Impor pertanian dari Amerika Serikat diprediksi akan mencapai angka US$ 4,5 miliar per tahun. Prediksi ini didasarkan pada kebijakan pemerintah Amerika Serikat yang mewajibkan pemerintah Indonesia untuk menghapus hambatan non tarif terhadap produk pertanian asal Negeri Paman Sam agar bisa mendapatkan tarif resiprokal sebesar 19%.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Salah satu syarat utama untuk mendapatkan tarif tersebut adalah meningkatkan nilai impor pertanian dari Amerika Serikat menjadi US$ 4,5 miliar per tahun. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan realisasi impor pertanian dari AS sebesar US$ 2,9 miliar pada tahun lalu.
Menurut Alvin Tai, analis komoditas lunak dari Bloomberg, penghapusan hambatan non tarif akan memungkinkan produk pertanian Amerika Serikat seperti jagung masuk secara bebas ke Indonesia. Harga jagung di dalam negeri kini mencapai Rp 6.000 per kilogram, yang setara dengan 150% lebih mahal dibandingkan harga jagung global.
Alvin menjelaskan bahwa harga jagung yang tinggi di dalam negeri disebabkan oleh penutupan keran impor jagung oleh pemerintah. Langkah ini dilakukan untuk melindungi petani jagung nasional, namun berdampak pada peternak ayam yang harus membayar harga pakan yang lebih mahal.
"Jika hambatan non tarif dihapus, impor jagung dari Amerika Serikat akan meningkat dan membuat harga jagung di Indonesia menurun. Hal ini akan sangat menguntungkan bagi peternak ayam," ujarnya.
Petani Jagung Indonesia Khawatir Rugi
Di sisi lain, Asosiasi Petani Jagung Indonesia (APJI) menyampaikan kekhawatiran terkait kebijakan pembebasan bea masuk terhadap jagung asal Amerika Serikat. Mereka menilai kebijakan ini dapat merugikan petani lokal dan membuat mereka berhenti menanam jagung.
Ketua Umum APJI, Solahuddin, menjelaskan bahwa rata-rata harga pokok produksi (HPP) jagung di dalam negeri berkisar antara Rp 4.000 hingga Rp 4.500 per kilogram. Sementara itu, jagung dari Amerika Serikat dijual sekitar Rp 3.500 per kilogram. Jika impor jagung dari AS meningkat, harga jagung di pasar dalam negeri diperkirakan akan turun menjadi Rp 3.700 per kilogram.
"Pembebasan bea masuk jagung dari AS akan membahayakan keberlanjutan pangan kita. Petani tidak akan mau menanam jagung jika pasti merugi," kata Solahuddin.
Menurutnya, daya saing jagung nasional masih jauh tertinggal dari produk impor karena tiga faktor utama, yaitu efisiensi lahan, mekanisasi pertanian, dan keunggulan benih. Mayoritas petani jagung lokal hanya mengelola lahan sempit, rata-rata 0,4 hektare. Sebaliknya, petani kecil di AS mampu menggarap lahan seluas 200 hektare.
Dari sisi mekanisasi, satu petani di AS bisa memanen 90 hektare dalam satu hari, sedangkan 20 petani jagung di dalam negeri belum tentu bisa memanen lahan seluas 10 hektare dalam satu hari. Ia juga menyoroti penggunaan teknologi canggih dalam produksi jagung di AS.
"Belum lagi mereka menggunakan benih berteknologi tinggi yang telah mendapatkan perlakuan rekayasa genetik melalui teknologi nano," tambahnya.
Komentar
Kirim Komentar