Lorong Harapan di Fushimi Inari

Lorong Harapan di Fushimi Inari

Jagat maya sedang ramai membicarakan topik ini. Banyak netizen yang ingin tahu kebenaran di balik Lorong Harapan di Fushimi Inari. Berikut fakta yang berhasil kami kumpulkan.

Perjalanan dari Osaka ke Kyoto dan Nara


Hari ini, kami memulai perjalanan dari apartemen di Kikawahigashi. Dengan menggunakan taksi daring, kami menuju Stasiun Shin-Osaka, yang merupakan pusat transportasi utama di Kansai. Rute hari ini lebih panjang, yaitu menuju Kyoto dan Nara.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Shin-Osaka selalu terasa seperti gerbang masa depan. Megah, modern, dan sibuk. Meskipun dikenal sebagai stasiun Shinkansen, bagi wisatawan yang ingin menghemat biaya, jaringan JR lokal sering menjadi pilihan yang lebih masuk akal. Biasanya saya yang menentukan rute dan kereta, tetapi hari ini anak saya mengambil alih peran sebagai tour leader. Saya hanya ikut saja—ternyata nyaman juga, sesekali melakukan cross check agar tidak salah arah.

Kami masuk ke area stasiun, melewati penunjuk lantai yang rapi. Bahkan cara masuk dengan berbagai jenis tiket, termasuk IC Card, ditandai jelas di lantai. Kami menuju gate JR, men-tap kartu ICOCA dan PASMO, lalu masuk ke dunia perkeretaapian Jepang yang efisien dan nyaris tanpa cela.

Tujuan pertama kami adalah Kyoto, menggunakan JR Kyoto Line dengan layanan Rapid Service (Kaisoku). Pilihan yang pas: tidak secepat Special Rapid, tetapi juga tidak berhenti di setiap stasiun seperti kereta lokal. Begitu kereta melaju, pemandangan Osaka perlahan berganti wajah—gedung-gedung tinggi perlahan menghilang, digantikan kawasan pinggiran yang lebih tenang. Dalam sekitar 35–40 menit, kami tiba di Stasiun Kyoto.

Kyoto menyambut dengan ritme yang berbeda. Tidak sesibuk Shin-Osaka, tetapi tetap ramai. Petunjuk arah sangat jelas. Kami hanya perlu mencari peron 8–10, tempat JR Nara Line berangkat. Di sinilah detail kecil menjadi penting: hanya kereta lokal (Futsu) yang berhenti di Stasiun Inari. Kereta cepat Miyakoji Rapid kami biarkan melintas. Tak lama kemudian, kereta lokal datang.

Gerbong cukup padat oleh wisatawan asing, tetapi kami masih mendapatkan tempat duduk. Rel membawa kami menembus Kyoto bagian selatan—rumah-rumah khas pedesaan Jepang, pepohonan, dan kehidupan harian yang terasa lebih sederhana dibanding Osaka atau Tokyo. Stasiun Inari hanya satu perhentian, sekitar lima menit perjalanan. Begitu pintu terbuka, hampir semua penumpang turun.

Tidak ada kebingungan. Tidak ada tanya. Hanya mengikuti arus. Keluar stasiun, men-tap kartu di alat sederhana yang dijaga petugas—bahkan tanpa pintu dengan turun style. Jika saldo kartu kurang, mesin pengisian tersedia di sisi stasiun kecil ini.

Begitu melangkah keluar, Fushimi Inari Taisha berdiri tepat di seberang jalan. Tidak ada jarak psikologis antara transportasi modern dan ruang sakral. Keduanya bertemu begitu saja.

Udara Kyoto sejuk dan bersih. Napas mengepul tipis. Di depan kami, Gerbang Torii raksasa berwarna vermilion menjulang gagah di bawah langit berawan. Keramaian terasa—bukan hiruk pikuk kota, melainkan antusiasme para peziarah dan wisatawan.

Di salah satu sudut, perhatian saya tertarik pada patung rubah (kitsune) berwarna hitam legam yang berbaring anggun di atas pembatas. Kitsune adalah utusan Dewa Inari. Sinar matahari pagi menyentuh ujung moncongnya, memberi kesan misterius sekaligus hangat. Di belakangnya, tembok kuil tradisional dan pepohonan yang rantingnya masih gundul—pertanda akhir gugur atau awal musim dingin.

Sebelum masuk lebih jauh, sebuah papan bertuliskan empat bahasa mengingatkan:

"Fushimi Inari Taisha is a place of prayer. Let's pray in peace and quiet."

Kami menunduk sejenak, membiarkan diri ikut pada kesunyian yang diminta.

Di pelataran, bangunan-bangunan kuil berwarna merah-oranye berdiri anggun, dijaga patung-patung kitsune. Sebelum melangkah lebih jauh, kami berhenti di temizuya—tempat berwudhu versi Jepang. Air jernih mengalir dari mulut patung rubah batu. Tangan dibasuh, mulut dibilas dengan hati-hati. Bukan sekadar membersihkan tubuh, tetapi menenangkan pikiran. Kota, kereta, dan waktu modern seolah ditinggalkan di sini.

Fushimi Inari Taisha telah berdiri sejak abad ke-8, didedikasikan kepada Inari kami, dewa padi, kemakmuran, dan keberuntungan. Di masa lalu, padi adalah kehidupan. Kini, padi berganti rupa menjadi usaha, perdagangan, dan perusahaan—tetapi doa tetap sama.

Itulah sebabnya ribuan torii merah berdiri berderet. Setiap gerbang adalah sumbangan. Setiap nama yang terukir adalah harapan.

Kami melihat peta besar dari kayu—jalur pendakian ke Gunung Inari dengan simbol torii yang berderet seperti terowongan tak berujung.

Kami mulai melangkah. Begitu memasuki Senbon Torii, suasana berubah drastis. Warna vermilion menelan pandangan. Cahaya matahari hanya menyelinap dari celah sempit, menciptakan cahaya temaram yang nyaris mistis. Huruf kanji hitam terukir di setiap tiang—nama, tanggal, dan doa. Lorong ini bukan sekadar jalur pendakian, melainkan arsip kolektif harapan manusia.

Langkah demi langkah, napas mulai terasa lebih berat. Tidak sampai puncak—hanya setengah perjalanan. Kaki memberi isyarat halus bahwa hari masih panjang.

Di Fushimi Inari, berhenti di tengah jalan bukan kegagalan. Justru di situlah pelajaran kecil itu datang: tidak semua ziarah harus sampai puncak. Kadang, cukup sampai sejauh tubuh dan hati sepakat.

Kami berbalik arah. Menuruni lorong torii terasa lebih ringan. Cahaya tampak lebih terang. Suara manusia kembali hadir.

Di depan gerbang utama, kami berhenti sejenak. Berfoto terakhir. Istri saya berdiri dengan mukena merah mudanya yang kontras indah dengan torii oranye. Saya di sampingnya, jaket putih, di tengah arus wisatawan yang terus mengalir. Dalam bingkai itu, hanya ada kami—dan perjalanan yang barusan kami lalui.

Stasiun Inari kembali menjadi gerbang pulang. JR Nara Line menunggu. Kyoto kami tinggalkan tanpa rasa bersalah. Ia sudah memberi cukup: air suci, lorong torii, dan pelajaran tentang kapan harus berhenti.

Kesimpulan: Bagaimana menurut Anda kejadian ini? Jangan lupa share artikel ini agar teman-teman Anda tidak ketinggalan berita heboh ini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar