Penghasilan Sampingan Menggiurkan, Dari Inspirasi YouTuber hingga Pelajaran Konsistensi

Penghasilan Sampingan Menggiurkan, Dari Inspirasi YouTuber hingga Pelajaran Konsistensi

Dunia hiburan kembali membuat heboh netizen. Kali ini beredar kabar tentang Penghasilan Sampingan Menggiurkan, Dari Inspirasi YouTuber hingga Pelajaran Konsistensi yang menjadi trending. Cek faktanya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Pertemuan yang Membuka Wawasan

Sewaktu singgah di kafe setelah shalat di masjid kampus, saya bertemu dengan seorang saudara angkat yang selama kuliah tinggal di rumah. Ia datang bersama putranya. Remaja berpenampilan santai, sedikit cuek, tapi saya melihat sorot matanya memancarkan aura yang tidak biasa.

Paman itu menjelaskan jika putranya memang sejak kecil mengalami kesulitan untuk fokus. Ia sulit diam, mudah kehilangan perhatian, dan cenderung tak peduli pada hal-hal di sekitarnya. Selama pertemuan, ia tidak ikut mengobrol, tapi justru tekun melakukan sesuatu dengan gadgetnya.

Namun yang mengejutkan adalah, anak itu seorang YouTuber sukses dengan penghasilan tak kurang dari 25 juta rupiah per bulan. Saya sempat berpikir, “Bagaimana mungkin seseorang dengan kesulitan fokus justru bisa sukses di dunia yang menuntut konsistensi dan kreativitas tinggi seperti YouTube?”

Ketika diminta menunjukkan kontennya, ia hanya menyebutkan istilah dalam bahasa komputer yang saya tidak paham. Ketika saya kunjungi kontennya, ternyata, isinya memang dibuatnya cukup unik. Bagi orang awam, musik dengan ritme berulang dan visual yang selaras secara ritmis, semacam meditasi visual-audio terlihat biasa saja.

Tapi ia bilang, “Buat saya, musik dan gambar berulang itu menenangkan. Saya bisa fokus di situ.”

Bahkan dengan keterbatasannya ia bisa "memanfaatkan" peluang. Tidak ada yang mengajarkan dan memberinya tutorial, semuanya murni ide dan inisiatifnya sendiri.

Ia punya jadwal sendiri setiap minggu, ia merancang komposisi baru berdasarkan permintaan penonton. Musik dengan ritme yang khas yang ia mainkan mungkin terdengar sederhana, bahkan “biasa saja” bagi orang awam. Tapi justru karena kesederhanaan dan konsistensi itu, ribuan orang dari berbagai negara menonton dan memuji karya-karyanya. Ia tidak sekadar membuat konten, tapi menciptakan ruang ketenangan di dunia yang cepat dan bising.

Ia bahkan bisa berbahasa asing melalui platform Youtube tersebut. Luar biasa sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Lantas bagaimana dengan kita yang sepenuhnya "normal" bisa apa?

Apakah keberhasilan itu hanya lucky, keberuntungan?

Saya tercenung, karena pertemuan tidak terduga itu membuat saya belajar banyak, utamanya satu hal penting, konten yang berhasil tidak selalu tentang siapa paling ramai, tapi siapa paling tulus dan konsisten.

Dari Tulisan ke Dunia Digital

Pertemuan itu membuat saya merenung, mengingat ketika mulai “berubah haluan” dari menulis di media cetak ke dunia digital. Selain bekerja di belakang meja redaksi, saya juga bekerja di lapangan, membuat liputan, menulis opini, esai, atau reportase untuk mengisi tabloid. Waktu begitu cepat berubah, trend berganti, orang lebih memilih yang praktis membaca lewat layar, dan media berbasis kertas bertumbangan. Padahal dulu jika oplah habis, koran fotokopian saja ludes hingga ratusan eksemplar.

Saya pernah mencoba ikut trend itu. Tapi reaksi pertama justru datang dari anak saya sendiri. Ia bilang, “Memang enak jadi YouTuber, Yah?” Nada suaranya sedikit skeptis, tapi juga penasaran. Dalam hati saya tertawa. Banyak anak lain justru bermimpi jadi YouTuber, tapi anak saya malah mempertanyakannya. Padahal, dari platform Gacha miliknya yang kontennya ia buat tiap minggu, sudah ada puluhan ribu follower yang setia menunggu update-nya.

Saya pikir daripada mubazir dan popularitasnya di platform itu hilang seiring dia naik kelas menengah, mengapa tidak dipindahkan ke YouTube? Bukankah di sana potensi monetisasi lebih jelas? Tapi dunia online tidak semudah itu, seperti ia bilang pada saya. Ia sedang sibuk dengan sekolah. Sebagai orang tua, saya tak bisa memaksanya. Saya hanya bisa memberi contoh bahwa dunia digital bisa jadi ladang rezeki, asal digarap dengan niat dan strategi.

Belajar dari Para Pengonten Besar

Salah satu adik ipar juga ikut trend, tapi ia cerdik memanfaatkan momentum Ramadhan dengan menggugah YouTuber dengan konten Kisah Nabiku, jadi hanya dalam sebulan Ramadhan saja ribuan follower terjaring dan dalam hitungan tahun berikutnya ia sudah terima monetisasi lumayan pengganti bensin dan uang jajan anak-anak selama sebulannya.

Saya semakin "terprovokasi", saat ke Gramedia saya membeli buku Deddy Corbuzier tentang bagaimana menjadi YouTuber. Dalam hati saya berpikir: “Kalau Deddy saja sempat menulis buku di tengah kesibukannya, artinya YouTube bukan sekadar tren sesaat, tapi sudah menjadi medium kerja serius.”

Namun satu hal yang sering dilupakan orang, semua butuh proses. Kita hanya melihat hasil akhirnya, subscriber jutaan, endorsement bertubi-tubi, rumah mewah, mobil sport, tapi jarang membayangkan proses panjang, lembur malam, kegagalan, dan tekanan mental di baliknya.

Saya pernah membayangkan bagaimana sih rasanya hidup YouTuber seperti Ria Ricis di masa-masa puncaknya. Apalagi ektika itu mereka seperti sedang di adu oleh media dan netizen untuk berlomba memuncaki YouTuber Asia Tenggara. Dibantu oleh keberuntungan momentum YouTuber yang sedang booming, penonton tanpa sadar terseret dalam pertarungan keduanya dan sekarang keduanya berada di puncak.

Ricis bisa saja tetap terlihat ceria di depan kamera, tapi apakah senyumnya semulus itu di balik layar? Saya dengar cerita bahwa saat sedang sakit pun, ia tetap memaksa diri untuk tetap “on cam.” untuk ngonten. Bahkan sempat dikabarkan harus mencopot infus hanya untuk shooting konten.

Saya bisa merasakan karena memang telah mencobanya, meskipun sepenuhnya masih menjadi side job dan pengonten bayangan. Saya bisa merasakan bagaimana ironi di balik konten yang tidak semuanya mulus.

Di balik tawa di layar, ada pikiran dan tubuh yang lelah dan kalut demi memenuhi algoritma. Dunia ngonten memang menjanjikan, tapi juga menuntut stamina, kreativitas, dan mental baja.

Strategi Realistis Membangun Side Job dari Ngonten

Beberapa waktu lalu, anak saya kembali bertanya, “Kalau ngonten bisa jadi side job, kenapa nggak semua orang bisa sukses di situ?”

Saya tertawa lalu tercenung lagi, pertanyaan itu seperti pukulan hook yang tepat mendarat di dagu. Saya menjawab pelan, “Karena sebagian orang berhenti di tengah jalan sebelum tahu caranya bertahan.”

Ngonten, itu sekarang tidak lagi sederhana, tidak seperti dulu. Sekarang butuh kerja lebih keras, apalagi ketika standar monetisasinya ditingkatkan. Jadi konten butuh strategi, dan disiplin. Bedanya, di sini yang dinilai bukan cuma hasil, tapi juga konsistensi dan karakter. Orang bisa jatuh cinta pada konten, tapi lebih lama lagi jika jatuh cinta pada pembuatnya.

Beberapa Strategi yang Bisa Dipertimbangkan

Temukan “ruang tenang” dalam diri sendiri; Menurut paman saya yang "keluarga" Youtuber itu, konten yang berhasil bukan sekadar ramai, tapi punya jiwa. Temukan topik yang benar-benar dekat, bukan sekadar ikut tren. Seperti musik yang sekarang digarap untuk kalangan yang berkebutuhan khusus agar bisa lebih fokus.

Bangun rutinitas, bukan sekedar euforia; Menurut saran adik di penggagas konten Kisah Nabiku, mending ngonten dan upload seminggu sekali tapi konsisten, daripada tiga kali sehari lalu berhenti sebulan dan hasilnya tidak maksimal.

Belajar dasar produksi dan storytelling; Ini benar, dan terbukti, adik ipar sejak awal sudah menyiapkan cerita yang kuat bukan sekedar kamera dengan gambar bagus. Awalnya hanya background suara di balik layar, sekarang sudah berani tampil penuh bak artis.

Gunakan data untuk memperkuat intuisi; Lihat insight seperti jam tayang, durasi tonton, komentar. Itu bukan angka kosong, tapi petunjuk arah. Hasilnya selain tayangan mudah di terima penonton, juga kualitas kontennya bagus.

Jangan malu bereksperimen; Secara umum tampilan dalam thumbnail yang menarik membuat banyak dampak positif. Algoritma menyukai kejutan, tapi tetaplah jujur pada dirimu. Konten yang terlalu dibuat-buat mudah dilupakan.

Anggap side job tetap “profesional.”; Walau bukan sumber penghasilan utama, beri jadwal, target, dan evaluasi berkala. Uang hanyalah bonus dari kerja yang konsisten. Memang sih baik Paman dan asik ipar sudah melewati itu sehingga mereka berdua sekarang sudah merasa itu sebagai main job.

Jika mau diseriusi, saya melihat ngonten bukan lagi sebagai pekerjaan “sampingan,” tapi sebagai ruang pembelajaran diri. Prosesnya melatih kesabaran, ketekunan, bahkan empati. Lewat komentar-komentar penonton, kita belajar menerima kritik, menyaring pujian, dan menjaga keseimbangan antara idealisme dan realitas.

Saya juga belajar dari anak saya, karena menurut saya mereka lebih paham algoritma, ngonten juga membuat saya lebih dekat dengan anak-anak. Kami berdiskusi tentang ide, format. Benar bahwa dunia digital dengan aktifitas "ngontennya" bukan sekadar tempat mencari uang, tapi tempat belajar. Tidak hanya biar cerdas digital, tapi juga jadi kaya finansial.

Jadi, kalau ada yang bertanya, “Apakah ngonten bisa jadi side job yang menguntungkan?” Saya akan menjawab, ya, asal siapapun siap dengan proses panjang di balik layar, dan tetap menjadi dirimu sendiri di depan kamera.

Kesimpulan: Tunggu update selanjutnya dari artis favorit Anda. Jangan lupa untuk share berita ini ke sesama fans.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar