
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Penyintas Banjir Bandang Menghadapi Masalah Kesehatan
Para penyintas banjir bandang di sejumlah wilayah terkena dampak di Sumatera Barat mulai mengalami gangguan kesehatan. Petugas kesehatan dan relawan yang berada di lokasi menyebutkan bahwa para korban membutuhkan air bersih dan obat-obatan.
Dokter spesialis bedah dari Fakultas Kedokteran Universitas Riau, Arif, menjelaskan bahwa para korban banjir bandang di Nagari Salareh Aia Timur saat ini membutuhkan obat diare, penyakit kulit, serta untuk infeksi saluran pernapasan. Arif datang bersama Tim Satgas Bencana Universitas Riau untuk melakukan pengobatan massal bagi para korban di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam.
“Obat yang paling dibutuhkan saat ini adalah obat diare, obat infeksi saluran pernapasan akut, dan obat gatal-gatal,” kata Arif ketika ditemui di Salareh Aia Timur, Sabtu (6/12).
Arif menambahkan bahwa selama memberikan layanan pengobatan di Palembayan, banyak korban yang mengalami sakit batuk, pilek, luka-luka akibat bencana, serta nyeri sendi terutama pada kelompok lansia. Namun, karena sumber air terputus, para korban akan membutuhkan obat diare yang cukup.
Kondisi Air Bersih yang Menjadi Masalah Utama
Perawat Puskesmas Koto Alam Nagari Salareh Aia Timur, Simarini, menyebutkan bahwa kasus penyakit kulit dan diare oleh korban banjir di wilayah Salareh Aia Timur mulai meningkat. Kondisi ini dipicu oleh kualitas air banjir yang kotor serta terputusnya sumber air bersih sejak bencana terjadi.
“Diare itu karena faktor air. Air banjir bandang kotor. Banyak juga yang mulai mengalami gatal-gatal,” kata Simarini.
Ia menekankan kebutuhan paling mendesak saat ini yakni pemulihan akses air bersih, termasuk untuk fasilitas kesehatan seperti Puskesmas Koto Alam yang masih kekurangan air bersih.
Pasca-banjir bandang yang meluluhlantakkan Salareh Aia Timur pada Kamis (27/11), para korban juga mulai mengalami demam akibat perubahan cuaca dari panas terik di siang hari dan hujan deras pada sore hingga malam. Debu tebal di sepanjang jalan akibat endapan tanah longsor yang mengering turut memicu peningkatan kasus ISPA.
“Penyakit kulit muncul karena mandi tidak bisa bersih. Saat ini butuh air bersih karena sumbernya sudah mati,” ujarnya.
Simarini mengatakan, untuk persediaan obat di posko dan puskesmas sejauh ini masih cukup. Sebab, per siang Sabtu 6 Desember 2025, ada ikatan dokter spesialis yang datang membawa stok obat.
Dapur Bersama yang Kekurangan Air Bersih
Prajurit Kodim 0304/Agam Serdana menyampaikan bahwa dapur bersama yang dibangun TNI di Salareh Aia kekurangan air bersih untuk memasak makanan bagi para korban. Sejak dapur umum beroperasi pada Sabtu (29/11), prajurit terpaksa mengambil air dari rumah warga sejauh 200 meter menggunakan jerigen.
“Di sini sebenarnya ada sumur bor, tapi mesinnya rusak. Yang kami butuhkan saat ini adalah mesin air,” kata Serdana.
Sementara itu, pemerintah belum memberi sinyal akan mengirimkan mesin air, sehingga prajurit harus mencari sumber air bersih secara mandiri dari rumah warga sekitar.
Sumber Air Bersih di Malalak Terputus
Bergeser ke lokasi terdampak lainnya di Kabupaten Agam, relawan Kecamatan Malalak Ahmad Karim menyebut para korban terdampak banjir bandang dan tanah longsor di wilayah Kecamatan Malalak darurat air bersih.
Dia menjelaskan, saat ini para warga hanya mengandalkan air mineral dari para relawan untuk konsumsi. Sementara untuk kegiatan mandi dan mencuci lainnya, warga Malalak menggunakan air hujan yang buru-buru ditampung ketika turun.
“Yang paling penting saat ini air bersih dan tempat tinggal. Ada donatur yang datang membawa selang dan paralon, namun belum bisa dipasang karena kondisi wilayahnya sulit,” ujar Ahmad ketika ditemui di Kecamatan Malalak pada Minggu (7/12).
Dia menyebut, beberapa warga ada yang mandi dan mencuci di sungai dan banda atau selokan. Namun kegiatan tersebut mengkhawatirkan mengingat Malalak masih diguyur hujan deras sehingga rawan terjadi longsor dan banjir susulan. Untuk obat-obatan, dia menyatakan Puskesmas, Dinas Kesehatan hingga para relawan lainnya telah memberikan sejumlah obat ke beberapa posko pusat distribusi logistik di Malalak.
Komentar
Kirim Komentar