
Dari kawasan Solamachi, Sungai Sumida hanya selemparan batu jauhnya. Jika sore tidak terlalu padat, orang bisa berjalan kaki menuju tepian sungai untuk melihat Skytree dari kejauhan — menara itu tampak lebih anggun saat bayangannya jatuh di air.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Siang itu, setelah puas menikmati suasana Disneyland Tokyo, kami menuju ke stasiun Maihama untuk melanjutkan perjalanan ke arah Oshiage. Cuaca sedikit mendung, dan udara masih membawa sisa riuh dari taman hiburan yang baru saja kami tinggalkan. Dari stasiun Maihama, kami naik kereta JR Keiyo Line menuju Hatchobori, lalu berpindah ke Tokyo Metro Hanzomon Line menuju Oshiage (Skytree). Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam, cukup untuk duduk tenang sambil melihat suasana transportasi umum kota Tokyo yang dinamis.
Begitu tiba di Stasiun Oshiage, suasana berubah. Dari bawah tanah, langsung terasa hiruk pikuk Tokyo Skytree Town, kompleks besar yang menaungi mal Tokyo Solamachi, Sumida Aquarium, dan Planetarium Tenku. Di sini, wisata dan sains berpadu rapi — seolah Jepang ingin menunjukkan bahwa hiburan dan pengetahuan bisa berjalan beriringan dalam satu atap. Dalam keharmonian yang tenang tanpa perlu yang satu menonjolkan diri terhadap yang lain.
Kami memutuskan tidak naik ke Tembo Deck atau Tembo Galleria, dua dek observasi di ketinggian 350 dan 450 meter itu. Selain harga tiketnya lumayan, juga antrian cukup panjang kecuali sudah membeli secara daring, kebetulan hari itu cuaca sedikit mendung berawan membuat pemandangan Tokyo tak secerah biasanya. Jadi kami memilih menikmati kawasan bawahnya saja, tempat orang-orang berjalan santai, berfoto, dan sesekali berhenti membeli es krim matcha atau roti melon dari toko-toko di Solamachi.
Kami naik lift menuju lantai atas, ada taman kecil dengan jalan berpaving rapi. Dari sana tampak struktur besar berbentuk kubah perak, setengah bulat seperti tutup logam raksasa. Awalnya saya kira itu bagian dari Skytree — semacam ruangan kontrol atau observatorium tambahan. Tapi setelah melihat papan keterangan, ternyata itu adalah atap Sumida Aquarium.
Bentuknya menarik: separuh bola mengilap, dikelilingi tanaman hijau yang dirawat rapi. Dari sudut tertentu, kubah itu tampak seperti menahan pangkal menara Skytree yang menjulang di atasnya.
Pemandangan ini agak unik — antara laut dan langit, antara dasar dan puncak, bertemu di satu bingkai.
Beberapa orang berfoto di depannya, dan saya ikut berdiri di situ. Di bawah kubah itu sebenarnya ada berbagai ekosistem laut buatan, termasuk replika terumbu karang dari Kepulauan Ogasawara dan area penguin yang cukup terkenal. Jadi bisa dibilang, saya sedang berdiri di atas "laut" sambil menatap "langit" dalam arti sebenarnya.
Di kompleks perbelanjaan Solamachi ini, juga ada Planetarium Tenku milik Konica Minolta. Tempat ini menampilkan pertunjukan langit malam digital 360 derajat, lengkap dengan efek suara lembut dan penciuman aroma terapi. Bedanya dengan planetarium biasa, suasananya dibuat sangat tenang — seolah-olah menatap langit bisa menjadi cara sederhana untuk menenangkan diri dari hiruk pikuk Tokyo. Menariknya, pengunjung sering salah kira: banyak yang mengira kubah perak di luar itu adalah atap planetarium, padahal tidak — itu atap akuarium. Dua-duanya memang sama-sama kubah, satu menyimpan laut, satu menampilkan langit.
Kami berjalan pelan mengitari area itu. Di sebelah taman, terlihat keluarga Jepang duduk menikmati minuman yang dibeli dari vending machine. Beberapa turis muda mengambil foto dari berbagai sudut, berusaha mencari komposisi terbaik antara menara baja dan kubah perak. Awan menggantung rendah, tapi bukan yang menakutkan — lebih seperti awan sore yang ingin istirahat setelah hari panjang.
Menara Tokyo Skytree, dengan tinggi 634 meter, berdiri di depan mata menjulang tinggi ke awan. Struktur baja bersilang itu terlihat ringan dari jauh, tapi ketika berdiri di bawahnya, barulah terasa betapa masif dan presisinya. Dari sudut manapun, menara ini tetap tampak cantik; tidak ada sisi kurang menarik, tidak ada "belakang" bangunan. Sambil memandang ke atas saya ingat lebih 35 tahun lalu. Saya pernah juga berkunjung dan bahkan naik ke menara Tokyo. Kala itu menjadi salah satu ikon ibu kota Jepang.
Kali ini, saya tidak naik ke atas menara atau dek observasinya hari itu. Tidak seperti ketika mampir ke Menara Tokyo, Menara Sapporo dan juga Menara Nagoya. Tidak apa-apa. Ada kalanya, menikmati sesuatu tidak perlu dari puncak. Melihat dari bawah justru memberi perspektif lain — lebih manusiawi, lebih membumi. Sambil berdiri di antara semak hijau yang mengelilingi atap Sumida Aquarium, saya memandangi menara itu dengan rasa yang sulit dijelaskan: antara kagum dan tenang. Tokyo Skytree memang simbol modernitas, tapi anehnya, di bawah menara ini suasananya justru damai.
Menjelang sore, langit mulai berubah warna. Sinar matahari muncul sedikit, menembus sela-sela awan kelabu. Cahaya itu jatuh di badan menara, memantul lembut di permukaan kubah perak di bawahnya. Di sekeliling, orang-orang mulai bergerak menuju stasiun atau toko oleh-oleh. Beberapa anak kecil berlari sambil memegang balon berbentuk panda dari akuarium. Seorang pria tua duduk di bangku taman, menatap menara sambil menyeruput kopi kaleng. Tokyo, dengan segala keteraturannya, tetap menyisakan ruang kecil untuk momen-momen santai seperti ini.
Sebelum pulang, saya menoleh sekali lagi ke arah Skytree. Dari sini, menara itu tampak seperti pena raksasa yang menulis langit, sementara kubah perak di bawahnya menjadi titik koma yang menandai jeda. Barangkali memang begitu: setiap perjalanan punya jedanya sendiri, tempat kita berhenti sejenak sebelum melanjutkan ke bab berikutnya.
Kereta sore menjelang malam membawa kami kembali ke pusat kota. Kali ini tujuannya ke Shibuya. Kebetulan cukup sekali naik metro di Hanzomon line. Suara roda besi berpadu dengan percakapan lembut di gerbong. Di layar kecil di atas pintu, nama-nama stasiun berganti satu per satu: Oshiage, Kinshicho, Kudanshita. Tokyo terus bergerak, dan saya ikut bergerak bersamanya, meninggalkan menara yang menjulang dan laut yang tersembunyi di bawah kubah logamnya. Tidak lama kami pun tiba di Shibuya dan akan menjenguk patung kesayangan yaitu Hachiko.
Sampai di Shibuya saya baru tahu bahwa Sumida sebenarnya nama sebuah sungai yang mengalir di dekat Sky Tree.
Komentar
Kirim Komentar