Washington DC, aiotrade
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyampaikan kekhawatiran terkait rendahnya rasa bangga nasional terhadap kemenangan militer AS dalam Perang Dunia I dan II. Pernyataan ini disampaikan dalam pidato yang diucapkannya pada upacara Hari Veteran di Arlington National Cemetery, Selasa (11/11/2025).
“Ketika saya melihat negara lain merayakan Hari Kemenangan, mereka merayakan kemenangan mereka di Perang Dunia II. Lalu saya berpikir, kita juga harus punya Hari Kemenangan. Tidak ada yang membicarakan hal itu di negara kita. Tapi mulai sekarang, kita akan merayakan Hari Kemenangan untuk Perang Dunia I, Perang Dunia II, dan, sejujurnya, untuk semua kemenangan kita,” ujar Trump.
Dalam pidatonya, Trump mengungkapkan rencana untuk menetapkan Hari Veteran sebagai “Victory Day”—Hari Kemenangan—yang bertujuan memperingati keberhasilan Amerika Serikat dalam dua perang besar dunia tersebut. Ia ingin agar masyarakat AS lebih menghargai peran negara dalam konflik global tersebut.
Trump membandingkan AS dengan Perancis dan Rusia yang memiliki perayaan besar-besaran untuk memperingati kemenangan mereka dalam Perang Dunia II. Ia berusaha menegaskan bahwa AS adalah pemenang utama dalam dua perang besar tersebut.
“Perancis punya perayaan besar untuk kemenangan mereka atas Jerman Nazi, dan Rusia juga merayakan Hari Kemenangan dengan mengenang 27 juta korban perang. Tapi kita? Kita bahkan tidak punya perayaan seperti itu,” ujarnya.
Namun, pernyataan Trump bahwa AS tidak memiliki Hari Kemenangan tidak sepenuhnya benar. Faktanya, sejarah Hari Veteran itu sendiri mengandung informasi yang berbeda. Diketahui, pada 11 November 1919, tepat satu tahun setelah gencatan senjata yang mengakhiri Perang Dunia I, AS merayakan Hari Kemenangan yang dikenal sebagai Armistice Day.
Pada masa itu, perayaan ini dimaksudkan untuk menghormati kemenangan AS dalam Perang Dunia I. Namun, pada 1954, Kongres AS—atas permintaan organisasi veteran—mengubah nama acara tersebut menjadi Veterans Day. Tujuan dari perubahan ini adalah untuk menghormati seluruh prajurit yang pernah bertugas, bukan hanya mereka yang berperang dalam Perang Dunia I saja.
Beberapa ahli sejarah berpendapat bahwa perubahan nama ini mencerminkan pergeseran fokus dari perayaan kemenangan militer menjadi penghargaan terhadap para veteran. Meskipun begitu, banyak orang masih mengaitkan Hari Veteran dengan peran penting AS dalam dua perang besar tersebut.
Trump tampaknya ingin mengembalikan fokus ke kemenangan militer AS, dengan mengusulkan penamaan ulang Hari Veteran menjadi Victory Day. Pendekatannya ini menunjukkan keinginan untuk membangkitkan rasa bangga nasional terhadap peran AS dalam sejarah dunia.
Meski demikian, banyak pihak tetap berpendapat bahwa perayaan hari veteran lebih cocok untuk menghargai jasa para tentara daripada sekadar fokus pada kemenangan militer. Mereka percaya bahwa setiap tahun, para veteran layak mendapatkan penghargaan yang layak, baik dalam bentuk perayaan maupun apresiasi dari masyarakat luas.
Seiring dengan usulan Trump, muncul pertanyaan tentang bagaimana masyarakat AS akan merayakan peristiwa-peristiwa sejarah tersebut. Apakah mereka akan fokus pada kemenangan atau pada penghormatan terhadap para veteran? Pertanyaan ini bisa menjadi bahan diskusi yang panjang dan kompleks.
Selain itu, beberapa pihak juga khawatir bahwa pendekatan ini bisa membuat masyarakat lupa bahwa perang juga membawa dampak buruk, termasuk korban jiwa dan kerusakan yang sangat besar. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk tetap menghargai sejarah tanpa mengabaikan pelajaran yang telah diajarkan oleh peristiwa-peristiwa tersebut.
Dengan berbagai perdebatan dan perspektif yang berbeda, acara Hari Veteran tetap menjadi momen penting untuk menghormati jasa para veteran. Dan, meskipun Trump ingin mengubah namanya menjadi Victory Day, harapan besar tetap ada bahwa acara ini akan terus menjadi wadah penghargaan yang layak bagi para pahlawan bangsa.
Komentar
Kirim Komentar