
Stres dan Keseimbangan Hormon yang Mempengaruhi Siklus Menstruasi
Stres berlebihan tidak hanya memengaruhi kesehatan mental, tetapi juga dapat memengaruhi siklus menstruasi pada wanita. Hal ini dijelaskan oleh Dr Boyke Dian Nugraha, seorang ahli kesehatan reproduksi, melalui akun TikTok Klinik Pasutri Dr Boyke.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Menurut penjelasannya, stres tinggi sangat mungkin menyebabkan keterlambatan menstruasi. Ia menjelaskan bahwa stres dapat mengganggu keseimbangan hormon yang diatur langsung oleh otak. “Stres itu bisa mengakibatkan keseimbangan hormon kita di kepala, di otak, menjadi terganggu,” ujar Dr Boyke dalam sebuah tayangan.
Ia menambahkan bahwa saat seseorang mengalami stres, tubuh akan lebih banyak memproduksi hormon norepinefrin dan nefrin. Hormon-hormon ini menyebabkan pembuluh darah berkontraksi, sehingga aliran darah ke berbagai organ, termasuk sistem hormon reproduksi, menjadi terganggu. Akibatnya, produksi hormon penting seperti FSH (Follicle Stimulating Hormone), LH (Luteinizing Hormone), estrogen, dan progesteron tidak berjalan normal. Gangguan inilah yang membuat siklus menstruasi menjadi tidak teratur, termasuk terlambat datang bulan.
Selain itu, Dr Boyke juga menjelaskan bahwa stres dapat menurunkan sistem imun tubuh. Penurunan daya tahan tubuh ini kembali berdampak pada keseimbangan hormon, menciptakan efek timbal balik yang memperparah gangguan siklus menstruasi. “Orang-orang yang stres, imunitasnya juga menurun, dan itu ikut memengaruhi keseimbangan hormon,” tambahnya.
Karena itu, Dr Boyke mengimbau agar masyarakat, khususnya perempuan, lebih memperhatikan kesehatan mental dan mengelola stres dengan baik, demi menjaga kesehatan reproduksi secara keseluruhan.
Haid Tak Teratur di Usia 40-an Bisa Jadi Tanda Menopause Dini
Siklus haid yang mulai tak teratur di usia 40-an kerap dianggap hal biasa akibat kelelahan atau stres. Namun menurut pakar kesehatan reproduksi Dr Boyke Dian Nugraha, kondisi ini bisa menjadi tanda awal menopause dini yang sering tidak disadari oleh banyak perempuan.
Menurut Dr Boyke, kondisi berhentinya haid di usia 40-an bisa mengarah pada menopause dini, yaitu berhentinya fungsi ovarium sebelum waktunya. “Kalau seorang wanita sudah berhenti haid di usia 42 tahun, itu sudah termasuk menopause dini,” jelas Dr Boyke dalam tayangan konsultasinya.
Berikut adalah enam tanda menopause dini yang sering tidak disadari:
-
Siklus Haid Tidak Teratur
Haid yang datang tidak menentu, kadang dua bulan sekali, bahkan bisa berhenti tiba-tiba selama beberapa bulan menjadi tanda pertama kadar hormon estrogen menurun. -
Haid Terhenti Sebelum Usia 45 Tahun
Bila seorang wanita tidak mengalami menstruasi sama sekali selama 12 bulan penuh sebelum usia 45, maka hal itu sudah tergolong menopause dini. -
Nyeri Hebat Saat Haid
“Kalau nyerinya sampai ke kepala, bahkan terasa hingga ke ubun-ubun, itu bisa jadi tanda adanya endometriosis,” terang Dr Boyke. Penyakit ini sering menyerang wanita usia subur dan berkaitan erat dengan gangguan hormonal. -
Sulit Tidur dan Mudah Lelah
Ketika kadar hormon turun drastis, tubuh menjadi lebih mudah lelah, sulit tidur, dan sering terbangun di malam hari tanpa sebab jelas. -
Perubahan Emosi dan Suasana Hati
Banyak wanita menopause dini yang mengaku lebih mudah tersinggung, cemas, atau merasa sedih. Hal ini dipicu oleh fluktuasi hormon estrogen dan progesteron yang memengaruhi kestabilan emosi. -
Perubahan Fisik Akibat Turunnya Estrogen
Gejala fisik seperti sensasi panas (hot flashes), kulit kering, penurunan gairah seksual, hingga berat badan yang sulit dikontrol juga bisa menjadi tanda khas menopause dini.
Menurut Dr Boyke, jika menopause dini terdeteksi sejak awal, masih ada langkah yang bisa dilakukan untuk memperlambat prosesnya. Salah satunya adalah pemberian terapi hormon. “Pada usia 42 tahun, sebenarnya kita masih bisa bantu dengan obat hormon supaya tidak terjadi menopause terlalu cepat,” ungkapnya.
Namun, ia menegaskan bahwa terapi medis sebaiknya dibarengi dengan pola hidup sehat. “Kami anjurkan untuk olahraga ringan 20–30 menit setiap hari, konsumsi nasi merah, dan menjaga berat badan ideal,” kata Dr Boyke.
Selain terapi medis, Dr Boyke juga menyarankan agar wanita menopause dini banyak mengonsumsi makanan berbahan dasar kedelai seperti tahu, tempe, kecap, atau susu kedelai, karena mengandung fitoestrogen, zat alami yang mirip hormon estrogen. “Fitoestrogen itu bisa membantu menyeimbangkan hormon tubuh wanita. Jadi, meskipun produksi hormon dari tubuh menurun, ada bantuan dari sumber alami,” jelasnya.
Bagi yang ingin dukungan tambahan, Dr Boyke juga menyebut ada suplemen herbal yang mengandung Pueraria mirifica dan Centella asiatica. Kedua bahan ini banyak digunakan di berbagai negara untuk membantu wanita menjelang maupun setelah menopause.
Menopause dini kerap membuat sebagian wanita cemas, takut cepat menua, atau merasa kehilangan daya tarik. Namun menurut Dr Boyke, hal itu tidak perlu dikhawatirkan berlebihan. “Yang penting, tetap tenang, jaga kesehatan, dan jangan abaikan tanda-tanda tubuh. Kalau ditangani sejak awal, wanita tetap bisa sehat, bugar, dan bahagia meskipun sudah menopause,” pungkasnya.
Komentar
Kirim Komentar