Mempertahankan Lahan Persawahan di Angkinang

Mempertahankan Lahan Persawahan di Angkinang

Informasi terkini hadir untuk Anda. Mengenai Mempertahankan Lahan Persawahan di Angkinang, berikut adalah fakta yang berhasil kami rangkum dari lapangan.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Pengalaman Berjalan di Tengah Perubahan

Pada hari Sabtu (18/10/2025) sore, saya berjalan menuju sawah warga di sekitar Desa Angkinang, kecamatan yang sama dengan saya. Jaraknya hanya sekitar dua ratus meter dari rumah saya di Desa Angkinang Selatan. Langit mulai meredup; sinar senja lembut menatap, membelai hamparan hijaunya lahan yang sedang dalam pengerjaan. Lahan sawah itu berada di antara bangunan-bangunan yang mulai menjamur: rumah, gudang, tembok, beton—bukti bahwa zaman terus berjalan, bahwa desa pun mulai berubah wajahnya.

Namun, di tengah segala perubahan itu, para petani di Angkinang tetap memilih mengolah sawah mereka. Meskipun lahan semakin "terjepit", meskipun tantangan zaman semakin nyata, semangat untuk tetap bertani tampak kuat di sana. Saya menyaksikan bagaimana alunan aktivitas pengolahan lahan mulai muncul: bajak cakar yang mulai menggores tanah, debu tipis yang terangkat, garis-garis lurus mulai terbentuk—menandai niat menanam padi dalam waktu dekat.

Di saat banyak generasi muda mungkin tertarik ke kota, atau lahan dialihfungsikan, para petani di sini tetap mempertahankan ritual kuno: menyiapkan tanah, menunggu, menanam, memupuk, menuai. Ada keindahan tersendiri dalam "kesederhanaan" itu: suara gemerisik alang-alang di pinggir sawah, aroma tanah yang baru dibajak setelah hujan sore, siluet petani yang berjalan di antara petak-petak sawah sambil menatap ke depan—ke masa panen, ke harapan kehidupan.

Melihat itu semua, saya merasa tersentuh oleh kekuatan akar budaya agraris yang masih hidup. Di antara gegap gempita pembangunan dan perubahan, suara-suara alam dan suara manusia yang bekerja di tanahnya tetap terdengar. Saya teringat bahwa wilayah kami, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, di mana Kecamatan Angkinang berada, memang dikenal sebagai daerah yang memiliki luas tanam padi cukup besar—sebagai bagian penting bagi ketahanan pangan lokal.

Saya pun merenung: Apa makna sawah di zaman now? Bila dulu sawah hanya ladang mencari nafkah, kini ia juga menjadi simbol. Simbol bahwa kita tidak melupakan identitas kita sebagai orang Banua, sebagai penggarap tanah, sebagai penentu masa depan pangan. Simbol bahwa perubahan bukan berarti hilangnya akar—tetapi bisa berarti transformasi dengan tetap menjaga nilai-nilai dasar.

Saya berharap bahwa saat padi nanti menguning dan bergoyang-goyang tertiup angin, saat petani tersenyum melihat hasil kerja kerasnya, kita semua di Angkinang dan sekitarnya dapat bangga bahwa kita masih punya lahan terbuka untuk hidup, untuk bertani, untuk menjaga warisan. Semoga lahan-lahan seperti ini terus lestari, bukan hanya secara fisik tetapi juga secara makna: lestari bagi petani, lestari bagi budaya, lestari bagi kehidupan.

Dan bagi saya, pada sore itu, berjalan hanya dua ratus meter dari rumah—saya dibukakan mata dan hati bahwa begitu dekat dengan rumah, saya bisa menyaksikan sejarah yang masih berlangsung: sawah yang dikepung oleh beton dan bangunan, namun tetap berdiri teguh. Tetap menyuarakan kasihnya terhadap tanah.

Kesimpulan: Demikian informasi mengenai Mempertahankan Lahan Persawahan di Angkinang. Semoga bermanfaat Anda hari ini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar