
Perubahan Besar dalam Timnas Voli Putri Indonesia
Pembentukan tim nasional voli putri Indonesia untuk SEA Games 2025 Thailand menunjukkan perubahan besar dalam strategi dan filosofi yang diambil oleh Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI). Salah satu keputusan yang mengejutkan adalah tidak adanya nama Shella Bernadetha, pemain senior yang selama bertahun-tahun menjadi tulang punggung tim. Shella, yang kini bermain untuk klub Petrokimia Gresik Pupuk Indonesia, dikenal sebagai middle blocker berpengalaman dan pemimpin di lapangan.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Namun, pelatih kepala timnas putri, Marcos Sugiyama, memilih arah yang berbeda. Ia mempercayakan masa depan tim kepada generasi muda yang baru saja menorehkan prestasi di Kejuaraan Dunia U-21. Langkah ini menandai pergeseran besar dalam filosofi timnas. Di saat negara lain masih mengandalkan nama-nama lama, Indonesia justru melakukan regenerasi besar-besaran menjelang ajang multievent terbesar di kawasan Asia Tenggara.
Sugiyama menilai bahwa momen ini adalah kesempatan emas untuk membangun fondasi jangka panjang. “Kita tidak hanya memikirkan SEA Games tahun ini, tetapi juga masa depan voli Indonesia lima tahun ke depan,” ujarnya.
Selain Shella, absennya Tisya Amallya Putri juga menimbulkan perbincangan. Kedua pemain itu sebelumnya hampir selalu masuk daftar utama dalam beberapa turnamen internasional terakhir. Sebagai gantinya, muncul nama-nama muda seperti Junaida Santi, Pascalina Mahuze, dan Kadek Diva Yanti — pemain yang baru naik dari skuad U-21.
Meski masih muda, para pemain ini bukan tanpa pengalaman. Mereka telah menghadapi lawan-lawan tangguh di Kejuaraan Dunia U-21 Putri 2025 dan berhasil menembus target prestasi yang ditetapkan PBVSI. Beberapa di antara mereka bahkan sudah menunjukkan potensi sebagai calon bintang masa depan, seperti Junaida yang dikenal dengan servis tajamnya, serta Pascalina yang memiliki blok impresif.
Dari jajaran senior, tim masih akan mengandalkan kepemimpinan kapten Megawati Hangestri dan Mediol Stiovanny Yoku. Keduanya diharapkan mampu menjadi jembatan antara pemain muda dan staf pelatih. “Kami tahu tanggung jawab kami bukan hanya soal bermain, tapi juga membimbing,” ujar Megawati dalam pernyataan singkatnya.
Pemusatan Latihan Nasional
Pemusatan latihan nasional akan digelar di Pedi Medan mulai 28 Oktober hingga November 2025. Di bawah arahan Sugiyama dan asisten pelatih Pedro Lilipaly serta Wilda Nurfadila, para pemain akan menjalani program intensif yang menitikberatkan pada kekuatan fisik, koordinasi tim, dan disiplin bertahan.
Meskipun keputusan PBVSI menuai pro dan kontra, banyak pihak menilai langkah ini sejalan dengan tren global olahraga modern — di mana pembinaan usia muda menjadi kunci keberlanjutan prestasi. Beberapa pengamat bahkan menyebut ini sebagai “revolusi senyap” dalam sistem pembinaan voli Indonesia.
Shella sendiri belum memberikan komentar terbuka terkait pencoretannya. Namun sumber internal klub Petrokimia menyebut, pemain 29 tahun itu memilih fokus membantu timnya di ajang Livoli Divisi Utama. “Dia tetap profesional, tidak ingin polemik. Tapi tentu ada rasa kecewa,” ujar salah satu rekan setimnya.
SEA Games 2025 mungkin menjadi awal dari babak baru bagi voli putri Indonesia — babak yang penuh tantangan namun menjanjikan masa depan cerah. Jika generasi muda ini mampu beradaptasi cepat dan menjaga semangat juang, absennya nama-nama besar seperti Shella bisa saja menjadi titik balik menuju kejayaan baru di kancah Asia Tenggara.
Komentar
Kirim Komentar