Tekanan ekonomi akibat ditinggal suami diduga jadi penyebab tragedi keluarga di Buayan

Tekanan ekonomi akibat ditinggal suami diduga jadi penyebab tragedi keluarga di Buayan

Jagat maya sedang ramai membicarakan topik ini. Banyak netizen yang penasaran kebenaran di balik Tekanan ekonomi akibat ditinggal suami diduga jadi penyebab tragedi keluarga di Buayan. Berikut fakta yang berhasil kami kumpulkan.

KEBUMEN, aiotrade Kepolisian mengungkapkan dugaan awal bahwa tekanan ekonomi akibat ditinggal suami menjadi salah satu faktor yang memicu tragedi keluarga di Kecamatan Buayan, Kabupaten Kebumen, yang menewaskan seorang ibu berusia 44 tahun dan anak laki-lakinya yang masih berusia 5 tahun.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Dalam peristiwa tersebut, satu anak lainnya yang berusia 8 tahun berhasil selamat dan kini diasuh oleh keluarga terdekat.

Kapolsek Buayan, Iptu Walali Saebani, mengatakan peristiwa itu diketahui setelah pihaknya menerima laporan dari warga pada Selasa malam sekitar pukul 22.00 WIB.

Petugas piket bersama anggota kemudian mendatangi lokasi untuk melakukan pengecekan.

“Awalnya pada Selasa (6/1/2026) kami hanya menerima laporan adanya warga yang meninggal dunia. Setelah kami tiba di lokasi dan melakukan pemeriksaan, ditemukan dua korban, satu perempuan dewasa dan satu anak laki-laki. Satu anak lainnya dalam kondisi selamat,” ujar Iptu Walali pada Senin (12/1/2026).

Berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara dan pemeriksaan medis oleh tim Inafis Polres Kebumen serta dokter dari RSUD Kebumen, polisi tidak menemukan tanda-tanda kekerasan maupun indikasi keterlibatan pihak lain.

Kedua korban ditemukan tergantung di dalam rumah.

“Dari hasil visum dan pemeriksaan di TKP, tidak ditemukan unsur pidana. Kesimpulan sementara, peristiwa tersebut merupakan bunuh diri,” tegasnya.

Walali menjelaskan, korban tinggal di rumah bersama dua anaknya.

Suami korban diketahui telah bekerja di luar daerah dan sekitar dua tahun terakhir tidak pernah pulang maupun memberikan kabar kepada keluarga.

Kondisi tersebut diduga memperberat tekanan hidup yang dialami korban.

“Dari keterangan tetangga dan keluarga, korban menghadapi tekanan ekonomi. Hal ini diduga menjadi salah satu pemicu, meskipun masih kami dalami,” kata Iptu Walali.

Keterangan tersebut diperkuat oleh Samijo, kakak ipar korban, yang mengungkapkan bahwa korban selama ini menjalani kehidupan yang sederhana dan penuh keterbatasan.

Menurutnya, korban sebelumnya berjualan makanan ringan dan jajanan anak-anak untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

“Dulu dia jualan jajanan anak-anak. Soal ekonomi memang kekurangan,” ungkap Samijo.

Ia menambahkan, korban dikenal sebagai pribadi yang pendiam dan tertutup.

Meski memiliki hubungan keluarga yang dekat, korban jarang mengeluhkan kondisi rumah tangganya kepada siapa pun.

“Orangnya itu diam, enggak pernah cerita masalah. Walaupun kami keluarga dekat, dia tidak pernah terbuka soal apa yang dia rasakan karena ya juga beda rumah,” kata Samijo.

Samijo juga menceritakan detik-detik awal peristiwa diketahui.

Anak korban yang berusia 8 tahun datang ke rumahnya dalam keadaan panik dan meminta pertolongan.

“Anaknya lari ke rumah saya, cerita kalau kondisi di rumah sudah seperti itu (ibu dan adiknya gantung diri). Saya langsung ke sana dan ternyata memang sudah meninggal,” tuturnya.

Saat ini, anak yang selamat diasuh oleh Samijo dan keluarga.

Aparat desa bersama pihak kepolisian dan instansi terkait tengah berkoordinasi untuk memberikan pendampingan, termasuk dukungan psikologis bagi anak tersebut.

Kepolisian mengimbau masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan sekitar, terutama warga yang hidup dalam tekanan ekonomi dan sosial.

Dukungan keluarga dan lingkungan dinilai penting untuk mencegah terjadinya peristiwa serupa di masa mendatang.

Pemerintah Kabupaten Kebumen memastikan hadir secara penuh dalam pendampingan keluarga korban tragedi keluarga yang mengguncang Desa Banyumudal, Kecamatan Buayan.

Bupati Kebumen Lilis Nuryani telah mengunjungi mengunjungi rumah duka pada Jumat (9/1/2026) yang lalu.

Bupati memastikan pendampingan anak korban yang selamat dari tragedi gantung diri dilakukan secara maksimal.

Dalam keterangan resminya yang diterima aiotrade pada Senin (12/1/2026) Bupati Lilis menegaskan bahwa negara tidak boleh absen ketika warganya menghadapi situasi paling sulit.

Pemkab Kebumen, kata dia, berkomitmen memberikan dukungan menyeluruh, mulai dari bantuan darurat, pendampingan psikologis, hingga jaminan pemenuhan hak pendidikan dan kesehatan anak korban.

“Pemerintah hadir untuk memastikan keluarga yang ditinggalkan tidak berjalan sendiri. Kami memberikan dukungan moral, bantuan ekonomi, pendampingan psikologis, serta pembebasan biaya visum. Yang terpenting, anak yang selamat harus mendapatkan rasa aman dan masa depan yang baik,” ujar Bupati Lilis.

Catatan Redaksi:

Jika Anda atau orang terdekat mengalami tekanan psikologis berat, jangan ragu mencari bantuan. Dukungan keluarga, tenaga kesehatan, dan layanan pendampingan profesional sangat penting untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan.

Kesimpulan: Bagaimana menurut Anda kejadian ini? Jangan lupa bagikan artikel ini agar teman-teman Anda tidak ketinggalan info viral ini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar