Puisi yang Menggugah Perhatian
Buku puisi terbaru berjudul Telinga yang Tak Dijual di Pasar Saham karya Annisa Resmana menjadi salah satu buku yang mengisi kekosongan dalam dunia puisi perempuan muda dari tatar Sunda. Buku ini menampilkan 75 puisi yang ditulis oleh Annisa dalam rentang waktu tahun 2024 hingga 2025. Tema utama yang muncul adalah paradoks perempuan terkait kesetaraan gender dan kritik sosial. Meski tema ini sudah sering muncul sejak era TikTok hingga saat ini, Annisa mencoba menyajikannya dengan pendekatan puitis yang jarang dilakukan oleh penyair perempuan lainnya.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Penggunaan Diksi Kontemporer
Dalam bukunya, Annisa memasukkan sejumlah diksi modern yang mencerminkan pengalamannya sebagai bagian dari generasi terkini. Diksi seperti: adaptif, dirupsi digital, kubikel, statistik, alogaritma, mesin print, draft, HP, e-mail adalah beberapa contoh yang ia pilih. Ia menggunakan diksi-diksi ini bukan hanya untuk gaya, tetapi juga untuk memperkuat bebunyian pada puisinya. Seperti seorang komposer yang menulis not lagu bernada minor menjadi satu kesatuan chord progresif dalam partitur imajiner, Annisa mengatur bunyi-bunyian dalam puisinya dengan cermat.
Musikalitas dalam Puisi
Musikalitas yang dimiliki Annisa terasa jelas dalam beberapa larik puisinya. Contohnya pada puisi Elegi Tiga Kali, di mana ia menulis:
"Aku / Ku/ UU"
Atau dalam puisi Mata Palu:
"Aku diketuk sekali lagi, kali ini lebih keras seperti kepala yang menabrak dinding di ruangan interogasi."
Puisi-puisi ini tidak hanya menyampaikan makna, tetapi juga membangun suasana melalui bunyi dan ritme. Unsur bunyi ini disesuaikan dengan rencana pembacaan puisi yang akan ia lakukan. Misalnya, ketika membacakan puisi Pelabuhan Sorong, ia menyampaikannya dengan apik dan memukau dalam acara Pertemuan Penyair Nusantara XIII di Jakarta:
"Apa kabar yang di sana? // Masih setelah senja gelap gulita? // Dan untuk menangkap sinyal, ke tengah pematang sawah? Tangan ku pernah memeluk harapan itu, kaki ku pernah menumbuhkan percaya itu, namun rasanya sekarang malu."
Kritik Sosial dalam Puisi
Annisa juga menyampaikan kritik sosial terkini dalam puisi-puisinya. Ia berusaha menjadi wakil dari kaum perempuan yang selalu berada dalam paradoks, baik sebagai perempuan domestik maupun perempuan yang berkarier di industri yang didominasi lelaki. Contohnya dalam puisi Antara Grafik dan Gendongan:
"Ada krisis di pasar Asia // Ada krisis di dapur // Ada krisis di dadanya: tentang siapa yang ia lupakan setiap kali harus memilih antara menjadi 'ibu rumah tangga' atau perempuan yang namanya disebut lengkap dalam zoom meeting."
Ia juga menyampaikan perasaan cinta dan kehilangan dalam puisi ini:
"Ia memeluk bayinya seperti sesuatu yang belum ia mengerti, tapi tahu: ada cinta, dan kehilangan, juga versi dirinya—sedang berubah, memikul dua dalam satu."
Judul yang Mencuri Perhatian
Judul buku Telinga yang Tak Dijual di Pasar Saham mungkin terdengar sensasional, karena tidak ada kata "saham" dalam isi puisi. Namun, judul ini memiliki makna yang dalam. "Telinga" dalam konteks ini merupakan majas pars proto, yaitu penggunaan bagian dari suatu objek untuk mewakili keseluruhan objek, dalam hal ini tubuh perempuan. Judul ini menyampaikan pesan bahwa tubuh perempuan tidak dijual sebagai produk pasar yang didominasi oleh lelaki.
Kesimpulan
Annisa Resmana menunjukkan kegelisahan tentang paradoks perempuan dan realitas sosial yang ia alami melalui puisi-puisi yang diwarnai dengan diksi kontemporer. Meskipun tidak ada kebaruan dalam pengucapan puitis, karyanya tetap menarik perhatian karena kemampuannya dalam menyampaikan pesan dengan cara yang unik dan emosional.
Komentar
Kirim Komentar