Tarif AS Belum Sepakat, Indonesia Masih Impor Minyak dari Singapura

Tarif AS Belum Sepakat, Indonesia Masih Impor Minyak dari Singapura

Dunia bisnis menghadapi dinamika baru hari ini. Kabar mengenai Tarif AS Belum Sepakat, Indonesia Masih Impor Minyak dari Singapura menjadi informasi krusial bagi para pelaku pasar. Berikut rinciannya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Proses Negosiasi Tarif Resiprokal Indonesia dan AS Masih Berlangsung

Negosiasi antara pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat mengenai kebijakan tarif resiprokal masih berlangsung. Kondisi ini memengaruhi arus impor minyak dan gas bumi yang saat ini masih dilakukan dari Singapura.

Tarif resiprokal merupakan kebijakan yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump pada April lalu, yang berlaku bagi negara-negara mitra dagangnya. Saat ini, Indonesia menerima tarif sebesar 19%.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Laode Sulaeman, menyatakan bahwa belum ada penghentian impor dari Singapura. Ia menjelaskan hal ini saat ditemui di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta, Jumat (7/11).

Dalam proses negosiasi, Indonesia berencana untuk mengimpor produk-produk migas dari AS senilai US$ 15 miliar atau sekitar Rp 250 triliun. Rencana ini juga akan mengubah komposisi impor migas Indonesia ke negara lain, termasuk Singapura.

Peluang Impor LPG dan Minyak Mentah dari AS

Pertamina memiliki peluang untuk meningkatkan impor LPG dari AS, sementara impor minyak mentah masih dalam proses negosiasi. Beberapa perusahaan AS telah menandatangani kesepakatan untuk ekspor minyak mentah ke Indonesia. Namun, tarif yang diberlakukan oleh AS tetap sebesar 32%.

Meski demikian, Indonesia masih membuka peluang untuk impor LPG dan minyak mentah dari AS, asalkan tercapai kesepakatan dalam negosiasi. Laode Sulaeman menyatakan bahwa semua rencana terkait kesepakatan tarif masih dalam proses, sehingga belum ada keputusan pasti mengenai perubahan arah impor.

Target Penyelesaian Negosiasi November 2025

Menteri Perdagangan Budi Santoso menargetkan penyelesaian perundingan kebijakan tarif resiprokal antara Indonesia dan AS rampung pada bulan ini. Pekan depan, pemerintah Indonesia akan kembali melakukan negosiasi dengan AS.

“Targetnya pertengahan bulan ini ya, November,” ujar Budi saat ditemui di Hutan Kota Plataran, Jakarta, Selasa (4/11).

Budi menyampaikan bahwa proses penyelesaian perundingan ini memang lebih lama dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Kamboja. Meskipun begitu, ia optimis hasil yang dicapai akan lebih baik.

Kebijakan yang Menguntungkan Kedua Belah Pihak

Pemerintah Indonesia memastikan bahwa keputusan yang diambil akan saling menguntungkan. Salah satu isu yang masih menggantung adalah permintaan Indonesia terkait pembebasan tarif 0% bagi komoditas yang tidak diproduksi AS namun diekspor ke negeri Paman Sam.

Proses negosiasi ini tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga pada hubungan perdagangan bilateral antara kedua negara. Dengan adanya kesepakatan yang saling menguntungkan, diharapkan dapat meningkatkan kerja sama ekonomi dan investasi antara Indonesia dan AS.

Selain itu, negosiasi ini juga menjadi langkah penting dalam upaya pemerintah Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan energi dari negara-negara lain, serta memperkuat kemandirian sektor energi nasional.

Kesimpulan: Semoga informasi mengenai Tarif AS Belum Sepakat, Indonesia Masih Impor Minyak dari Singapura ini bermanfaat bagi keputusan bisnis Anda. Tetap optimis dan pantau terus perkembangan pasar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar