Panti Jompo Bukan Tempat Dibuang

Panti Jompo Bukan Tempat Dibuang

Informasi terkini hadir untuk Anda. Mengenai Panti Jompo Bukan Tempat Dibuang, berikut adalah fakta yang berhasil kami himpun dari lapangan.

Kehidupan di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia I


Neli Roslina kini berusia 76 tahun. Dirinya tengah duduk di kasurnya saat kami mampir ke salah satu unit di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Mulia I. Satu unit diisi puluhan penghuni putri, sangat padat. Neli harus berbagi kamar dengan puluhan teman penghuni panti yang lain. Saking padatnya, batas antar kasur hanya menyisakan sela-sela kecil untuk para penghuni lewat. Ada juga yang kasurnya saling menempel satu dengan yang lain. Saat itu, para penghuni panti yang berada di unit sebagian sedang tidur-tiduran, menonton tv, dan ada juga yang sedang mengobrol. Saat kami masuk, ada beberapa lansia yang menyapa dan menghampiri kami dengan ramah, ada yang cuma melihat-lihat bingung.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.


Kami menuju kasur Neli yang ada di paling pojok ruangan, termasuk yang paling rapih di antara kasur-kasur yang lain. Sambil duduk, sesekali dia memegangi kakinya, dia mengaku ada sakit rematik, ini katanya cukup mengganggu aktivitasnya di usia senja. Lalu Neli mempersilakan kami duduk di kasur sebelahnya, kasur Neli tidak berdempetan dengan sebelahnya, lebih lega. Perempuan yang dulunya bekerja sebagai penjahit sekaligus wiraswasta tata rias dan busana ini mulai bercerita kalau dia memilih tinggal di panti atas kemauannya sendiri. "Di sini karena saya itu ke sini itu emang kehendak sendiri. Oh, ya. Jadi, ya saya fun aja lah, senang di sini," ujarnya saat ditemui aiotrade.app, Rabu (24/9). Neli itu kini sudah tinggal di PSTW Budi Mulia I selama 8 tahun, ia berasal dari Kuningan, Jawa Barat. Namun, dirinya sudah lama menetap di Jakarta sejak masih muda.


Selama di panti Neli telah mengikuti berbagai kegiatan di sana, yang paling ia suka adalah menjahit. Tapi karena faktor usia dan melemahnya kekuatan fisik, kini dia jarang menjahit dan memilih melakukan kegiatan lain. Saat kami berkunjung, kebetulan Neli sedang bersiap mengikuti latihan angklung bersama warga panti yang lain. Neli bercerita, dia memilih tinggal di panti karena ia sudah tidak punya keluarga, suaminya sudah tiada dan ia tidak memiliki anak dari pernikahannya. Sebenarnya ia punya adik beda ayah, namun ia enggan menyusahkan sang adik dan lebih memilih hidup di panti. “Lagi kalau saya pikir gini, kalau saya jadi beban dia, saya enggak enak sama suaminya. Jadi, ya udah lebih baik saya di panti aja deh.” katanya. “Ya nomor satu ya alhamdulillah saya ada di panti jadi saya ada tempat bernaung,” tambahnya.

Soal hubungannya dengan penghuni panti lainnya, ia mengaku kalau penghuni panti berasal dari banyak latar belakang sehingga ia harus banyak mengimbangi atau menyesuaikan diri kawan-kawannya. Ditanya soal apakah senang hidup di panti, Neli mengaku senang. “Happy dong.” kata Neli. Betul kata Neli, penghuni panti jompo milik pemerintah memang beragam.


Kepala Satuan Pelaksana Pembinaan Sosial PSTW Budi Mulia 1 Ramlan Nuzul menyebutkan, lansia yang dirawat datang dari latar belakang yang bermacam-macam, ada lansia yang sulit diatur, biasanya adalah mereka yang dulunya hidup di jalanan. “Sebagian mereka ini adalah orang jalanan. Yang di jalanan itu lebih susah diatur. Mereka lebih susah diarahkan, mereka lebih cenderung kadang-kadang sifatnya sok jagoan, karena dulunya mantan preman, ada juga yang mantan sopir gitu,” ujarnya. Nuzul bilang, PSTW BM 1 kini panti menampung maksimal 250 lansia, selalu penuh. Tidak ada rencana penambahan kapasitas di panti ini. "Kasihan. Nanti kalau (kapasitas ditambah), Mbak. Lihat kondisi tempat tidurnya itu sudah jadi masing-masing, kadang-kadang sudah enggak bisa bergerak," ujarnya.


Saat kami di sana, para lansia sedang melakukan berbagai kegiatan. Sebagian latihan angklung bersama pelatih yang didatangkan langsung dari Bandung, sebagaian sedang berjalan-jalan dan mengobrol dengan para perawat dan beberapa anak PKL, sedangkan beberapa lansia laki-laki menonton TV di area belakang dekat unit mereka. Nuzul bilang, hari rabu adalah hari paling bahagia untuk para penghuni panti. Ada kegiatan latihan angklung dan ada ‘panggung gembira’ yang menjadi wadah mengaktualisasikan diri bagi para lansia. “Mereka nyanyi, saling menghibur dengan dalam kondisi yang saling bergembira gitu ya. Mereka ikut joget, bersenang-senang seperti itu,” terangnya. Selain di hari rabu, lansia punya banyak kegiatan setiap harinya, tujuannya untuk menjaga kebugaran dan kemampuan berpikir para lansia mulai dari menjahit sampai bercocok tanam hidroponik.


Selain itu, lansia juga diajak berwisata setahun sekali. Sehari sebelum aiotrade.appdatang atau di hari selasa, mereka baru saja jalan-jalan ke ancol. Kegiatan keagamaan juga tidak absen, biasanya dilakukan di hari Senin baik untuk lansia yang beragama muslim maupun non-muslim. Kebutuhan pokok juga dijamin, semuanya gratis ditanggung Dinas Sosial DKI Jakarta. "Penyediaan permakanan bagi lansia untuk setiap harinya untuk makan 3 kali sehari, penyediaan sandang untuk mengganti pakaian setiap harinya, tempat tinggal yang layak agar meraka merasa aman dan nyaman," ujar Plt. Kepala PSTW Budi Mulia 1 Rosihas Arsyad dalam keterangan tertulis, Rabu (24/9). Selain itu, ada pula pemenuhan kebutuhan peralatan dan perlengkapan mandi, pelayanan kesehatan, dan pelayanan kependudukan. Saat ini, lansia yang tinggal di PSTW BM 1 hanyalah lansia terlantar yang terlebih dahulu ditampung di Panti Sosial Bina Insan 1 dan 2.

Sosiolog: Panti Jompo Bukan Tempat Buangan


Sosiolog Universitas Indonesia, Ida Ruwaida mengatakan, stigma panti jompo masih kuat di Indonesia, hal ini tidak terlepas dari nilai-nilai yang dijunjung masyarakat Indonesia. “Karena kan yang namanya salah satunya tuh misalnya kepatuhan orang, kepatuhan anak itu ditandai dengan kesediaannya untuk merawat orang tua, karena yang namanya nilai anak itu kan bukan hanya nilai ekonomi sosial saja,” terangnya kepada aiotrade.app, Kamis (11/9). Dia mengatakan sudah mulai ada pencarian dari nilai-nilai yang diyakini tersebut walaupun resistensi terhadap panti jompo masih tetap ada. “Tapi ada mulai sikap yang lebih terbuka atau pencairan gitu ya. Meskipun di sisi yang lain sebetulnya masih banyak resistensi terhadap keberadaan dari Panti Werda,” tambahnya. Mengenai dampak sosial dari lansia yang bermukim di panti jompo, Ida mengingatkan kalau hal itu tak terlepas dari isu kelas sosial. Panti jompo beragam, sangat tergantung kelas sosial. “Kalau Panti Werda yang kita bayar lumayan mahal dengan fasilitas yang memadai, mungkin itu dalam tanda kutip tidak punya pengaruh terlalu banyak, tapi tetap punya dampak psikologis terutama pada orang tuanya karena kan dia dalam tanda kutip bisa jadi jarang dikunjungi oleh anak-anaknya,” katanya.


