Sejarah Bubur Lemu Solo: Kuliner Legendaris yang Masih Eksis di Surakarta

Sejarah Bubur Lemu Solo: Kuliner Legendaris yang Masih Eksis di Surakarta

Informasi terkini hadir untuk Anda. Mengenai Sejarah Bubur Lemu Solo: Kuliner Legendaris yang Masih Eksis di Surakarta, berikut adalah data yang berhasil kami rangkum dari lapangan.
Sejarah Bubur Lemu Solo: Kuliner Legendaris yang Masih Eksis di Surakarta

Sejarah dan Keunikan Bubur Lemu di Kota Solo

Kuliner khas Solo tidak hanya terdiri dari sate kere, timlo, tengkleng, atau soto Solo. Ada satu hidangan tradisional yang memiliki sejarah panjang dan nilai budaya yang tinggi, yaitu bubur lemu. Dalam bahasa Jawa, bubur ini juga dikenal dengan nama jenang lemu. Bukan hanya sekadar makanan pengganjal perut, bubur lemu adalah warisan budaya yang sudah ada sejak masa Kerajaan Kasunanan Surakarta dan terus lestari hingga kini.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Bubur lemu dibuat dari beras berkualitas yang dimasak dengan santan kelapa, menghasilkan tekstur lembut dan rasa gurih yang khas. Di Solo dan sekitarnya, bubur ini sering disajikan bersama gudeg, sambal goreng krecek, opor ayam, atau telur pindang. Kombinasi rasa gurih, manis, dan pedas menciptakan harmoni rasa ala kuliner Jawa yang menggugah selera.

Makna Simbolis Bubur Lemu dalam Budaya Jawa

Dalam budaya Jawa, bubur atau jenang memiliki makna simbolis. Bukan hanya sebagai makanan, tetapi juga bagian dari tradisi dan ritual kehidupan. Jenang kerap disajikan pada acara syukuran, kelahiran, selamatan, hingga upacara adat. Menurut Heri Priyatmoko, sejarawan dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, bubur lemu memiliki makna mendalam secara historis, antropologis, dan spiritual.

“Jenang bukan sekadar makanan, tapi simbol kehidupan — tentang kesabaran, syukur, dan kebersamaan,” katanya. Contohnya, jenang sumsum dipercaya dapat memulihkan tenaga, sementara jenang sesaji menjadi bentuk doa kepada Sang Pencipta.

Jejak Sejarah Bubur Lemu di Tanah Jawa

Jejak keberadaan bubur di Nusantara sudah sangat tua. Catatan tertua muncul dalam Serat Lubdaka, karya Mpu Tanakung dari masa Kerajaan Kediri abad ke-12. Dalam naskah tersebut disebutkan beberapa jenis bubur seperti bubur susu (berbahan santan), bubur gula, hingga nasi liwet yang disajikan dengan lauk unik seperti katak hijau.

Temuan ini menunjukkan bahwa teknik memasak bubur sudah dikenal masyarakat Jawa kuno, jauh sebelum masa kolonial. Kemudian pada awal abad ke-19, karya besar Serat Centhini (ensiklopedia kebudayaan Jawa yang disusun pada masa Kasunanan Surakarta) kembali menegaskan peran penting bubur atau jenang dalam kehidupan masyarakat. Dalam naskah itu, bubur disebut hadir dalam berbagai konteks: mulai dari sarapan rakyat, hidangan hajatan, hingga sesaji ritual.

Pelestarian Bubur Lemu melalui Festival Jenang Solo

Kota Solo kini menjadi salah satu pusat pelestarian jenang di Indonesia. Setiap tahun, masyarakat Solo menggelar Festival Jenang yang menampilkan ratusan jenis bubur tradisional dari berbagai daerah. Festival ini menjadi ruang ekspresi budaya sekaligus upaya mengenalkan kembali kuliner tradisional kepada generasi muda dan wisatawan. Di antara aneka jenang yang disajikan, bubur lemu selalu menjadi primadona.

Aromanya menggoda, teksturnya lembut, dan rasanya menenangkan, seolah membawa kita ke masa lampau ketika bubur ini menjadi santapan para abdi dalem keraton.

Rekomendasi Tempat Bubur Lemu Terlezat di Solo

Jika kalian berkunjung ke Solo, berikut lima rekomendasi tempat populer untuk menikmati bubur lemu di Kota Surakarta dan sekitarnya:

  • Bubur Lemu & Nasi Gudeg Bu Prapti
    Alamat: Jl. Honggowongso No.55C, Laweyan, Solo. Buka pukul: 17.00–22.00 WIB. Harga Rp15.000–25.000. Perpaduan bubur lemu, gudeg manis, dan kuah opor gurih — favorit warga Solo sejak lama.

  • Bubur Lemu Bu Harso
    Alamat: Jl. Dr. Rajiman No.601, Sondakan, Solo. Harga: Rp20.000–50.000. Bubur lembut dengan ayam kampung dan semur tahu, lengkap dengan ketan juruh legendaris.

  • Nasi Liwet & Bubur Lemu Mbok Mami Mbak Kus
    Alamat: Jl. Dr. Radjiman No.580, Laweyan, Solo. Buka: Pukul 17.00–02.00 WIB. Harga: Rp15.000–35.000. Rasa autentik Solo dengan sambal tumpang khas yang pedas dan gurih.

  • Bubur Lemu Mbak Lusi
    Alamat: Jl. Letjen Sutoyo No.17, Nusukan, Solo. Buka: Pukul 16.00–20.00 WIB. Harga: Rp20.000. Bubur gurih disajikan dengan sambal krecek dan sayur tumis hijau, cocok untuk sore hari.

  • Bubur Lemu Mbah Narti
    Alamat: Jl. Wimboharsono, Kartasura, Sukoharjo. Buka: Pukul 17.00–05.00 WIB. Harga Rp20.000–35.000. Legendaris sejak puluhan tahun lalu. Rasanya gurih dan aromanya harum khas santan Jawa.

Bubur lemu Solo bukan sekedar makanan, tapi jejak sejarah kuliner Jawa sejak era kerajaan yang mengikat masa lalu dengan masa kini. Setiap sendok buburnya menyimpan kisah panjang tentang tradisi, kesederhanaan, dan kehangatan budaya Nusantara.

Kesimpulan: Demikian informasi mengenai Sejarah Bubur Lemu Solo: Kuliner Legendaris yang Masih Eksis di Surakarta. Semoga bermanfaat Anda hari ini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar