Pahami Hubungan Manusia dan Alam Semesta, Prof Suarka Jelaskan Makna Utsawa Dharma Gita 2025

Pahami Hubungan Manusia dan Alam Semesta, Prof Suarka Jelaskan Makna Utsawa Dharma Gita 2025

Informasi terkini hadir untuk Anda. Mengenai Pahami Hubungan Manusia dan Alam Semesta, Prof Suarka Jelaskan Makna Utsawa Dharma Gita 2025, berikut adalah fakta yang berhasil kami rangkum dari lapangan.
Pahami Hubungan Manusia dan Alam Semesta, Prof Suarka Jelaskan Makna Utsawa Dharma Gita 2025

Utsawa Dharma Gita 2025: Refleksi tentang Hubungan Manusia dan Alam

Di tengah maraknya bencana alam dan ketidakteraturan lingkungan yang semakin terasa, Utsawa Dharma Gita (UDG) 2025 hadir bukan hanya sebagai ajang pelestarian seni suara keagamaan, tetapi juga sebagai ruang refleksi mendalam tentang hubungan manusia dan alam. Acara ini menjadi wadah untuk menyampaikan pesan-pesan spiritual dan ekologis yang relevan dengan kondisi saat ini.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Kurator UDG XXXII, Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum, menjelaskan bahwa melalui sastra suci Weda dan lontar-lontar klasik, masyarakat diajak kembali memahami filosofi penunggalan manusia dengan alam semesta. Bagaimana kita menggali dan memuliakan kekuatan sumber daya alam, itulah bentuk pemuliaan kita terhadap semesta, ujarnya.

Dalam konteks membaca Palawakya tahun ini, pihaknya mengangkat topik-topik yang diangkat dari Lontar Wrhaspati Kalpa dan Bhuana Kosa, yang berisi ajaran tentang bagaimana kearifan lokal mengajarkan manusia untuk memuliakan, memberdayakan, dan mengelola alam secara selaras. Menurutnya, inti ajaran dalam susastra Hindu Nusantara menegaskan bahwa alam adalah cerminan perilaku manusia, keduanya saling silih pati urip atau saling membutuhkan.

Ajaran tentang Keseimbangan dan Tanggung Jawab

Ketika manusia berperilaku serakah, alam pun menunjukkan gejala kerusakan. Kalau alam rusak, itu pantulan dari perilaku manusia yang egois. Alam tidak lagi kita perlakukan sebagai subjek, tetapi objek. Padahal, keduanya sejatinya menyatu, tegasnya.

Lebih jauh, Prof. Suarka menjelaskan bahwa Dharma Gita sejatinya adalah gerakan literasi spiritual dan ekologis. Sastra, menurutnya, bukan hanya indah secara estetika, tetapi juga menjadi jalan untuk mencerahkan batin manusia. Sastra itu hadir untuk meliterasi masyarakat, terutama generasi muda, agar kembali eling terhadap tanggung jawabnya menjaga alam. Karena kini, semesta kita sedang dalam kondisi disorder, tidak teratur, katanya.

Ia mencontohkan istilah dalam naskah klasik, Nitisastra "Padiningkali, yang menggambarkan dunia yang sudah kacau akibat manusia kehilangan keseimbangan batin. Melalui Utsawa Dharma Gita, peserta dan masyarakat diajak melajah samilang megening, megening samilang melajah belajar dari alam, dan memahami makna hidup dari keteraturan semesta itu sendiri.

Peran Sastra dalam Kesadaran Ekologis

Bagi Prof. Suarka yang juga Guru Besar Jawa Kuno Fakultas Ilmu Budaya Unud, menyebut bencana-bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini bukan semata fenomena fisik, tetapi juga refleksi batin kolektif manusia. Ego manusia yang berakar pada manah atau kesenangan semata, menyebabkan alam tereksploitasi. Maka, melalui Dharma Gita, kita ingin menyadarkan manusia agar hidupnya digerakkan oleh budi, bukan sekadar keinginan. Kalau manahnya manuh (selaras), maka laksananya dayuh (perbuatannya baik), ujarnya menutup.

Dengan demikian, Utsawa Dharma Gita 2025 tidak hanya menjadi wadah seni keagamaan, tetapi juga gerakan kesadaran ekologis berbasis spiritual dan budaya, yang meneguhkan kembali jati diri manusia Bali sebagai penjaga harmoni alam semesta, Bhuana Agung dan Bhuana Alit, dalam satu kesatuan suci.

Poin-Poin Penting dalam Utsawa Dharma Gita 2025

  • Pembelajaran dari Sastra Klasik: UDG 2025 mengambil tema dari lontar-lontar klasik seperti Lontar Wrhaspati Kalpa dan Bhuana Kosa yang mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
  • Refleksi Spiritual: Acara ini menjadi sarana untuk merenungkan kembali hubungan manusia dengan alam, serta memahami bahwa alam adalah cerminan dari perilaku manusia.
  • Gerakan Literasi: Sastra dianggap sebagai alat untuk mencerahkan batin dan meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, tentang tanggung jawab menjaga alam.
  • Pemahaman tentang Keteraturan: Melalui Dharma Gita, peserta diajak belajar dari alam dan memahami makna hidup dari keteraturan semesta.
  • Pentingnya Kesadaran Batin: Bencana alam disebut sebagai refleksi batin kolektif manusia, sehingga perlu adanya kesadaran akan pentingnya hidup yang selaras dan penuh budi.


Kesimpulan: Demikian informasi mengenai Pahami Hubungan Manusia dan Alam Semesta, Prof Suarka Jelaskan Makna Utsawa Dharma Gita 2025. Semoga bermanfaat Anda hari ini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar