SAYAP DARI AYAH DAN IBU

SAYAP DARI AYAH DAN IBU

Sejak kecil, aku selalu melihat bagaimana kedua orang tuaku bekerja keras untuk memastikan aku tumbuh menjadi pribadi yang baik. Ayah dan ibu bukan hanya memberiku makanan dan tempat tinggal, tetapi juga nilai-nilai hidup yang sampai sekarang masih kupegang. Mereka sering berkata bahwa pendidikan bukan hanya soal sekolah, tetapi juga soal bagaimana bersikap sebagai manusia.

Ayah adalah sosok yang tegas namun penuh kasih. Ia tidak banyak bicara, tetapi setiap ucapannya selalu memiliki arti. Ketika aku malas belajar, ia tidak memarahiku, melainkan duduk di sebelahku dan bertanya pelan apa yang membuatku kesulitan. Dari ayah aku belajar pentingnya tanggung jawab—bahwa apa pun yang sudah dimulai harus diselesaikan dengan sungguh-sungguh.

Ibu memiliki cara yang berbeda dalam mendidikku. Ia lebih lembut dan sabar, selalu siap mendengarkan ceritaku sepanjang hari. Ketika aku merasa gagal atau tidak percaya diri, ibu selalu mengingatkanku bahwa setiap orang punya prosesnya masing-masing. Ia mengajarkanku bahwa tidak apa-apa untuk salah, selama aku berani mencoba lagi.

Setiap sore, kami biasanya berkumpul di ruang tamu. Ayah bertanya tentang sekolahku, sementara ibu menyiapkan teh hangat. Momen sederhana itu justru sangat berarti. Di sana aku belajar bahwa perhatian orang tua tidak selalu harus berupa hadiah besar—kadang cukup dengan mendengarkan dan hadir.

Ada masa ketika aku membandel, merasa sudah cukup pintar untuk menentukan semuanya sendiri. Saat itu aku sering bertengkar dengan ibu dan ayah. Namun bukannya menjauhi, mereka justru semakin mendekat dan berusaha memahami apa yang aku rasakan. Dari situ aku sadar bahwa cinta mereka tidak tergantung pada sikapku; mereka tetap di sisiku meski aku sedang sulit diatur.

Semakin dewasa, semakin aku mengerti bahwa semua didikan mereka memiliki tujuan. Ketegasan ayah membentukku menjadi pribadi yang kuat dan tidak mudah menyerah. Kesabaran ibu membuatku lebih peka dan menghargai perasaan orang lain. Keduanya seimbang, seperti dua sayap yang membuatku bisa terbang.

Sekarang, ketika aku menghadapi masalah atau pilihan penting, aku sering mengingat kata-kata mereka. Nilai-nilai yang mereka ajarkan menjadi kompas bagiku. Aku mungkin belum menjadi anak yang sempurna, tetapi aku terus berusaha agar suatu hari nanti bisa membuat mereka bangga—sebagaimana mereka telah membuatku menjadi diriku yang sekarang.

Berita Popular

Advertisement