Kehidupan Iqbal Santosa: Dari Pencari Kerja ke Pengusaha Budidaya Ikan Lele
Pada lima tahun lalu, nama Iqbal Santosa mungkin hanya menjadi salah satu dari banyak pencari kerja yang gagal dalam melamar pekerjaan di berbagai perusahaan. Namun kini, ia telah sukses meraih pendapatan hingga ratusan juta rupiah dari bisnis budidaya ikan lele. Seorang pemuda 25 tahun asal Desa Gentansari, Kecamatan Pagedongan, Banjarnegara ini berhasil mengubah nasibnya dengan memanfaatkan potensi yang ada di sekitarnya.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Iqbal tidak memilih untuk terus-menerus mengeluh setelah ditolak saat mencari pekerjaan. Alih-alih, ia memutuskan untuk banting setir dan mencoba sesuatu yang baru. Dengan memanfaatkan kolam ikan milik orangtuanya yang sudah lama dibiarkan kosong, ia memberanikan diri untuk memulai usaha budidaya ikan lele.
“Dulu setelah selesai kuliah, saya sempat melamar kerja di salah satu bank. Hasilnya ditolak. Setelah itu, saya mencoba usaha budidaya ikan lele karena orangtua punya kolam yang lama tidak dipakai,” ujar Iqbal saat ditemui di kolam ikan miliknya di Desa Gentansari, Rabu (10/12/2025).

Awalnya, Iqbal hanya memiliki satu kolam dengan 2000 ekor ikan lele. Namun, kerja keras dan ketekunan tidak pernah mengkhianati hasil. Lima tahun kemudian, Iqbal kini mengelola 12 kolam pribadi, ditambah belasan kolam milik warga yang ia libatkan melalui sistem kemitraan.
“Dulu awalnya hanya satu kolam yang saya isi 2000 ikan lele. Sekarang ada 12 kolam ikan lele. Selain itu, saya juga melibatkan warga yang ingin budidaya ikan lele seperti ini. Sistemnya kemitraan dengan saya,” tambahnya.
Omzet dari usaha budidaya ikan lele kini sangat menggiurkan. Iqbal menyebut bahwa omzet dari sekali panen bisa mencapai ratusan juta rupiah. Biasanya, sekali periode panen membutuhkan waktu sekitar 60 hari.
“Kalau berbicara omzet, tidak pasti. Tapi jika dirata-rata, sekali periode panen bisa mencapai Rp 200 juta lebih. Ini untuk kolam yang saya kelola sendiri, belum termasuk yang kemitraan. Tapi ini masih kasar, belum dikurangi biaya pakan. Biayanya juga cukup besar,” jelasnya.
Produk ikan lele yang dihasilkan Iqbal tidak hanya diminati di Banjarnegara, tetapi juga sampai ke beberapa daerah lain seperti Tegal, Purbalingga, dan Banyumas. Beberapa pembeli bahkan datang langsung ke kolam untuk mengecek kualitas ikan sebelum membelinya.

“Penjualannya ada yang dari Banjarnegara saja, tapi juga ada yang dari luar kota. Ada yang ke Tegal, Purwokerto, dan Kebumen,” katanya.
Meski terlihat sederhana, budidaya ikan lele membutuhkan perhatian yang teliti. Iqbal menjelaskan bahwa perawatan tidak hanya sekadar memberi pakan, tetapi juga memastikan kualitas air tetap ideal.
“Air harus dipantau terus. Warnanya, baunya, suhunya. Jika ada yang janggal sedikit saja, bisa berpengaruh pada pertumbuhan ikan. Cuaca yang tidak menentu juga menjadi kendala. Kadang panas ekstrem, besoknya hujan deras. Itu memengaruhi kualitas air,” jelasnya.
Komentar
Kirim Komentar