Menanam Kesadaran Keluarga Sehat, Langkah Kota Malang Atasi Tren Childfree di Kalangan Muda

Menanam Kesadaran Keluarga Sehat, Langkah Kota Malang Atasi Tren Childfree di Kalangan Muda

Berita terbaru hadir untuk Anda. Mengenai Menanam Kesadaran Keluarga Sehat, Langkah Kota Malang Atasi Tren Childfree di Kalangan Muda, berikut adalah fakta yang berhasil kami rangkum dari lapangan.
Menanam Kesadaran Keluarga Sehat, Langkah Kota Malang Atasi Tren Childfree di Kalangan Muda

Upaya Pemerintah Kota Malang dalam Membangun Kesadaran Generasi Muda tentang Keluarga Sehat

Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos-P3AP2KB) terus berupaya membangun kesadaran generasi muda akan pentingnya membentuk keluarga yang sehat dan berkualitas. Salah satu fokus utama yang kini menjadi perhatian adalah pencegahan meluasnya tren childfree, yaitu pandangan pasangan suami istri yang secara sadar memilih untuk tidak memiliki anak.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Menurut Kepala Dinsos-P3AP2KB Kota Malang, Donny Sandito Widoyoko, melalui Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Dina Sonyalia Catur Rina, pihaknya melakukan berbagai langkah edukatif dan persuasif agar fenomena tersebut tidak berkembang di kalangan muda Kota Malang. Ia menegaskan bahwa tren childfree bukan hanya isu gaya hidup, tetapi juga tantangan baru dalam kebijakan kependudukan nasional.

Program Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya)

Salah satu langkah konkret yang dijalankan adalah pelaksanaan Program Taman Asuh Sayang Anak atau Tamasya. Program ini dirancang untuk membantu para ibu muda, khususnya yang bekerja dan tidak tinggal bersama orang tua, agar tetap bisa menjalankan peran pengasuhan dengan baik. Melalui Tamasya, pemerintah ingin menanamkan bahwa peran keluarga tetap bisa berjalan optimal di tengah dinamika sosial dan ekonomi masyarakat modern.

Selain itu, edukasi juga dilakukan melalui berbagai wadah pembinaan seperti Bina Keluarga Balita, Bina Keluarga Remaja (BKR), dan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIKR). Kegiatan-kegiatan tersebut menyasar remaja dan pelajar di sekolah siaga kependudukan.

“Biasanya yang kami sentuh itu remaja, terutama untuk isu seperti pernikahan dini, narkoba, dan fenomena sosial termasuk childfree. Kami masuk lewat program Bina Keluarga Remaja dan PIKR,” terang Sonya.

Langkah Sesuai Kebijakan Nasional

Ia menjelaskan, langkah-langkah ini selaras dengan kebijakan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang juga menjadikan isu childfree sebagai salah satu fokus nasional. Menurutnya, pemerintah kini tidak hanya berupaya menekan laju pertumbuhan penduduk, tetapi juga membangun kesadaran baru bahwa memiliki keluarga yang sehat, bahagia, dan berkualitas merupakan bagian penting dari pembangunan manusia Indonesia.

“Kalau dulu fokusnya pada pengendalian jumlah penduduk, sekarang tantangannya berbeda. Kita harus mampu menanamkan kesadaran pada generasi muda bahwa membangun keluarga adalah proses yang penting dan bernilai,” ujarnya.

Akar Masalah Childfree

Sonya menambahkan bahwa keputusan sebagian anak muda untuk memilih childfree biasanya berakar dari kekhawatiran terhadap kemampuan pengasuhan, kondisi ekonomi, serta pandangan hidup yang terbentuk melalui media sosial. Di era digital saat ini, berbagai narasi dan diskusi publik di platform daring sering kali memengaruhi pola pikir remaja terhadap konsep pernikahan dan keluarga.

“Mungkin ada yang berpikir, kalau nanti punya anak, siapa yang akan mengurusnya? Mereka melihatnya sebagai beban yang panjang. Persepsi seperti ini harus kita luruskan dengan edukasi yang tepat,” kata Sonya.

Pendekatan Edukatif dan Persuasif

Pemerintah pun menyadari bahwa setiap keputusan terkait keluarga bersifat personal, namun penting untuk memastikan bahwa generasi muda memiliki pemahaman yang utuh sebelum mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Oleh karena itu, pendekatan yang dilakukan tidak bersifat memaksa, melainkan edukatif dan membangun kesadaran secara perlahan.

Saat ini, Dinsos-P3AP2KB belum memiliki data kuantitatif yang menunjukkan seberapa besar tren childfree di Kota Malang. Menurut Sonya, fenomena tersebut lebih banyak diketahui dari media sosial dan percakapan publik, sementara survei atau analisis mendalam belum dilakukan.

“Kami belum memiliki data resmi terkait hal ini, jadi kami masih mengamati dari tren yang berkembang di masyarakat,” ujarnya.

Meski demikian, pihaknya berkomitmen untuk terus melakukan sosialisasi dan penyuluhan di berbagai lapisan masyarakat. Melalui kegiatan di sekolah, komunitas remaja, dan kelompok keluarga, pemerintah berharap dapat memperkuat pemahaman tentang pentingnya peran keluarga sebagai fondasi kehidupan sosial.

“Yang paling penting adalah bagaimana kita bisa memberikan pemahaman bahwa memiliki keluarga bukan sekadar kewajiban, tetapi juga bagian dari membangun masa depan bangsa. Anak-anak adalah penerus peradaban, dan tanggung jawab pengasuhan adalah investasi jangka panjang,” pungkas Sonya.


Kesimpulan: Demikian informasi mengenai Menanam Kesadaran Keluarga Sehat, Langkah Kota Malang Atasi Tren Childfree di Kalangan Muda. Semoga bermanfaat Anda hari ini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar