
Fenomena Johatsu di Jepang: Ketika Orang Memilih Menghilang
\nDi Jepang, terdapat fenomena yang menarik sekaligus menyedihkan yang dikenal dengan nama Johatsu. Istilah ini berasal dari kata "johatsu" yang berarti “penguapan”. Setiap tahunnya, ribuan orang memilih untuk menghilang tanpa jejak, meninggalkan keluarga, rumah, dan identitas lama mereka. Mereka menjadi anonim sambil mencari kehidupan baru.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Fenomena ini sering dipicu oleh tekanan sosial, rasa malu pribadi, atau trauma emosional. Banyak dari mereka merasa terjebak dalam situasi seperti utang yang mencekik, hubungan abusif, atau ekspektasi tinggi dari budaya kerja Jepang. Tujuan utama mereka adalah melarikan diri dari segala bentuk tekanan yang mereka alami.
\nLayanan Khusus untuk Menghilang
\nUntuk membantu seseorang menghilang secara diam-diam, banyak dari mereka menggunakan layanan khusus yang disebut sebagai "pengangkut malam". Layanan ini beroperasi dalam kegelapan dan membantu klien pindah secara sembunyi-sembunyi. Mereka tidak hanya mengemas barang-barang, tetapi juga membantu membentuk identitas baru. Beberapa layanan bahkan memberikan dukungan emosional agar klien dapat memulai hidup baru.
\nBiaya layanan ini berkisar antara 50.000 Yen hingga 300.000 Yen. Meskipun biayanya cukup mahal, bagi sebagian orang, ini menjadi investasi untuk memperoleh kebebasan dan kesempatan baru.
\nPengalaman Pribadi dari Seorang Johatsu
\nSugimoto (42) adalah salah satu contoh orang yang memutuskan menjadi Johatsu. Ia merasa lelah dengan hubungan antarmanusia dan akhirnya memutuskan untuk menghilang. Di kotanya, semua orang mengenalnya karena keluarganya memiliki bisnis lokal yang terkenal. Namun, tekanan untuk melanjutkan bisnis itu membuatnya tertekan. Akhirnya, ia meninggalkan kotanya tanpa memberitahu siapa pun.
\nSho Hatori, pendiri layanan bantuan Johatsu pada tahun 1990-an, menjelaskan bahwa alasan seseorang memilih menjadi Johatsu sangat beragam. Ada yang karena alasan positif, seperti masuk universitas atau mendapatkan pekerjaan baru. Namun, ada juga alasan sedih, seperti putus kuliah, kehilangan pekerjaan, atau melarikan diri dari penguntit.
\nKeterlibatan Polisi dan Kesulitan Keluarga
\nMenurut sosiolog Hiroki Nakamori, istilah Johatsu pertama kali menarik perhatian pada tahun 1960-an. Jepang memberikan hak dan penghargaan terhadap privasi pribadi seseorang, ditambah dengan intervensi polisi yang terbatas dalam kasus penghilangan non-kriminal, memungkinkan orang-orang untuk menghilang dengan mudah.
\nNamun, bagi keluarga yang ditinggalkan, pengalaman tersebut sangat menghancurkan. Polisi tidak bisa menyelidiki orang hilang kecuali jika ada dugaan tindak kejahatan. Ini membuat keluarga sering kali terpaksa menyewa detektif swasta yang mahal. Jika tidak mampu, mereka hanya bisa menunggu dengan putus asa.
\nKehidupan Baru yang Penuh Tantangan
\nBanyak Johatsu memilih untuk mengasingkan diri ke kota-kota kecil, mengambil pekerjaan yang kurang dikenal, dan hidup tanpa sorotan. Mereka menghindari jejak digital dan CCTV, menciptakan kehidupan baru. Beberapa dari mereka menemukan kelegaan dan kebebasan, sementara yang lainnya masih berjuang melawan kesepian, ketakutan, dan stigma atas keputusan mereka.
\nJurnalis Perancis, Lena Mauger, memperkirakan hampir 100.000 orang menghilang di Jepang setiap tahun. Banyak dari mereka berjuang melawan depresi, kecanduan, atau rasa malu yang mendalam akibat perceraian dan kebangkrutan.
\nPenutup
\nJohatsu menawarkan gambaran yang meresahkan tentang sisi gelap masyarakat Jepang, di mana penindasan emosional, kehormatan, dan rasa malu dapat mendorong orang untuk menghapus diri mereka sepenuhnya. Ini adalah pengingat bahwa di balik permukaan masyarakat yang teratur, orang-orang mungkin diam-diam runtuh di bawah beban harapan.
\nBagi mereka yang menghilang, Johatsu bukan sekadar pelarian, melainkan "kelahiran" kembali. Namun, ada harga yang harus dibayar, yakni kehidupan yang terisolasi, penuh kerahasiaan, dan risiko yang selalu ada untuk ditemukan.
Komentar
Kirim Komentar