Musim dingin, badai, dan kelaparan menghancurkan Gaza

Musim dingin, badai, dan kelaparan menghancurkan Gaza

Jagat maya sedang ramai membicarakan topik ini. Banyak netizen yang penasaran kebenaran di balik Musim dingin, badai, dan kelaparan menghancurkan Gaza. Berikut fakta yang berhasil kami rangkum.
Musim dingin, badai, dan kelaparan menghancurkan Gaza

Kondisi Darurat di Gaza: Bantuan Kemanusiaan Dipangkas dan Warga Menghadapi Kesengsaraan

Di tengah krisis kemanusiaan yang semakin memburuk, warga Gaza kini menghadapi tantangan berat dalam bertahan hidup. Anak-anak terlihat berusaha mengeringkan tenda mereka yang terendam banjir akibat hujan deras di wilayah tersebut. Video yang viral di media sosial menunjukkan pemandangan menyedihkan yang mencerminkan kehidupan yang penuh ketidakpastian. Debu dari reruntuhan yang basah oleh air hujan tercium tajam di udara, sementara tanah yang meluap dari sistem drainase yang rusak total mengancam kehidupan warga.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

PBB baru-baru ini mengumumkan kabar yang sangat menyedihkan. Pada Senin, 15 Desember 2025, jatah makanan bagi warga Gaza dipangkas hingga setengahnya. Juru bicara PBB, Farhan Haq, menjelaskan bahwa pembatasan masuknya bantuan kemanusiaan oleh otoritas 'Israel' telah mencapai titik kritis. Hal ini memperparah kesulitan yang dialami ribuan keluarga yang tinggal di tenda darurat.

Kalori yang Hilang di Pintu Perbatasan

Bantuan yang biasanya terbatas kini semakin menyusut. Satu paket bantuan hanya berisi satu kantong tepung dan 1,5 kilogram biskuit berenergi tinggi. Menurut Haq, paket tersebut hanya mencakup setengah dari kebutuhan kalori minimum per keluarga untuk sisa bulan ini. Ia menyalahkan otoritas 'Israel' sebagai penyebab utama masalah ini. Pembatasan di titik perlintasan, larangan jenis barang tertentu, serta kesulitan dalam mendapatkan visa bagi pekerja kemanusiaan menjadi hambatan sistemik.

Namun, pihak 'Israel' melalui COGAT (Coordination of Government Activities in the Territories) membantah klaim tersebut. Mereka menyatakan bahwa sekitar 600 hingga 800 truk pengangkut air, makanan, dan bahan bakar masuk setiap hari. Namun, realita di lapangan menunjukkan sebaliknya. Badai musim dingin mulai menerjang, memperlihatkan betapa rapuhnya perlindungan bagi warga sipil.

Jeruji Tanpa Nama dan Mogok Makan di Seberang Lautan

Krisis ini tidak hanya terjadi di meja makan, tetapi juga di balik terali besi. Data dari Palestinian Prisoner’s Society menunjukkan bahwa sekitar 9.300 warga Palestina ditahan di penjara 'Israel'. Dari jumlah tersebut, 350 di antaranya adalah anak-anak yang ditahan di penjara Ofer dan Megiddo. Banyak dari mereka yang ditahan di Tepi Barat memiliki status "tahanan administratif", yaitu istilah hukum yang memungkinkan seseorang dipenjara tanpa dakwaan atau pengadilan.

Selain itu, sekitar 1.220 warga Gaza diklasifikasikan sebagai "kombatan yang melanggar hukum", status yang memungkinkan penahanan tanpa batas waktu. Gema penderitaan ini sampai ke tanah Inggris. Lebih dari 50 anggota parlemen Inggris mendesak Menteri Kehakiman David Lammy untuk segera bertindak terkait aksi mogok makan para aktivis Palestine Action di penjara-penjara Inggris. Para aktivis ini ditangkap setelah melakukan protes terhadap fasilitas militer yang terkait dengan produsen senjata 'Israel', Elbit Systems. Kondisi kesehatan mereka dilaporkan memburuk drastis dan berada dalam fase yang mengancam jiwa.

Perang Genosida dan Penolakan ICC

Perang genosida 'Israel' di Gaza telah menelan korban jiwa sedikitnya 70.667 warga Palestina dan melukai 171.151 orang sejak Oktober 2023. Sementara itu, ICC (International Criminal Court) baru saja menolak upaya hukum 'Israel' untuk memblokir penyelidikan atas tindakan mereka di wilayah tersebut. Di tengah perdebatan hukum dan retorika politik, warga Gaza hanya punya satu pertanyaan: sampai kapan sepotong biskuit harus dibagi untuk menyambung nyawa yang kian tak berharga di mata dunia?


Kesimpulan: Bagaimana menurut Anda kejadian ini? Jangan lupa share artikel ini agar teman-teman Anda tidak ketinggalan berita heboh ini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar