Produksi garam nasional turun 50 persen

Produksi garam nasional turun 50 persen

Media sosial sedang ramai membicarakan topik ini. Banyak netizen yang penasaran kebenaran di balik Produksi garam nasional turun 50 persen. Berikut fakta yang berhasil kami kumpulkan.


Produksi garam di Indonesia mengalami penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat bahwa total produksi garam dari tambak rakyat dan pelaku usaha hanya mencapai sekitar 1 juta ton. Angka ini menurun hingga 50 persen dibandingkan produksi pada tahun sebelumnya yang mencapai 2,04 juta ton.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Frista Yorhanita, Direktur Sumber Daya Kelautan Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, menyebutkan bahwa cuaca menjadi salah satu faktor utama penyebab penurunan produksi tersebut. Intensitas hujan yang tinggi sepanjang tahun mengganggu proses penguapan air laut, sehingga pembentukan kristal garam tidak optimal.

“Kapasitas produksi nasional saat ini masih sekitar 1 juta ton per tahun, sementara kebutuhan mencapai 4,5 hingga 5 juta ton,” ujarnya dalam jumpa pers di Kementerian KKP, Selasa, 30 Desember 2025. Ia menjelaskan bahwa kondisi ini memaksa Indonesia untuk terus melakukan impor garam, yaitu sekitar 2,6 sampai 3 juta ton setiap tahun, terutama untuk kebutuhan industri.

Penurunan produksi ini menjadi tantangan serius bagi pemerintah dalam mengejar target swasembada garam pada 2027. Meski begitu, KKP tetap menjalankan berbagai langkah strategis untuk meningkatkan produksi dan kualitas garam nasional.

Program Intensifikasi dan Ekstensifikasi Tambak Garam

Pada 2025, KKP menerapkan dua program utama, yaitu intensifikasi dan ekstensifikasi tambak garam. Program intensifikasi difokuskan pada peningkatan produktivitas lahan yang sudah ada melalui revitalisasi tambak dan perbaikan infrastruktur pendukung. Intensifikasi dilakukan di beberapa daerah seperti Indramayu, Cirebon, Pati, dan Sabu Raijua.

Di wilayah tersebut, KKP membangun gudang garam rakyat dengan kapasitas 100 ton serta gudang besar dengan kapasitas 2.000 hingga 7.000 ton. Selain itu, bantuan geomembran disalurkan untuk mempercepat proses evaporasi air laut. Teknologi tepat guna seperti Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) juga mulai dikembangkan guna meningkatkan produktivitas sekaligus kualitas garam.

“Melalui program intensifikasi yang kami jalankan pada 2025, produksi diharapkan meningkat sekitar 30 persen dari kondisi eksisting,” ujar Frista.

Sementara itu, program ekstensifikasi dilakukan di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. KKP membangun tambak garam baru seluas 800 hektare yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2026. Dari pengembangan lahan tersebut, KKP memproyeksikan produktivitas mencapai sekitar 200 ton per hektare. Dengan demikian, total produksi garam dari Rote Ndao diperkirakan mencapai 160 ribu ton per tahun.

Upaya Meningkatkan Swasembada Garam

Selain program intensifikasi dan ekstensifikasi, KKP juga berupaya memperkuat sistem distribusi dan pemasaran garam nasional. Pihaknya berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas produk agar dapat bersaing di pasar domestik maupun internasional.

Dengan berbagai strategi yang dijalankan, KKP berharap dapat mencapai target swasembada garam pada 2027. Namun, hal ini memerlukan kerja sama yang kuat antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat pesisir. Dengan dukungan teknologi, infrastruktur, dan kebijakan yang tepat, produksi garam nasional diharapkan dapat kembali pulih dan berkembang secara berkelanjutan.

Kesimpulan: Bagaimana menurut Anda kejadian ini? Jangan lupa share artikel ini agar teman-teman Anda tidak ketinggalan berita heboh ini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar