
Pengalaman Wali Kota Balikpapan dalam Mengelola Klub Sepak Bola
Wali Kota Balikpapan, Rahmad Masud, berbicara jujur tentang realita mengelola klub sepak bola di Indonesia. Ia menceritakan pengalamannya selama menjadi Manajer Persiba Balikpapan dari tahun 2000 hingga 2004. Pada masa itu, Stadion Parikesit masih menjadi pusat kegiatan sepak bola di Kota Minyak.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Rahmad mengatakan bahwa periode tersebut merupakan fase krusial yang membawa Persiba Balikpapan menembus kasta tertinggi sepak bola nasional. “Saya empat tahun jadi manajer Persiba Balikpapan. Begitu kami loloskan ke Liga Utama di tahun 2004, saya mengundurkan diri. Karena tugas saya waktu itu sudah selesai,” kenangnya.
Ia memberikan pesan tajam kepada manajemen klub sepak bola. Menurutnya, sepak bola membutuhkan komitmen nyata dan dana yang cukup. “Sepak bola ini biayanya mahal. Hanya orang 'gila' yang mau pegang klub. Kalau tidak ada kesanggupan berkontribusi, tidak usah cerita tinggi-tinggi. Tidak akan maju sepak bola kita,” ujarnya.
Rahmad menekankan bahwa komitmen bukan hanya soal kata-kata, tetapi tindakan nyata dalam membiayai, mendukung, dan membina pemain. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam. Ia bersama Ketua DPRD dan para pencinta sepak bola siap terus mendorong penyelenggaraan kompetisi lokal.
“Saya komitmen secara pribadi. Kami akan selalu menggalang Liga Sepak Bola khususnya di Kota Balikpapan, supaya anak-anak kita punya kesempatan menjadi atlet seperti dulu,” katanya.
Kenangan Masa Kejayaan Persiba Balikpapan
Rahmad Masud menegaskan bahwa sejarah panjang Persiba Balikpapan harus menjadi energi kebangkitan sepak bola Balikpapan ke depan. Ia mengenang ketika ia menjadi bagian dari perjalanan bersejarah Beruang Madu menembus kasta tertinggi sepak bola nasional.
Dia juga menegaskan bahwa masa kejayaan tersebut bukan hanya tentang kemenangan, tetapi tentang bagaimana Balikpapan berhasil melahirkan pemain-pemain lokal berkualitas seperti Junaidi ‘Pele’, Junaidi Tagor, Baharudin, Ponaryo Astaman, hingga Bima Sakti.
“Itu semua lahir dari Liga Sepak Bola waktu Persiba masih bermain di Parikesit. Saya berharap bakat-bakat seperti itu bisa kita hidupkan lagi,” ujarnya.
Rahmad menekankan pentingnya pembinaan atlet lokal. Ia mengingatkan agar klub-klub di Balikpapan tidak terlalu bergantung pada pemain dari luar daerah. Menurutnya, regenerasi sepak bola akan terwujud bila anak-anak Balikpapan diberi ruang untuk berkembang.
“Jangan sampai klub-klub bola kita didominasi orang luar. Pemain lokal harus mampu bersaing. Kita harus ciptakan kembali atlet-atlet seperti dulu,” tegasnya.
Respons Manajemen Persiba Balikpapan
Melalui pernyataan tertulis yang dirilis Selasa (9/12/2025), manajemen Persiba Balikpapan menegaskan komitmennya membangun fondasi kebangkitan klub secara profesional, terarah, dan berkelanjutan sebagai bagian dari identitas sepak bola Balikpapan.
Manajemen Persiba menegaskan komitmennya untuk bersinergi dengan Pemerintah Kota Balikpapan serta masyarakat dalam membangun fondasi kebangkitan yang lebih terarah, profesional, dan berkelanjutan. Mereka menyebut kerja sama jangka panjang menjadi fondasi penting untuk memastikan klub dapat berkembang modern dan kompetitif di tengah persaingan sepak bola nasional.
"Karena itu, kerja sama jangka panjang menjadi kunci agar Persiba dapat berkembang secara modern dan kompetitif," tulis manajemen Persiba dalam pernyataan tertulis.
Sebagai langkah strategis, manajemen Persiba Balikpapan juga telah menyiapkan sebuah blueprint kolaborasi strategis jangka panjang yang akan diajukan secara resmi kepada Pemerintah Kota. Dokumen tersebut mencakup arah pengembangan klub, rencana komunikasi kelembagaan yang lebih terstruktur, serta dasar kerja sama yang dituangkan dalam MoU.
Blueprint ini dinilai penting untuk memastikan Persiba Balikpapan dikelola secara profesional, sekaligus menegaskan keseriusan manajemen dalam menata ulang masa depan klub.
“Kami memahami peran dan sejarah dukungan Pemerintah Kota di masa lalu. Karena itu, Persiba terus membuka ruang sinergi yang konstruktif di masa depan,” lanjutnya.
Manajemen Persiba juga menilai bahwa penguatan infrastruktur olahraga akan menjadi unsur penting dalam percepatan kemajuan klub. Fasilitas milik pemerintah kota seperti stadion, lapangan latihan, dan sarana pendukung lainnya dapat dikembangkan untuk membangun ekosistem sepak bola modern.
Persiba mencontohkan beberapa kota besar yang sukses membangun ekosistem yang sehat antara klub, pemerintah, dan masyarakat. “Kami melihat keberhasilan sejumlah kota di Indonesia yang mampu memantapkan sinergi tersebut untuk membangun ekosistem sepak bola modern,” tulis manajemen.
Seperti Surabaya dengan dukungan terhadap Persebaya di Gelora Bung Tomo yang berdampak pada ekonomi kerakyatan, serta Jakarta dan Makassar yang menguatkan branding kota melalui fasilitas olahraga dan prestasi klub. Persiba berharap Balikpapan dapat memiliki semangat yang sama, menjadikan olahraga tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai pilar perkembangan kota.
Manajemen juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada publik dan suporter Persiba Balikpapan yang selama ini terus memberikan dukungan, baik melalui kehadiran di stadion maupun melalui pembelian produk resmi klub.
“Dukungan ini menjadi energi bagi manajemen untuk terus berbenah dan memperkuat fondasi Persiba menuju masa depan yang lebih cerah,” tulis pernyataan itu.
Persiba yakin bahwa dengan langkah terukur, dukungan pemerintah, dan semangat masyarakat Balikpapan, kebangkitan klub bukan hanya mungkin terjadi, tetapi dapat menjadi agenda bersama untuk mengembalikan kejayaan sepak bola di Kota Minyak.
Komentar
Kirim Komentar