“Nah, tapi kalau misalnya dia di Panti Werda yang model Kemensos, Kementerian Sosial kan punya panti-panti sosial ya untuk para lansia. Nah, itu sebetulnya harus dipertanyakan, layanannya seperti apa, mendapatkan perlakuan yang layak, makanan yang layak dan sebagainya,” sambungnya. Ida menegaskan, panti jompo bukan tempat buangan, tapi perlu diingat pula bahwa panti jompo bukan satu-satunya solusi. “Saya kira ini Panti Werda sebetulnya tidak hanya menjadi solusi dalam konteks kehidupan lansia. Karena negara sebetulnya juga bisa ikut berkontribusi bagaimana lansia ini bisa diperhatikan,” ujarnya. Ida menekankan pada peran aktif negara. Baginya harus ada intervensi yakni sejauh mana negara mencoba melihat kesejahteraan dan perlindungan terhadap lansia itu harus jadi program sendiri, juga melalui pendekatan-pendekatan berbasis komunitas. Namun, sayangnya, perhatian pemerintah belum sepenuhnya menyasar isu-isu well-being salah satunya lansia. ‘Saya yang ingin sampaikan di perkotaan, bahkan di pedesaan ya itu tadi, pendekatan berbasis komunitas, komunitasnya harus ikut terlibat di dalam merawat dan mengasuh lansia gitu. Termasuk negara dalam hal ini. Negara ini kan susahnya, duitnya nggak lari ke situ,’ tegasnya.

Lain Cerita di Senior Living Premium


Berbeda cerita dengan Neli, Umar menghabiskan masa tuanya di senior living, fasilitasnya setara hotel mewah. Umar, dulu pernah bekerja di sektor pertambangan, kini tinggal di RUKUN Senior Living Sentul sebagai warga. Warga artinya mereka yang tinggal di sana jangka panjang. Kini ada 24 warga di RUKUN Senior Living, termasuk Umar. Di RUKUN Senior Living, para warga dan member disebut 'senior'. Untuk member, merujuk pada mereka yang bergabung tetapi tidak menginap, konsepnya seperti anggota senior club atau daycare. Awalnya pria berusia 63 tahun itu bergabung ke RUKUN Senior Living karena terkena sakit stroke dan membutuhkan perawatan. Ia enggan menyusahkan anak-anaknya. "Saya berkepikiran kalau saya di rumah kasihan anak saya. Tiap jam dia telepon, ngecek-ngecek, ngecek-ngecek terus. Ya udah, cari tempat yang apa? Tempat seperti inilah," terangnya saat bertemu aiotrade.app, Jumat (3/10).


Kini ia sudah sehat, ia bercerita sambil mengajari kami bermain mahjong yang disediakan di game room. Ini salah satu permainan favoritnya. Selain itu, banyak kegiatan lain yang ia lakukan di sini. "Saya tuh hobi nonton, di kamar ada Netflix, tapi bawa laptop sendiri. Di sini (game room) juga ada Netflix," ujarnya. "Tiap bulan juga ada go to mall. Go to mall. Iya, bareng-bareng. Kan mereka kan butuh kebutuhan buat bulanan nih. Nah itu mereka belanja di supermarket," tambahnya. Umar salah satu senior mandiri yang memilih tinggal jangka panjang, sudah 4 tahun. Ia sering keluar untuk melakukan aktivitas pribadi dengan izin dari pihak senior living. Ia awalnya tidak punya rencana untuk tinggal di senior living. Namun, ia mengaku merasa lebih senang ketimbang hanya di rumah bersama sopir. "Ada juga satu dua orang yang merasa dikucilkan, dibuang. Tapi kita sebagai teman, ya bilangin, "Ini enggak dibuang, justru di sini tempat enak kok. Mau dijemput kapan aja silakan, mau diajak ke mana-mana silakan." Bebas di sini, enggak ada larangan, yang penting izin gitu. Pokoknya kalau saya bilang sih, untuk ke para senior-senior yang di luar, lebih baik coba dulu di sini. Pasti kerasan," ceritanya.


