Melihat Minat Investor di Tengah Peluang Saham Baru 2026

Melihat Minat Investor di Tengah Peluang Saham Baru 2026

Jagat maya sedang ramai membicarakan topik ini. Banyak netizen yang penasaran kebenaran di balik Melihat Minat Investor di Tengah Peluang Saham Baru 2026. Berikut fakta yang berhasil kami kumpulkan.


aiotrade,
JAKARTA — Tahun 2026 akan menjadi tahun yang dinantikan oleh banyak perusahaan dalam menjajal penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO). Berbagai perusahaan telah menyiapkan diri untuk memasuki pasar modal, dan minat investor terhadap saham-saham baru ini juga meningkat. Bagaimana potensi kinerja saham pendatang baru di tahun ini?

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat bahwa pada 2025, sebanyak 26 emiten baru telah melakukan IPO dengan total dana yang terkumpul mencapai Rp18,11 triliun. Kinerja saham dari perusahaan-perusahaan tersebut tergolong mengesankan, terutama setelah proses pencatatan saham mereka.

Salah satu contohnya adalah PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU), yang sahamnya melonjak hingga 574,22% sejak IPO pada Januari 2025 hingga saat ini. Sementara itu, harga saham PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA) naik 569,9% sejak IPO pada 2025. Bahkan, saham PT Indokripto Koin Semesta Tbk. (COIN) melonjak hingga 2.818,52% sejak peluncuran sahamnya.

Tahun ini, BEI menargetkan sebanyak 50 perusahaan baru yang akan terdaftar. Menurut data terakhir dari BEI, ada 9 perusahaan yang sedang dalam proses pipeline atau antrean pendaftaran saham. Hal ini menunjukkan bahwa pasar modal masih sangat dinamis dan siap menerima emiten baru.

Analis Kiwoom Sekuritas, Miftahul Khaer, menyatakan bahwa respons pasar terhadap IPO tahun ini kemungkinan besar akan positif. "Dapat diekspektasikan bahwa permintaan (demand) pasar tetap tinggi. Terlebih lagi, beberapa saham IPO terakhir masih bertahan di atas nilai offering-nya, sehingga memberikan return yang positif," ujarnya.

Selain itu, dengan target BEI sekitar 50 perusahaan baru dan pipeline yang cukup padat, pasar masih terbuka bagi IPO berkualitas. Namun, Miftahul menekankan bahwa investor perlu lebih disiplin karena tidak semua IPO akan menghasilkan kinerja yang sama seperti 2025.

Beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan oleh investor ketika mengincar saham IPO antara lain: valuasi saat penawaran, penggunaan dana IPO, rekam jejak pemegang saham pengendali, free float dan likuiditas, serta ketahanan model bisnis terhadap siklus ekonomi. Dengan demikian, peluang keuntungan dari saham IPO tetap ada di 2026, tetapi harus didasarkan pada seleksi fundamental, bukan sekadar euforia pencatatan.

Sebelumnya, Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset, menyatakan bahwa investor cenderung menilai kekuatan konglomerasi atau pengendali di balik emiten baru IPO. Banyak saham IPO tahun ini merupakan bagian dari konglomerasi besar. Contohnya, CDIA merupakan afiliasi dari konglomerasi taipan Prajogo Pangestu, sementara RATU berasal dari besutan taipan Happy Hapsoro.

"Orang kembali melihat pemiliknya, karena nanti ketahuan grup-grup yang mempertahankan harga. Lihat siapa di balik perusahaan IPO," kata Rully.

Maximilianus Nicodemus, Associate Director Pilarmas Investindo, menambahkan bahwa lonjakan harga saham COIN, CDIA, dan RATU setelah IPO didorong oleh narasi yang dibangun oleh emiten kepada pelaku pasar. Ia menekankan bahwa fundamental bisnis dan valuasi tetap menjadi pertimbangan utama.

"Kemudian, ada ekspektasi terhadap saham baru. Jika narasi kuat dan fundamental mendukung, maka ekspektasi tinggi. Misalnya, CDIA memiliki dasar yang kuat," ujar Nicodemus.

Selain itu, dukungan dari sosok di belakang emiten, seperti konglomerat atau entitas induk yang kuat, juga menjadi faktor penting. Namun, menurut Nicodemus, investor juga akan menilai valuasi di masa depan.

"Jika sektornya bagus, bisnisnya bagus, apalagi unik. Kemudian fundamentalnya harus dilihat. Jika jangka pendek saat ini sudah mahal, tapi jangka panjang fundamental masih meyakinkan, bisa saja ada penguatan," ujarnya.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. aiotrade tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Kesimpulan: Bagaimana menurut Anda kejadian ini? Jangan lupa share artikel ini agar teman-teman Anda tidak ketinggalan info viral ini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar