui gizi dianggap sangat strategis. Jika program ini terkonsolidasi, dampak makronya akan sangat luas. Kesenjangan antara masyarakat kelas atas dan bawah akan mengecil karena intervensi gizi negara yang menyasar 50 persen masyarakat kelas bawah.

Perubahan juga terasa nyata di tingkat akar rumput. Di SMAN 1 Taraju, Cibuntu, Tasikmalaya, MBG mengubah pola hidup siswa jadi lebih sehat. Alfi Alfian, siswa kelas XI, menceritakan bagaimana MBG mengubah kebiasaan makannya.

"Sebelum ada MBG, paling cuma jajan cireng. Sekarang setelah MBG saya tidak perlu bawa bekal dari rumah. Kata mama juga mantap di SMA ada MBG, sangat terbantu," ungkap Alfian.

Hal senada disampaikan oleh Nurhayati, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 1 Taraju. Ia mencatat adanya perubahan perilaku ekonomi dan kedisiplinan siswa sejak kehadiran program ini. Kebiasaan jajan di saat istirahat berkurang dan pengeluaran Rp12.000 - Rp15.000 per hari para siswanya kini turun.

“Kehadiran siswa juga ada perubahan karena mereka merasa terbantu. Minimal asupan gizi akan berdampak terhadap kesehatan. Dengan gizi yang sehat ada semangat mereka untuk sekolah. Mudah-mudahan seiring berjalannya waktu, dengan adanya perbaikan gizi bisa dilihat efek jangka panjangnya,” jelas Nurhayati.

Pendekatan Baru dalam Ekonomi Pembangunan

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya menjadi solusi untuk masalah gizi, tetapi juga menjadi langkah penting dalam membangun sistem ekonomi yang lebih inklusif. Pendekatan ini mengarah pada konsep human resource economics yang menekankan pentingnya investasi pada sumber daya manusia sebagai fondasi utama pembangunan.

Dalam model tradisional, pertumbuhan ekonomi sering kali diukur dari jumlah infrastruktur yang dibangun atau peningkatan produksi. Namun, MBG menawarkan pendekatan yang berbeda, yaitu dengan fokus pada kualitas hidup masyarakat, terutama dari segi kesehatan dan pendidikan. Dengan demikian, program ini dapat menjadi contoh nyata tentang bagaimana kebijakan pemerintah bisa berdampak langsung pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Perubahan di Tingkat Akar Rumput

Di tingkat sekolah, MBG telah membawa perubahan signifikan. Contohnya di SMAN 1 Taraju, siswa-siswa mulai memiliki pola makan yang lebih sehat dan hemat. Sebelum MBG, banyak siswa hanya membeli camilan sederhana seperti cireng. Setelah program ini diterapkan, mereka tidak lagi perlu membawa bekal dari rumah dan pengeluaran harian mereka pun berkurang.

Siswa seperti Alfi Alfian mengakui bahwa MBG membantu mereka menjaga kesehatan dan mengurangi beban finansial keluarga. Selain itu, kehadiran program ini juga meningkatkan kedisiplinan dan semangat belajar siswa. Dengan asupan gizi yang cukup, siswa lebih mudah fokus dan aktif dalam kegiatan akademik.

Dampak Makro dan Mikro

Secara makro, MBG memiliki potensi untuk mengurangi kesenjangan antara masyarakat kelas atas dan bawah. Dengan menargetkan 50 persen masyarakat kelas bawah, program ini bisa menjadi alat untuk memperkuat kesejahteraan sosial secara umum. Di sisi lain, dampak mikro terlihat di tingkat individu, terutama dalam hal kesehatan dan perilaku ekonomi.

Wakil Kepala Sekolah SMAN 1 Taraju, Nurhayati, menilai bahwa MBG tidak hanya membantu siswa secara finansial, tetapi juga memberikan manfaat jangka panjang dalam bentuk kesehatan dan kedisiplinan. Dengan gizi yang baik, siswa lebih sehat dan siap menghadapi tantangan pendidikan.

Tantangan dan Peluang Masa Depan

Meski MBG menunjukkan hasil positif, masih ada tantangan yang perlu dihadapi. Salah satunya adalah konsistensi dalam pelaksanaan program. Jika MBG terus berjalan dengan baik dan konsisten, dampaknya bisa sangat luas dan berkelanjutan.

Selain itu, perlu adanya evaluasi berkala untuk memastikan bahwa program ini benar-benar mencapai tujuannya. Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga pendidikan, MBG bisa menjadi contoh sukses dalam upaya membangun masyarakat yang lebih sehat dan sejahtera.

Kesimpulan: Semoga informasi mengenai MBG Bukan Hanya Program Sosial, Ini Kata Ahli Ekonomi ini bermanfaat bagi keputusan bisnis Anda. Tetap optimis dan pantau terus perkembangan pasar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar