
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Pertemuan Bersejarah Antara Presiden Suriah dan Presiden Amerika Serikat
Presiden Suriah, Ahmed Al Sharaa, akan menghadiri pertemuan penting dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, di Gedung Putih pada Senin (10/11/2025). Pertemuan ini merupakan momen bersejarah yang menandai perubahan besar dalam hubungan antara dua negara yang sebelumnya memiliki hubungan tegang.
Pertemuan ini terjadi hanya beberapa hari setelah Washington mencabut nama Sharaa dari daftar hitam terorisme. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah AS mulai melihat kembali posisi Suriah dalam skenario politik global. Sharaa, yang pasukannya berhasil menggulingkan Bashar Al Assad pada akhir tahun lalu, menjadi pemimpin Suriah pertama yang berkunjung ke Gedung Putih sejak negara itu merdeka pada 1946.
Sebelumnya, Sharaa dikenal memiliki hubungan dengan Al Qaeda, namun kelompok yang dipimpinnya, Hayat Tahrir al-Sham (HTS), telah dihapus dari daftar organisasi teroris oleh Amerika Serikat pada Juli 2025. Ini menjadi langkah penting dalam memperbaiki citra Suriah di mata dunia.
Upaya Menjauhkan Citra Kekerasan
Sejak mengambil alih kekuasaan, pemerintahan baru Suriah berupaya keras untuk menjauhkan diri dari citra kekerasan yang selama ini melekat pada negara tersebut. Mereka kini berusaha tampil sebagai pemerintahan yang moderat dan terbuka terhadap kerja sama internasional.
Michael Hanna, Direktur Program AS di International Crisis Group, menyebut kunjungan Sharaa ke Gedung Putih sebagai momen simbolis yang luar biasa bagi Suriah. Ia menilai ini menandai perubahan besar dalam perjalanan politik Sharaa, dari seorang pemimpin gerilyawan menjadi negarawan global.
Pertemuan ini bukan pertama kalinya Sharaa bertemu dengan Trump. Keduanya sempat berjumpa di Arab Saudi pada Mei lalu dalam kunjungan regional presiden AS. Setibanya di Washington akhir pekan lalu, Sharaa juga mengadakan pertemuan dengan Direktur IMF Kristalina Georgieva untuk membahas kemungkinan bantuan bagi Suriah yang masih dilanda krisis pascaperang.
Langkah Politik dan Ekonomi
Sharaa juga bertemu dengan sejumlah perwakilan organisasi Suriah di AS. Utusan Washington untuk Suriah, Tom Barrack, menyebut bahwa Sharaa berpotensi menandatangani kesepakatan bergabung dalam aliansi internasional pimpinan AS yang memerangi kelompok Negara Islam (IS).
Amerika Serikat berencana mendirikan pangkalan militer di dekat Damaskus untuk mengoordinasikan bantuan kemanusiaan serta memantau perkembangan hubungan antara Suriah dan Israel. Langkah ini menunjukkan komitmen Washington dalam menjaga stabilitas wilayah.
Penghapusan dari Daftar Hitam Terorisme
Langkah Washington menghapus Sharaa dari daftar hitam sebenarnya sudah lama diperkirakan. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, menjelaskan bahwa keputusan itu diambil karena pemerintahan Sharaa telah memenuhi sejumlah tuntutan, termasuk pencarian warga AS yang hilang serta pemusnahan senjata kimia yang tersisa.
“Tindakan ini diambil sebagai bentuk pengakuan atas kemajuan Suriah setelah berakhirnya rezim Assad yang menindas selama lebih dari lima dekade,” ujar Pigott.
Operasi Militer dan Stabilitas
Pada Sabtu, Kementerian Dalam Negeri Suriah mengumumkan operasi besar yang menargetkan sel-sel tidur ISIS di sejumlah wilayah seperti Aleppo, Idlib, Hama, Homs, Deir ez-Zor, Raqqa, dan Damaskus. Operasi tersebut menghasilkan 61 penggerebekan dan 71 penangkapan, menurut kantor berita resmi SANA.
Kunjungan Sharaa ke Washington juga menandai lanjutan upayanya memperbaiki citra Suriah di mata dunia. Sebelumnya, ia sempat berbicara di hadapan Majelis Umum PBB di New York pada September, menjadi presiden Suriah pertama dalam beberapa dekade yang berpidato di forum internasional tersebut.
Rekonstruksi Pasca Perang
Pekan lalu, Dewan Keamanan PBB juga menyetujui usulan Washington untuk mencabut sanksi internasional terhadap Suriah. Dalam pertemuan di Gedung Putih, Sharaa diperkirakan akan membahas peluang pendanaan dan kerja sama ekonomi. Suriah menghadapi tantangan besar dalam rekonstruksi setelah 13 tahun perang saudara.
Menurut Bank Dunia, biaya pemulihan dan pembangunan kembali Suriah diperkirakan mencapai 216 miliar dolar AS atau sekitar Rp 3.600 triliun. Ini menunjukkan besarnya tantangan yang dihadapi Suriah dalam membangun kembali negara mereka setelah konflik yang berkepanjangan.
Komentar
Kirim Komentar