
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Pengalaman Pribadi Anya Geraldine dan Pesan Sosial dalam Film 'Shutter'
Film 'Shutter' yang dibintangi oleh Vino G. Bastian dan Anya Geraldine tidak hanya menjadi karya hiburan, tetapi juga menyampaikan pesan penting tentang isu pelecehan seksual di lingkungan kampus. Dalam sebuah acara podcast, keduanya membahas makna mendalam dari film ini, yang mengangkat isu sosial yang sering kali diabaikan.
Pesan Sosial yang Kuat
Dalam wawancara tersebut, Sara Wijayanto menyebutkan bahwa film ini memiliki pesan sosial yang kuat. "Nah, ini di film ini juga kan tadi ngangkat isu pelecehan seksual di kampus ya. Ini pesannya sebenarnya bagus ya karena mudah-mudahan jadi pesan yang baik, jadi warning juga," ujarnya. Ia menambahkan bahwa riset yang dilakukan tim film menemukan banyak kasus kekerasan terhadap perempuan justru terjadi di dunia pendidikan.
"From research that we did, from the team that we did in Indonesia, majority of violence against women, whether it's sexual or verbal, often happens in educational environments, in campuses," ungkapnya. Hal ini menunjukkan bahwa isu pelecehan seksual bukanlah hal yang baru, tetapi sering kali tidak diungkapkan secara terbuka.
Film yang Tidak Hanya untuk Menakut-nakuti
Vino G. Bastian menjelaskan bahwa film ini tidak hanya menjual ketakutan, tetapi juga memiliki pesan penting bagi masyarakat. "Kalau gua baca dari 90-an kasus, sekitar 40-an sampai 50-an itu terjadinya di dunia kampus. Dan tanpa disadari film ini mengangkat itu. Jadi film ini bukan cuma kita jualan horor doang, bukan cuma jualan remake dari satu film horor yang besar. Tapi kita butuh ini buat kita suarain, biar enggak lagi terjadi hal-hal kayak gini di dunia pendidikan kita," tuturnya.
Anya Geraldine juga menyoroti relevansi film 'Shutter' dengan realitas sosial yang sering dihadapi perempuan. "Kalau boleh balik lagi ke topik pelecehan tadi tuh ya, Kak. Menurut aku juga Shutter versi Indonesianya itu kan ada topik yang diangkat tentang pelecehan, di manapun lah, di kampus mungkin, di lingkungan kerja, atau di mana. Menurut aku itu sebenarnya relatable banget," ucap Anya.
Pengalaman Pribadi Anya Geraldine
Dalam kesempatan yang sama, Anya secara terbuka menceritakan pengalaman pribadinya yang selama ini dipendam. Ia mengaku pernah mengalami pelecehan seksual saat masih duduk di bangku SMP sekitar kelas 2 dan 3. "Aku tuh dulu di rumah sendirian karena mama kerja, pembantu lagi pulang kampung, adik lagi sekolah sama mbak ku yang satu lagi. Aku punya satu tetangga, tetanggaku ini kerja di rumah itu. Tapi dia bekerja disitu dengan anaknya dan istrinya yang juga kerja di situ."
Nah tiba-tiba pas aku udah pulang sekolah, lagi nyantai di kasur, aku tiduran pakai daster, ya terserah dong, kan dirumah nggak ada orang, terus tiba-tiba ada cowo, mas-mas yang penjaga itu yg kerja ditetangga, dia tiba-tiba buka pintu kamar aku. Padahal rumahku dikunci. Dia ngomong, "Aku tuh sebenarnya pengin ngobrol deh sama Anyanya. Kenapa sih Anyanya sekarang udah jarang ngaji? Perasaan dulu kalau di rumah seminggu bisa tiga kali ngaji kan." Cerita Anya terdengar sangat menegangkan.
Situasi semakin menegangkan ketika pelaku mencoba mendekat. "Dia bilang, 'Eh, sebenarnya aku mau ngomong lagi, sini deh aku bisikin'. Nah, pas udah kayak gitu tuh aku enggak tahu reflek gimana, aku teriak, 'Keluar! Keluar!' Aku teriak kencang banget." Pelaku panik dan langsung keluar rumah, sementara dirinya menangis ketakutan dan segera menelpon ibunya.
Keputusan untuk Tetap Diam
Meski keluarga dan orang sekitar mendorong agar kasus itu dilaporkan ke polisi, Anya memilih untuk tidak melanjutkannya. "Aku mikir lagi, ni anaknya juga cewek lagi. Terus aku kayak mikir, yaudah gini aja deh, karena gue gak mau ni orang entar kenapa-kenapa, mungkin masuk penjara lalu anaknya dan istrinya hidupnya susah karena ini semua."
Anya mengaku berpikir seperti itu karena secara refleks ia menempatkan dirinya dalam posisi sang anak. Sebagai seorang perempuan yang juga tumbuh tanpa kehadiran ayah, Anya merasa khawatir dan bertanya-tanya, "Apakah ini worth it misalnya aku masukin ke polisi nanti dia berapa tahun anaknya jadi broken dan kecewa karena sosok ayahnya seperti itu."
Setelah kejadian itu, Anya dan keluarganya memutuskan untuk tetap diam namun menjaga jarak dari pelaku. "Beberapa tahun kemudian orang itu masih tinggal di sebelah rumah aku, tapi aku sama keluarga udah jutek parah." Anya menegaskan, meski kejadian itu sudah lama, trauma yang di alami masih membekas hingga sekarang.
Kesimpulan
Melalui pengalaman pribadi Anya dan penjelasan Vino, memperlihatkan bahwa 'Shutter' bukan sekadar film horor, melainkan media untuk menyuarakan realitas kelam yang sering disembunyikan. Film ini diharapkan menjadi pengingat agar dunia pendidikan dan lingkungan sosial lebih sadar dan berani menindak setiap bentuk kekerasan seksual.
Komentar
Kirim Komentar