Umar juga mengingatkan anak muda supaya giat menabung guna menjamin kenyamanan di usia tua. "Kalau advice saya sih, pada saat kamu masih muda, harus giat kerja, nabung, supaya enggak ngerepotin orang. Jadi begitu udah dewasa, udah lansia, kamu udah ada tabungan buat tinggal di sini," ungkap Umar. Menurut Ryan Tejo Kusumo, Head of Division RUKUN Senior Living, warga senior di RUKUN Senior Living umumnya datang dari kalangan pengusaha atau mereka yang dulunya bekerja di luar negeri. Adapun pasar yang dibidik adalah kelompok ekonomi menengah ke atas. "Kita main di segment high end sebetulnya. Kita high end sebetulnya ya. Kalau target kita ke situ sebetulnya," ujar Ryan saat ditemui, Jumat (3/10).


Bukan tanpa alasan, hal tersebut tak terlepas dari fasilitas yang ditawarkan serta pemanfaatan teknologi dan kesiapan SDM yang menunjang operasional senior living. "Kalau modal tentu besar ya. Kita lihat fasilitasnya juga kita kan main tadi ya di kalangan atas ya. Konsumen yang atas. Kemudian kita juga banyak invest di teknologi. Teknologi, kita sekarang pakai dokumentasi kita sudah digital. Kita pakai vendor kerja sama sama Singapura," terangnya." terangnya. Harga yang dipatok untuk bergabung menjadi warga di RUKUN Senior Living mulai dari Rp 21 juta sampai Rp 39 juta tergantung kelas kamar yang dipilih.


Sesuai dengan harganya, kamar-kamar di RUKUN Senior Living lebih mirip dengan hotel, semua kamar mandi dalam. Bisa diisi satu sampai dua orang. Tidak hanya kamar, ada pula fasilitas-fasilitas penunjang lain. Fasilitas nan banyak tersebut juga dimanfaatkan untuk memperoleh pemasukan tambahan. "Karena memang secara okupansi kita juga masih 80%-an, sedangkan fasilitas kita idle gitu ya. Jadi kita fungsikan sebetulnya seperti ballroom, kita juga open untuk corporate atau dinas meeting atau conference, itu bisa pakai beberapa ruangan di kita," ujarnya.

Potensi Pertumbuhan Bisnis di Sektor Layanan Lansia

Bisnis di sektor layanan lansia swasta tumbuh, mengacu pada mereka yang memberikan layanan untuk para lansia seperti senior living, daycare, senior club, caregiver, nursing home, dan perawatan demensia yang berbentuk perusahaan, bukan berbentuk yayasan.


Ketua Asosiasi Senior Living Indonesia (ASLI) sekaligus Founder RUKUN Senior Living, Herman Kwik menyebutkan, bisnis di sektor ini sudah ada sejak beberapa tahun belakangan. Sudah sejak 2015 tahun ASLI berdiri. Herman memprediksikan sektor ini berkembang di beberapa tahun ke depan. “Sejak itu perkembangannya relatif terlihat. Meskipun tidak cepat, pelan-pelan. Tetapi perkembangan industrinya ada dan peminat untuk masuk juga banyak yang sudah mulai mengambil langkah persiapan,” ujarnya. “Tapi memang kita masih bilang mungkin dua sampai lima tahun ke depan baru akan lebih kelihatan jumlahnya,” tambahnya. Selain itu, ia juga melihat potensi perkembangan bisnis didukung pergeseran sosial masyarakat, ini bisa jadi peluang sektor senior living di masa depan, lebih-lebih dalam menghadapi penuaan populasi di 2045.


