
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Perubahan Strategi Filantropi Mark Zuckerberg
Mark Zuckerberg, pendiri Meta Platforms, kembali melakukan penataan ulang terhadap pengaruh globalnya. Kali ini, ia secara resmi menghentikan pendanaan Chan Zuckerberg Initiative (CZI) terhadap FWD.us, sebuah kelompok advokasi pro-imigrasi yang didirikannya bersama sejumlah tokoh elite Silicon Valley lebih dari satu dekade lalu.
Keputusan ini menandai pergeseran strategis dalam filantropi Zuckerberg, dari fokus pada advokasi kebijakan publik menuju riset sains dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Perubahan ini tidak hanya sekadar penghentian dukungan finansial, tetapi juga menjadi simbol perubahan orientasi kekuasaan filantropi teknologi.
FWD.us, yang telah aktif sejak 2013 dalam mendorong reformasi sistem imigrasi dan peradilan pidana Amerika Serikat secara bipartai, untuk pertama kalinya pada 2025 tidak lagi menerima pendanaan dari CZI. Organisasi filantropi yang didirikan oleh Zuckerberg bersama istrinya, Priscilla Chan, telah mengalami proses transisi sejak akhir 2022 dan secara administratif ditetapkan pada April 2025.
Perwakilan CZI menyatakan bahwa perubahan arah ini sudah direncanakan jauh sebelumnya. “Hampir lima tahun lalu, kami menyampaikan bahwa kami akan fokus pada pekerjaan inti kami di bidang sains, pendidikan, dan mendukung komunitas lokal. Sebagai bagian dari transisi tersebut, kami memberikan pendanaan dasar kepada FWD.us untuk melanjutkan kerja bipartai mereka. Kami telah memenuhi komitmen finansial tersebut dan menghentikan pendanaan advokasi sosial kami,” ujar perwakilan CZI.
Bagi FWD.us, penghentian dukungan dari CZI tidak serta-merta mengubah mandat organisasi. Presiden FWD.us Todd Schulte menegaskan bahwa arah gerakan mereka tetap konsisten. “Fokus kami tetap pada upaya memajukan solusi pragmatis dan bipartai yang memperkuat perekonomian serta membuat sistem imigrasi dan peradilan pidana berjalan lebih baik,” kata Schulte.
Namun, keputusan ini tidak dapat dilepaskan dari konteks politik yang lebih luas. Sejak terpilihnya kembali Presiden Donald Trump, Zuckerberg menunjukkan pergeseran posisi yang lebih berhati-hati terhadap isu-isu advokasi sosial. Pada 2024, dia diketahui bertemu dengan penasihat Trump, Stephen Miller, yang disebut mempertanyakan keterkaitan CZI dengan FWD.us.
Dalam periode yang sama, hubungan Zuckerberg dengan lingkar kekuasaan Washington juga menguat. Meta menyumbang dana sebesar 1 juta dolar AS—setara sekitar Rp16,7 miliar dengan kurs Rp16.770 per dolar AS—untuk dana pelantikan Trump, serta turut membantu pendanaan pembangunan ballroom baru Gedung Putih. Zuckerberg juga beberapa kali dilaporkan bertemu dan makan malam bersama Trump pascapemilihan.
Selain itu, Meta juga berulang kali melakukan penyesuaian kebijakan platform yang dipandang mengakomodasi kritik kalangan konservatif. Perusahaan mengganti mekanisme pemeriksa fakta pihak ketiga dengan community notes dan melonggarkan definisi ujaran kebencian di Facebook dan Instagram. Langkah-langkah ini memperkuat persepsi bahwa Zuckerberg tengah menata ulang relasi politik dan bisnisnya.
Di sisi filantropi, CZI kini memusatkan sumber dayanya pada riset ilmiah dan AI, khususnya melalui jaringan laboratorium biologi Biohub yang telah didukung sejak 2016. Priscilla Chan secara terbuka menekankan kebutuhan infrastruktur komputasi dalam agenda baru ini. “Para peneliti kami tidak membutuhkan lebih banyak ruang kantor; yang mereka butuhkan adalah lebih banyak GPU,” ujarnya dalam pernyataan sebelumnya.
Pada akhirnya, perubahan arah CZI mencerminkan kecenderungan yang semakin menguat di kalangan elite teknologi global, ketika filantropi tidak lagi semata diposisikan sebagai instrumen advokasi sosial, melainkan sebagai investasi strategis pada sains dan kecerdasan buatan.
Bagi Mark Zuckerberg, keputusan menghentikan pendanaan advokasi imigrasi menandai fase baru: dari pengaruh kebijakan publik menuju penguasaan infrastruktur ilmu pengetahuan dan teknologi strategis dunia.
Komentar
Kirim Komentar