5 Aturan Investasi Warren Buffett yang Wajib Dipelajari Pemula

5 Aturan Investasi Warren Buffett yang Wajib Dipelajari Pemula

Jagat maya sedang ramai membicarakan topik ini. Banyak netizen yang penasaran kebenaran di balik 5 Aturan Investasi Warren Buffett yang Wajib Dipelajari Pemula. Berikut fakta yang berhasil kami kumpulkan.


aiotrade
- Warren Buffett dikenal sebagai salah satu investor paling sukses di dunia. Namun, strategi yang membawanya ke posisi tersebut justru tidak rumit dan jauh dari kesan spekulatif. Buffett membangun kekayaannya dengan pendekatan sederhana yang konsisten diterapkan selama puluhan tahun.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Investor yang dijuluki Oracle of Omaha ini kerap membagikan pandangan investasinya melalui surat tahunan, wawancara, hingga rapat pemegang saham. Di saat industri keuangan menawarkan berbagai produk dan strategi kompleks, Buffett tetap berpegang pada prinsip dasar seperti kesabaran, disiplin, dan pemahaman terhadap bisnis. Pendekatan tersebut menjadi relevan bagi investor pemula yang sering kali dihadapkan pada istilah pasar yang rumit dan rekomendasi yang saling bertentangan.

Berikut lima aturan investasi ala Warren Buffett yang sederhana, mudah dipahami, dan dapat diterapkan tanpa perlu keahlian finansial tingkat lanjut:

1. Investasi pada Bisnis yang Dipahami

Aturan pertama Warren Buffett berbunyi, "jangan pernah berinvestasi pada bisnis yang tidak Anda pahami". Prinsip ini dikenal sebagai circle of competence, yaitu berinvestasi hanya pada bisnis yang benar-benar dimengerti. Aturan tersebut diuji saat gelembung teknologi akhir 1990-an. Ketika banyak investor mengucurkan dana ke perusahaan internet yang belum menghasilkan laba, Warren Buffett menolak membeli saham yang tidak bisa ia nilai. Sikap ini sempat menuai kritik. Namun, setelah gelembung tersebut pecah dan triliunan dollar AS lenyap, Buffett berhasil menjaga modalnya.

Warren Buffett menegaskan, investor tidak perlu gelar MBA untuk mulai berinvestasi. Ia menyarankan memulai dari bisnis dengan produk atau layanan yang digunakan sehari-hari. Jika seseorang tidak dapat menjelaskan bagaimana perusahaan menghasilkan uang atau apa keunggulan kompetitifnya, sebaiknya beralih ke bisnis lain yang lebih jelas. Buffett juga mengakui ada sektor-sektor tertentu yang ia hindari karena tidak dapat dievaluasi dengan baik. Menurutnya, kesuksesan datang dari memaksimalkan pemahaman yang dimiliki, bukan menyebar investasi ke berbagai sektor yang tidak dipahami.

2. Membeli Perusahaan Berkualitas dengan Harga Wajar

Warren Buffett pernah mengatakan, jauh lebih baik membeli perusahaan yang sangat bagus dengan harga yang wajar daripada membeli perusahaan biasa dengan harga yang sangat murah. Pernyataan ini mencerminkan perubahan pendekatannya, dari membeli perusahaan murah berkualitas biasa menjadi perusahaan unggulan dengan valuasi yang masuk akal. Kualitas perusahaan tercermin dari keunggulan kompetitif atau moat, pertumbuhan laba yang konsisten, manajemen yang solid, serta kemampuan menaikkan harga tanpa kehilangan pelanggan. Karakteristik tersebut memberikan perlindungan terhadap inflasi dan tekanan ekonomi.

Investor pemula kerap mengincar saham murah dengan asumsi harga rendah berarti bernilai. Padahal, saham yang diperdagangkan di harga 5 dollar AS tidak otomatis lebih murah dibanding saham seharga 500 dollar AS. Yang menjadi penentu adalah hubungan antara harga saham dengan kemampuan laba, aset, dan prospek perusahaan. Warren Buffett mencari bisnis dengan keunggulan kompetitif berkelanjutan, seperti merek yang dipercaya konsumen, efek jaringan, atau keunggulan biaya yang sulit ditandingi. Coca-Cola, salah satu investasi paling terkenalnya, memiliki kekuatan merek yang melindungi posisi pasarnya selama lebih dari satu abad. Dalam menentukan harga wajar, kesabaran menjadi kunci. Bahkan perusahaan terbaik pun dapat menjadi investasi yang buruk jika dibeli terlalu mahal. Buffett menunggu momen pesimisme pasar atau gangguan sementara untuk membeli perusahaan berkualitas dengan harga yang memberikan ruang imbal hasil besar.