Maka, Herman menyebut, potensi pasar yang paling besar sebenarnya datang dari Generasi X yang saat ini masih aktif bekerja, saat ini usia mereka sekitar 50-60 tahun. Sepuluh tahun ke depan mereka lah yang akan membutuhkan layanan ini. “Generasi X dengan anaknya gen Y, apalagi gen Z, tanggung jawab (merawat) itu sudah tidak sekental itu. Karena banyak yang luar negeri lah, anaknya kan kerja luar negeri dan lain-lain, atau terpencar, sehingga orang senior ini, yang sekarang gen X ini, yang usia yang 50 sampai 60-an, sudah tidak mengharapkan lagi bahwa anaknya akan mengurusi dia,” terangnya. Herman turut mengajak para investor atau pengusaha yang tertarik melirik bisnis ini untuk mulai bersiap-siap dari sekarang. “Jadi bagi orang yang berminat untuk ikut berbisnis di bidang ini, sebetulnya sekarang saatnya untuk bersiap-siap, supaya bisa sudah ready waktu, customer-nya ready,” ujarnya.

Kebutuhan Mendesak Akan Fasilitas Layanan Lansia

Kepala Lembaga Demografi FEB UI, I Dewa Gede Karma Wisana menyebutkan bahwa secara relatif tenaga kerja akan menyusut, beban pensiun dan kesehatan meningkat. Ada pola konsumsi akan bergeser ke pelayanan kesehatan, perawatan, dan produk-produk ramah lansia. Ia memproyeksikan belanja publik untuk kesehatan dan pensiun meningkat, ruang fiskal tertekan, dan tabungan nasional bisa menurun. “Persiapan yang perlu dilakukan yaitu membangun sistem perawatan jangka panjang (long-term care-LTC). Salah satu yang mendesak disiapkan dalam jangka pendek dan menengah adalah sistem perawatan berbasis komunitas, pencegahan & healthy aging, layanan home care dan sejenisnya,” ujar Dewa kepada aiotrade.app, Kamis (11/9). Baginya, jika hal tersebut tidak diantisipasi dengan baik, dapat berimbas pada pertumbuhan ekonomi yang akan terhambat. Sebaliknya, jika strategi yang digunakan tepat, Indonesia bisa menikmati peluang ‘silver economy’. "Pada tahun 2045, secara relatif tenaga kerja akan menyusut, beban pensiun dan kesehatan meningkat, dan pola konsumsi akan bergeser ke layanan kesehatan, perawatan, dan produk-produk ramah lansia," tambahnya. Dewa juga mengingatkan, layanan lansia di masa depan sangat mendesak lebih-lebih perawatan yang berbasis komunitas dan dapat diakses semua kalangan.

Menurut penelusuran aiotrade.app dengan melakukan penarikan data melalui API Google Maps, ada 106 layanan lansia yang tersebar di Jabodetabek. Ada 36 panti jompo tersebar di DKI Jakarta, paling banyak. Lalu ada Kabupaten Bogor sebanyak 23, Kota Tangerang ada 16, Kota Bekasi 8, Kota Bogor dan Kabupaten Tangerang masing-masing ada 7, Kota Depok ada 5, lalu Kabupaten Bekasi ada 3, dan Tangerang Selatan ada 2. Benar saja, Herman bilang bahwa pelanggan layanan lansia banyak datang dari Jakarta. "Sebetulnya kalau lihat Jabodetabek, sebetulnya Jakarta ya," ujar Herman.

Kesimpulan: Demikian informasi mengenai Panti Jompo Bukan Tempat Dibuang. Semoga bermanfaat Anda hari ini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar