
Sektor rumah sakit di Indonesia terlihat tetap menarik dan prospektif untuk masa depan, khususnya menjelang tahun 2026. Pertumbuhan permintaan layanan kesehatan yang terus meningkat serta dominasi segmen pasien privat menjadi faktor utama yang mendorong pertumbuhan industri ini. Dalam analisis dari BRI Danareksa Sekuritas, tren positif ini diperkuat oleh fundamental jangka panjang yang kuat.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Pertumbuhan Pasien Privat yang Signifikan
Menurut Abida Massi Armand, Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas, volume pasien privat mengalami peningkatan sekitar 8% secara tahunan (YoY) pada kuartal III-2025. Hal ini menjadi pendorong utama bagi kinerja perusahaan rumah sakit. Selain itu, tingkat penetrasi fasilitas kesehatan di Indonesia masih tergolong rendah, sehingga memberi peluang besar untuk ekspansi dalam beberapa tahun ke depan.
“Proyeksi revenue CAGR (Compound Annual Growth Rate) untuk periode 2026–2031 mencapai sekitar 13%, sementara EPS CAGR mencapai 20%. Potensi ekspansi sangat besar,” ujarnya.
Valuasi yang Masih Menarik
Abida juga menyebut bahwa valuasi emiten rumah sakit masih memiliki ruang untuk naik pada 2026. Emiten dengan kinerja kuat seperti PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) dinilai memiliki potensi yang baik dibanding rata-rata historis. Saat ini, MIKA diperdagangkan pada 15,3 kali EV/EBITDA proyeksi tahun 2026, yang berada di bawah rata-rata historis (-1,8 SD). Meski demikian, MIKA memiliki EBITDA margin terbaik di Asia Tenggara, yang memberi peluang terjadinya re-rating seiring perbaikan margin dan peningkatan porsi pasien privat.
Strategi Ekspansi untuk Meningkatkan Daya Saing
Banyak emiten rumah sakit tengah mempersiapkan ekspansi untuk tahun 2026, termasuk pembukaan fasilitas baru dan peningkatan layanan berteknologi tinggi. Abida menilai strategi ini dapat langsung mengakselerasi pertumbuhan volume pasien serta meningkatkan daya saing dalam sistem Competency-Based Referral.
“Ekspansi membantu memperkuat kualitas layanan dan kontribusi pasien privat, sehingga menjadi katalis kuat untuk pertumbuhan keuangan berkelanjutan,” tambahnya.
Risiko yang Masih Terkendali
Dari sisi risiko, Abida menyoroti beberapa faktor seperti penyesuaian BPJS yang berjalan bertahap, claim ratio proyeksi tahun 2025 (Fiscal Year 2025 Forecast) sebesar 106,2%, serta potensi kedisiplinan biaya dari asuransi swasta. Namun menurutnya, risiko tersebut masih dalam batas yang dapat dikelola.
“Pemerintah mengalokasikan tambahan dana sekitar Rp 20 triliun di 2026, sehingga keberlanjutan operasional BPJS tetap terjaga,” ungkapnya.
Rekomendasi Investasi di Sektor Kesehatan
Abida menempatkan MIKA sebagai saham pilihan utama di sektor rumah sakit. Hal ini didukung oleh rekam jejak eksekusi yang kuat, margin tertinggi di regional, serta valuasi yang dinilai masih atraktif. BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor kesehatan, dengan MIKA sebagai top pick, sementara HEAL dan SILO juga berada dalam rekomendasi buy.
Komentar
Kirim Komentar