Profil Rahmah el-Yunusiah: Seorang Ulama Perempuan yang Menginspirasi Dunia
Rahmah el-Yunusiah adalah sosok yang sangat berpengaruh dalam sejarah Indonesia, terutama dalam upaya memajukan pendidikan bagi perempuan. Ia lahir di Padang Panjang, Sumatra Barat, pada 20 Desember 1900. Dikenal sebagai Muslimah pertama abad ke-20 yang menyuarakan emansipasi kaum hawa di Tanah Air, Rahmah el-Yunusiah dianugerahi gelar pahlawan nasional pada Senin (10/1/2026) ini.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Dalam buku Tentang Perempuan Islam, Wacana dan Gerakan, nama tokoh Minangkabau itu mengemuka karena pemikiran dan kiprahnya di dunia pendidikan modern. Ia berasal dari keluarga terhormat. Ayahnya adalah Muhammad Yunus bin Imanuddin, sedangkan ibunya adalah Rafiah. Dari garis ibu, keturunannya berhulu di nagari IV Angkat, Bukittinggi.
Pendirian Madrasah Diniyah lil Banat
Salah satu kontribusi besar Rahmah el-Yunusiah adalah pendirian Madrasah Diniyah lil Banat (Diniyah Putri) di kota kelahirannya. Lembaga ini merupakan sekolah agama Islam pertama khusus untuk Muslimah di Indonesia. Bagi perempuan yang lahir pada 20 Desember 1900 itu, pendidikan merupakan kunci emansipasi. Dengan begitu, sekolah Diniyah Putri sejak awal dirancang untuk mewujudkan peningkatan derajat kaum perempuan di tengah masyarakat, khususnya umat Islam.
Di awal abad ke-20, Nusantara mengalami "demam" modernisme. Semangat kemajuan menjalar terutama dari kota-kota penting di Indonesia. Kaum terpelajar gemar mengkaji pemikiran-pemikiran di luar konvensi tradisi generasi tua. Di Sumatra, Ranah Minang mengambil peran penting karena daerah ini memiliki jumlah kaum terdidik dan pedagang yang cukup signifikan.
Kiprah dalam Pendidikan dan Dakwah
Rahmah el-Yunusiah tidak berupaya memperhadapkan kaum adam dan kaum hawa, melainkan menyelaraskan kemajuan keduanya dalam dakwah Islam. Kegigihannya menggema hingga ke Jawa. Bagi Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, perempuan tersebut terbilang istimewa. Sebab, Diniyah Putri Padang Panjang terbentuk atas inisiatif pribadi Rahmah, bukan kelompok organisasi tertentu.
Mendirikan sekolah khusus perempuan adalah cita-citanya sedari kecil. Awalnya, Rahmah menyampaikan maksudnya itu kepada sang kakak, Zainuddin Labai el-Yunusiy. Sebab, dia merasa tergugah lantaran kakak lelakinya itu ikut merintis sekolah yang terbilang maju di Minang, Sumatra Thawalib. Ternyata, Zainuddin mendukung keinginan adiknya itu. Rahmah kemudian mengajak kawan-kawannya di persatuan murid Diniyah School. Maka pada 1 November 1923, Diniyah Putri Padang Panjang terbentuk dengan diketuai Rahmah el-Yunusiah.
Perjuangan dan Dedikasi
Pada awalnya, Diniyah Putri hanya memiliki murid 71 orang. Mereka adalah perempuan yang belum lama menikah atau memiliki anak-anak masih balita. Hingga akhir masa hidupnya, Zainuddin terus mendukung kelangsungan Diniyah Putri dan membesarkan hati Rahmah, adiknya.
Saat itu, aktivitas pengajaran masih terpusat di Masjid Pasar Usang, Padang Panjang. Dua tahun kemudian, Rahmah berinisiatif membangun gedung baru untuk Diniyah Putri. Rencana ini sempat terkendala musibah gempa bumi yang mengguncang Sumatra Barat pada 28 Juni 1926. Namun, semangat Rahmah tidak kenal surut.
Hanya berselang sekitar satu bulan kemudian, Rahmah memulai pembangunan kembali asrama Diniyah Putri, kali ini di atas tanah wakaf milik ibundanya, Ummi Rafiah.


Komentar
Kirim Komentar