3. Berpikir sebagai Pemilik, Bukan Spekulan

Warren Buffett menegaskan, jika Anda tidak bersedia memiliki sebuah saham selama sepuluh tahun, jangan pernah berpikir untuk memilikinya selama sepuluh menit. Bagi Buffett, membeli saham berarti membeli sebagian kepemilikan bisnis, bukan sekadar berspekulasi atas pergerakan harga. Fluktuasi harga saham jangka pendek tidak mengubah nilai bisnis yang mendasarinya. Perusahaan berkualitas tidak serta-merta menjadi buruk hanya karena harga sahamnya turun 20 persen dalam satu bulan. Pola pikir sebagai pemilik mengalihkan fokus dari pergerakan harga ke fundamental bisnis. Investor menilai pertumbuhan laba, keunggulan kompetitif, dan kebijakan alokasi modal, bukan memantau harga saham secara terus-menerus. Buffett dikenal dengan periode kepemilikan yang panjang. Ia membeli saham Coca-Cola pada 1988 dan masih memilikinya hingga kini. Saham American Express bahkan telah berada dalam portofolionya sejak 1963. Strategi buy and hold ini memungkinkan efek pertumbuhan majemuk bekerja optimal sekaligus menghindari biaya dan pajak akibat transaksi berlebihan.

4. Takut Saat Orang Lain Serakah

Warren Buffett berprinsip, takutlah ketika orang lain serakah, dan berserakahlah ketika orang lain takut. Prinsip kontrarian ini membedakan investor sukses dari mereka yang membeli di harga tinggi dan menjual saat pasar melemah. Ketika pasar berada dalam euforia, harga saham cenderung melampaui nilai wajarnya. Sebaliknya, saat ketakutan mendominasi, banyak perusahaan berkualitas diperdagangkan dengan harga menarik. Warren Buffett membangun sebagian besar kekayaannya dengan berinvestasi agresif saat krisis, ketika investor lain memilih menjual. Pada krisis keuangan 2008, Buffett menanamkan 5 miliar dollar AS di Goldman Sachs serta miliaran dollar AS lainnya di sejumlah perusahaan. Keputusan tersebut terbukti tepat seiring pemulihan pasar. Aturan ini lebih menuntut kendali emosi dibanding kemampuan analisis. Saat portofolio turun tajam dan media memprediksi kehancuran pasar, naluri investor biasanya ingin menjual. Warren Buffett justru melihat situasi tersebut sebagai peluang.

5. Fokus pada Investasi Jangka Panjang

Warren Buffett pernah mengatakan, seseorang bisa duduk di bawah teduhnya hari ini karena ada orang yang menanam pohon sejak lama. Pernyataan ini menegaskan pentingnya kesabaran dan kekuatan pertumbuhan majemuk dalam jangka panjang. Dalam jangka pendek, pergerakan pasar cenderung acak dan volatil. Dalam jangka waktu 20 tahun, perusahaan berkualitas terbukti mampu menciptakan kekayaan secara konsisten. Fokus pada jangka panjang membantu investor mengabaikan berbagai distraksi. Investor tidak perlu memprediksi kinerja kuartalan atau pertumbuhan ekonomi tahun depan. Yang dibutuhkan adalah memilih bisnis yang nilainya akan lebih tinggi dalam 10 hingga 20 tahun mendatang. Efek pertumbuhan majemuk bekerja perlahan, tetapi sangat kuat. Investasi sebesar 10.000 dollar AS dengan pertumbuhan 10 persen per tahun akan menjadi 67.275 dollar AS dalam 20 tahun. Jika dibiarkan selama 40 tahun, nilainya meningkat menjadi 452.593 dollar AS. Waktu menjadi faktor kunci selama investor tidak menghentikan proses tersebut.

Kesimpulan: Bagaimana menurut Anda kejadian ini? Jangan lupa bagikan artikel ini agar teman-teman Anda tidak ketinggalan berita heboh ini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar