Penghasilan dari Hobi: Jalan Menuju Rezeki

Penghasilan dari Hobi: Jalan Menuju Rezeki

Berita terbaru hadir untuk Anda. Mengenai Penghasilan dari Hobi: Jalan Menuju Rezeki, berikut adalah data yang berhasil kami rangkum dari lapangan.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Menemukan Jalan Baru dari Hobi yang Tidak Terduga

Siapa bilang kerja full time membuat kita tidak punya waktu untuk mengembangkan diri? Justru, dari sela-sela waktu kerja, saya menemukan pintu rezeki baru melalui hobi: membaca dan menulis.

Beberapa tahun lalu (khususnya ketika pandemi covid-19 melanda), saya hanya seorang pembaca biasa yang menikmati aroma buku baru dan suara halaman yang dibalik malam-malam sebelum tidur. Saya sama sekali tidak pernah terpikir akan tenggelam dalam cerita dan gagasan yang ditemukan dari halaman ke halaman.

Namun suatu hari, saya dinyatakan sebagai salah satu pemenang giveaway buku dari sebuah penerbit ternama di tanah air. Saya diminta untuk membagikan apa yang didapatkan dari buku tersebut melalui media sosial pribadi. Dari sanalah perjalanan saya dimulai dengan cara yang tidak terduga. Akhirnya, hal ini menghasilkan cuan dari kebiasaan yang awalnya hanya sekadar hobi.

Tentu saja, tidak langsung bisa cuan. Semua dimulai dari langkah kecil: berbagi apa yang saya tahu, sebisanya, dan sejujurnya.

Awalnya saya menulis ulasan buku dengan format yang sangat sederhana. Tidak muluk-muluk, hanya berisi inti cerita, hal yang disukai, dan pesan yang muncul di kepala. Setiap posting terasa seperti percakapan hangat—seolah sedang bercerita ke teman sambil ngopi santai.

Ternyata, tanpa disadari, banyak orang menikmati sudut pandang saya. Dari sana, circle kecil mulai terbentuk. Satu dua orang menyapa lewat komentar atau pesan. Ada yang bilang merasa terbantu memilih bacaan, ada pula yang mengaku termotivasi untuk mulai membaca kembali.

Jujur, rasanya kagum, gembira, seperti menemukan harta karun. Saya seperti berjumpa rumah lain—tempat menumbuhkan literasi. Dan yang paling mengejutkan, saya jadi kenal dengan banyak teman literasi secara online.

Kami saling bertukar rekomendasi buku, berdiskusi ringan, bahkan kadang saling penasaran dengan insight satu sama lain. Dari koneksi kecil itu, pintu baru terbuka: kesempatan kerja sama dengan penerbit.

Pertemuan dengan Penerbit: Dari Pembaca Jadi Rekan

Suatu hari, ada penerbit yang menghubungi saya. Mereka suka cara saya menulis review—mengalir, jujur, dan tetap ramah untuk pembaca pemula. Saya diminta untuk membaca buku baru mereka, membuat ulasan, dan mempublikasikannya. Tentu saja saya senang—tidak cuma dapat buku gratis, tapi juga mendapat kesempatan memperluas pengalaman.

Dari satu kerja sama, terus merembet ke kerja sama lain. Saya mulai belajar tentang profesionalitas: bagaimana berkomunikasi, mengatur waktu, menghargai tenggat, hingga menjaga kepercayaan. Ternyata dunia literasi bukan hanya soal membaca dan menulis, tapi juga tentang etika bekerja sama.

Honornya mungkin tidak seperti selebriti internet (influencer) ternama yang sekali unggah bisa dapat jutaan. Tapi bagi saya, ini cukup: bisa bayar paket data, nongkrong sesekali, belanja kebutuhan kecil, atau sekadar mengamankan tabungan tipis. Rasanya menyenangkan saat sesuatu yang kita suka bisa membiayai beberapa kebutuhan.

Tapi, tidak begitu langsung dapat cuan. Awalnya hanya dibayar pakai buku. Nah, buku inilah yang saya jual kembali di marketplace (toko online). Baik buku yang masih tersegel (baru) atau buku preloved (bekas).

Menemukan Diri Lewat Menulis

Selain jadi reviewer, saya juga menulis hal lain. Bukan cuma soal buku—tapi pemikiran, keresahan, dan refleksi kecil sehari-hari. Ternyata, menulis itu bukan cuma soal menghasilkan karya—tapi juga tentang menyelamatkan diri.

Kadang ada hari ketika kepala sesak penuh pikiran. Nulis itu jadi semacam ruang bernafas. Ada rasa lega ketika kata-kata akhirnya keluar, meskipun belum sempurna. Di situ saya merasa lebih menikmati hidup.

Dan, Alhamdulillah, dari menulis saya juga beberapa kali mendapat rezeki. Kadang ikut lomba menulis dan menang, kadang dapat fee untuk tulisan tertentu. Tidak besar, tapi cukup menghangatkan hati—karena dihargai atas sesuatu yang kita kerjakan dengan cinta.

Kita sering melihat konten kreator yang punya jutaan followers (pengikut), hidupnya terlihat glamor, dan brand besar datang menawarkan kerja sama. Jujur, kadang bikin minder. Tapi seiring waktu, saya belajar bahwa ngonten itu bukan soal siapa paling terkenal, tapi siapa yang mampu memberikan nilai.

Saya mungkin tidak punya banyak pengikut. Pun juga tidak setiap hari posting atau review. Tapi saya menikmati prosesnya. Selama saya bisa berbagi hal baik, mengulas buku yang dirasa bermanfaat, memberikan insight yang bisa menyalakan lampu kecil di kepala seseorang—rasanya sudah cukup.

Yang paling penting, ngonten itu bisa menyesuaikan dengan kemampuan dan bekal yang kita punya. Tidak perlu memaksakan diri ikut tren atau membuat konten yang tidak kita pahami. Justru, semakin jujur dengan diri sendiri, konten akan terasa lebih berjiwa.

Tidak Sekadar Cuan

Kalau bicara keuntungan, tentu uang jadi salah satunya. Tapi bagi saya, keuntungan yang paling terasa justru bukan materi.

Ada ketenangan yang datang setiap selesai menulis. Ada rasa puas saat berhasil merangkum pemikiran jadi sederhana. Ada rasa bangga ketika orang lain bilang tulisannya bermanfaat. Semua itu tidak bisa diukur dengan angka.

Bahkan kadang, yang kita dapat justru teman baru dan obrolan hangat yang tidak disangka. Kadang kita tidak sadar, tulisan bisa jadi jembatan ke banyak hal baik.

Jujur, memang tidak selalu mulus. Ada hari ketika saya kehabisan ide. Ada masa saat postingan kita sepi dari like (suka) dan komentar. Ada momen merasa tidak cukup baik dibandingkan yang lain.

Tapi saya belajar untuk menikmati perjalanan. Tidak terburu-buru, tidak harus sempurna, yang lenting jalan terus, kontinyu.

Karena yang paling berharga dari ngonten bukan tentang siapa paling cepat sampai puncak. Tapi siapa yang bisa menikmati proses pendakiannya.

Ohya, hobi yang saya geluti ini tentunya tidak mengganggu kerja full time. Bahkan, dulu ketika kerja di pabrik yang jam kerjanya jelas padat—capek fisik maupun mental. Saya bisa produktif membaca dan menulis.

Di sela istirahat, dalam perjalanan, atau sebelum tidur, saya pelan-pelan menamatkan buku. Dalam sebulan masih bisa menyelesaikan tiga sampai empat buku. Malam atau di waktu senggang saya menuliskan ringkasannya, lalu mempostingnya.

Prosesnya tidak instan dan tidak juga mudah. Tapi tidak mengganggu pekerjaan. Saya tetap menjalankan tugas sebagai karyawan, sementara membaca dan menulis jadi “me-time” yang menenangkan.

Dari situ saya belajar bahwa: ngonten itu tidak harus menyita waktu; yang penting rutin, walau sedikit. Nah, kalau teman pembaca punya hobi yang disukai—entah membaca, menggambar, atau sekadar curhat lewat tulisan—cobalah bagikan.

Perlahan, jangan dulu ngomongin uang. Lakukan untuk diri sendiri dulu. Untuk menata pikiran, menyimpan jejak, berbagi hal baik.

Kalau memang ada rezekinya, ia akan datang lewat jalannya sendiri. Kadang melalui teman baru, kadang lewat kesempatan tak terduga.

Dan kalaupun tidak menghasilkan uang sebanyak orang lain, setidaknya kamu sudah mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga: pengalaman, pengetahuan, ketenangan hati, lingkungan baik, dan kesadaran bahwa hal kecil yang kamu lakukan punya makna.

Ngonten bukan soal viral—tapi soal menyampaikan sesuatu agar orang lain merasa tidak sendirian. Dan itu, menurutku, adalah bentuk keberhasilan yang tidak bisa diukur dengan uang.

Kesimpulan: Demikian informasi mengenai Penghasilan dari Hobi: Jalan Menuju Rezeki. Semoga menambah wawasan Anda hari ini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar