
Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh memiliki nilai investasi yang lebih besar dibanding proyek jaringan kereta cepat Saudi Land Bridge. Meskipun jarak trayek Whoosh lebih pendek, angka investasinya mencapai USD 7,27 miliar atau sekitar Rp 120,6 triliun. Sementara itu, proyek Saudi Land Bridge yang akan menghubungkan Laut Merah di Jeddah dengan Teluk Arab di Dammam melalui ibu kota Riyadh memiliki panjang hingga 1.500 km dan nilai investasi sebesar USD 7 miliar atau sekitar Rp 116,2 triliun.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Dalam proyek Saudi Land Bridge, waktu perjalanan antara Riyadh dan Jeddah akan berkurang dari 12 jam menjadi kurang dari empat jam hanya dengan menggunakan kereta cepat. Proyek ini juga menjadi bagian dari visi pemerintah Arab Saudi untuk tahun 2030.
Sementara itu, nilai investasi Whoosh mencakup pembengkakan biaya senilai USD 1,2 miliar atau Rp 19,8 triliun. Dengan demikian, PT KAI sebagai ketua konsorsium BUMN dalam proyek tersebut kini memiliki beban utang sebesar Rp 6,9 triliun dari China Bank Development (CDB) untuk pembayaran pembengkakan biaya proyek.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menolak penggunaan APBN untuk membayar utang Whoosh. Alasan utama adalah karena utang tersebut berada di bawah pengelolaan Danantara. Selain itu, sejak Maret 2025, negara tidak lagi menerima setoran dividen BUMN karena dialihkan ke Danantara.
“Saya belum dihubungi. Jika di bawah Danantara, mereka sudah memiliki manajemen sendiri dan memiliki dividen sendiri yang rata-rata bisa mencapai Rp 80 triliun lebih. Mereka seharusnya sudah di situ, jangan sampai kembali ke kita (Kemenkeu),” ujar Purbaya secara daring dalam Media Gathering Kemenkeu di Bogor, Jawa Barat, Minggu (12/10).
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu, Suminto, juga menyatakan bahwa utang tersebut tidak berada di bawah pemerintah karena proyek tersebut dikerjakan oleh PT KAI dan konsorsium BUMN yang diketuai olehnya.
Restrukturisasi utang Whoosh termasuk dalam salah satu dari 22 program kerja strategis yang tercantum dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2025 Danantara. Opsi yang disiapkan Danantara untuk skema restrukturisasi utang KCJB adalah penambahan ekuitas dan penyerahan beberapa infrastruktur KCJB kepada pemerintah untuk nantinya dijadikan sebagai Badan Layanan Umum (BLU).
Komentar
Kirim Komentar