Temuan Bayi Hiu Paus Pertama di Teluk Saleh NTB

Temuan Bayi Hiu Paus Pertama di Teluk Saleh NTB

Media sosial sedang heboh membicarakan topik ini. Banyak netizen yang penasaran kebenaran di balik Temuan Bayi Hiu Paus Pertama di Teluk Saleh NTB. Berikut fakta yang berhasil kami rangkum.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Penemuan Pertama Bayi Hiu Paus di Alam Liar

Untuk pertama kalinya, para peneliti berhasil menemukan bayi hiu paus (neonatal) yang baru lahir di alam liar. Temuan ini terjadi di perairan Teluk Saleh, Nusa Tenggara Barat, dan menjadikan teluk tersebut sebagai salah satu kandidat terkuat sebagai area melahirkan anakan hiu paus di dunia.

Hiu paus ( Rhincodon typus ) adalah ikan terbesar di dunia. Namun, fase awal kehidupannya hampir sepenuhnya tidak pernah teramati. Hingga saat ini, belum ada lokasi melahirkan atau pupping ground hiu paus yang terkonfirmasi secara ilmiah. Dalam lebih dari satu abad penelitian, catatan kemunculan bayi hiu paus berukuran di bawah 1,5 meter secara global hanya tercatat sebanyak 33 kali. Sebagian besar di antaranya merupakan hasil observasi singkat, tanpa dokumentasi visual yang memadai, dan tidak terjadi secara berulang di satu lokasi.

Di Teluk Saleh, situasinya berbeda. Pada Agustus hingga September 2024, nelayan lokal melaporkan melihat sedikitnya lima kali kemunculan hiu paus kecil berukuran 1,2–1,5 meter di sekitar bagan. Salah satu individu bahkan sempat terjaring tanpa sengaja sebelum dilepaskan kembali ke laut.

Setelah terjaring, bayi hiu paus sempat berada dalam boks styrofoam berisi air laut, yang memungkinkan nelayan melakukan estimasi ukuran tubuh secara presisi menggunakan analisis visual berbasis objek pembanding. Dengan dimensi boks 120x42x32 sentimeter, panjang total hiu paus itu diperkirakan sekitar 135–145 sentimeter atau 1,35-1,45 meter.

Ukuran bayi baru lahir hiu paus Teluk Saleh ini mengindikasikan usia sekitar empat bulan. Artinya, bayi hiu paus tersebut masih berada pada fase kehidupan yang sangat dini dan sangat jarang berhasil teramati di alam bebas.

Peran Penting Teluk Saleh dalam Konservasi Hiu Paus

Menurut Mochamad Iqbal Herwata Putra, Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia, penemuan ini memberikan sinyal yang sangat kuat bahwa Teluk Saleh kemungkinan besar memiliki fungsi ekologis sebagai area melahirkan dan pengasuhan anakan hiu paus.

Dia menambahkan, jika nantinya terbukti sebagai lokasi melahirkan, maka Teluk Saleh akan menjadi lokasi pertama di dunia yang pernah teridentifikasi secara pasti.

Edy Setyawan, Lead Conservation Scientist di Elasmobranch Institute Indonesia, menilai penemuan ini menandai kemajuan yang sangat signifikan dalam riset hiu paus global. Dia membenarkan bahwa catatan bayi hiu paus sangat langka di seluruh dunia, dan setiap pengamatan baru memperkuat basis data global.

“Temuan ini memberikan wawasan krusial tentang di mana dan bagaimana hiu paus memulai kehidupannya,” kata Edy.

Meski demikian, Iqbal menyatakan bahwa Teluk Saleh masih berada pada status strong potential pupping ground, belum dapat disebut sebagai lokasi kelahiran yang terkonfirmasi sepenuhnya. Alasannya, butuh beberapa bukti yang masih dibutuhkan untuk memastikannya.

Potensi dan Risiko di Teluk Saleh

Konservasi Indonesia bersama para mitra tengah bekerja sama dengan otoritas pemerintah untuk membentuk kawasan konservasi perairan (Marine Protected Area/MPA) berbasis hiu paus pertama di Indonesia di Teluk Saleh. Iqbal menyebut, dengan temuan ini, status kawasan penting Teluk Saleh berpotensi ditingkatkan menjadi lebih tinggi, dan menjadikannya sebagai dasar ilmiah yang lebih kuat untuk perlindungan resmi.

Perairan Teluk Saleh relatif tenang dan terlindung dari gelombang besar laut lepas, sekaligus memiliki produktivitas plankton yang tinggi. Suplai nutrien dari mangrove, padang lamun, dan terumbu karang, ditambah keberadaan bagan yang secara konsisten menarik ikan kecil dan udang rebon, menjadikan Teluk Saleh sebagai “meja makan” alami yang stabil bagi bayi hiu paus yang sedang berada pada fase pertumbuhan kritis.

Namun, di balik potensi ilmiah yang luar biasa, bayi hiu paus di Teluk Saleh juga menghadapi risiko nyata seperti jerat jaring nelayan, penurunan kualitas air akibat aktivitas pesisir, serta meningkatnya lalu lintas kapal yang dapat menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup bayi hiu paus yang masih sangat rentan.

Langkah-Langkah Konservasi Berikutnya

Dari temuan ini, Konservasi Indonesia berencana melakukan pemantauan lanjutan untuk mengonfirmasi apakah bayi dan anakan hiu paus ini muncul secara reguler, bukan kebetulan. Selain itu, mereka akan memperluas sistem pelaporan berbasis masyarakat serta memajukan rencana pembentukan MPA berbasis hiu paus yang melindungi spesies ini, sekaligus memperkuat konservasi berbasis komunitas.

Temuan ini juga menegaskan peran penting nelayan lokal dalam riset konservasi modern berbasis masyarakat. Menurut Ismail Syakurachman, Lead Studi First Evidence of Neonatal Whale Sharks in Saleh Bay, laporan dari nelayan memungkinkan para peneliti merespons cepat kemunculan neonatal hiu paus yang sangat langka ini.

"Nelayan adalah mata para peneliti di laut. Mereka menangkap momen yang hampir mustahil terdeteksi oleh survei ilmiah konvensional,” katanya. "Tanpa keterlibatan mereka, tahap paling awal kehidupan hiu paus kemungkinan besar akan tetap tersembunyi dari sains,” ujar dia.

Kesimpulan: Bagaimana menurut Anda kejadian ini? Jangan lupa bagikan artikel ini agar teman-teman Anda tidak ketinggalan berita heboh ini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar